Senin, 21 Oktober 2019

DAHSYATNYA MENYEBUT NAMA ANAK DALAM DOA


Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait pernah menulis di Twitter, tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang.
Isi twitternya sebagai berikut :
*"Wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepada Nya bahwa engkau ridha atas mereka masing-masing.*
Begini doanya :
 اَللّٰهُمُّ اِنِّی اُشْهِدُكَ اَنِّی رَاضِيَۃٌ عَنْ اِبْنِی/اِبْنَتِی....تَمَامَ الرِّضَی وَكَمَالَ الرِّضَی وَمُنْتَهَی الرِّضَی فَاللّٰهُمَّ اَنْزِلْ رِضْوَانَكَ عَلَيْهِمْ بِرِضَائ عَنْهُمْ
_*(Ya allah aku bersaksi kepadaMu bahwa aku ridha kepada anak-anakku (sebutkan nama mereka, satu persatu) dengan ridha paripurna, ridha yang sempurna dan ridha yang paling komplit. Maka turunkanlah Yaa Allah keridhaanMu kepada mereka demi ridhaku kepada mereka).*_

*TESTIMONI PARA IBU YG MENDOAKAN ANAK..*

Seorang ibu yang mendoakan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun. Maka bercerita...
Sejak kelahiran anakku itu aku hidup dalam penderitaan karenanya.
Dia tak pernah shalat dan bahkan jarang mandi , dia sering berdebat panjang denganku, dan tak jarang dia membentakku dan tak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya.

Maka ketika membaca twittermu aku berkata :
"Mungkinkah omongan ini benar? Tampaknya masuk akal? Dan seterusnya...."
Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba mendoakan.

Lalu...
Setelah seminggu mulai nada suara putraku kepadaku melunak, dan pertama kali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian.
Dan kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya.
Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu...

Dia membukakan pintu untukku dan menyapaku _"Apa kabar ibu?"_ dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu.
Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya sama sekali.
4 jam kemudian aku menelponnya di ponselnya, dan ia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya : _"Bu, aku disamping masjid dan aku baru akan shalat waktu ibu menelponku._

Maka akupun tak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin ia yang tak pernah shalat bisa mulai shalat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar?
Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai shalat?
Jawabnya, Aku sendiri tak tahu Bu, waktu aku didekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk shalat."

Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat, dan anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku.
Tak pernah aku mengalami kebahagiaan seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.
*Doa Ibu itu ampuh*

Karena beratnya kehidupan sehari-hari seringkali seorang ibu melupakan doa untuk anak-anaknya.
Sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya.
Padahal justru doa Ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anak-anaknya di dunia dan akhirat.

Jangan pernah bilang: _"Ah anakku masih kecil, ngapain didoakan?"_
Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka.
Allah telah mengkaruniai para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak kita dalam hubungan mereka dengan Allah melalui doa-doa kita untuk mereka.
Ya, Kita bisa melakukannya kapanpun kita mau, dan kita bisa mengetuk pintuNya kapanpun kita mau dan Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur

Minggu, 20 Oktober 2019

BAGAIMANA TIPS MENCARI IDE SAAT MENTOK MENULIS?

Sahabat...
Banyak orang-orang merasakan hal seperti ini...
Bingung , mau nulis apa??
Setelah menulis kok tidak sesuai judul??
Sudah ditulis hapus lagi hapus lagi??
Sudah Mau Nulis tiba-tiba berhenti lagi??

Padahal menulis itu adalah sesuatu yang menyenangkan ketika kita mampu menulis untuk kebahagiaan orang lain.

Ketika seseorang bisa merasakan  dan seseorang mendapatkan manfaatnya itu sangat-sangat menyenangkan

Dan bahkan ada lho yang bisa menghasilkan Rezeki dari karya tulisnya.

Sebenarnya banyak manfaat lain ketika kita mahir menulis...
Seakan akan kita berfikir gimana iya carannya, Supaya Bisa menulis, Menikmati saat menulis bisa Mengalir dan menginspirasi tulisan kita ini ke pada orang banyak... iya kan.

Ternyata masih banyak juga orang yang bingung mau nulis apa dan bagaimana caranya "MENTOK SAAT MENULIS "

Mungkin saja Anda juga pernah merasakan?

Karena itulah
tulisan ini hadir untuk mereka yang merasakan kementokan dalam menulis.

Semoga bermanfaat..

3 Tips + tambahan ketika mentok menulis

Semoga 3 Tips ini benar-benar bisa bermanfaat untuk Anda referensikan.

*Tips pertama*
Sebelum menulis pastikan memiliki tujuan yang jelas, sebenarnya mau menulis topik tentang apa sih??

Seperti tulisan ini topiknya adalah berbagi tips hehehehe

*Tips kedua*
Saat menulis pastikan Anda seperti berbicara dengan teman dekat Anda

Seperti tulisan ini, 
terasa kan??
Padahal yang menulis mungkin sekarang ada kegiatan lain.

*Tips ketiga*,
Pastikan setelah menulis sang pembaca mendapatkan sesuatu dari Anda Dan Seseorang betah berlama-lama menanti tulisan Anda.

Tips tambahan...

Guru saya pernah mengatakan,
Ketika kita menulis dan merasakan mentok,
Cek lagi hati kita. Pastikan dalam keadaan yang tenang.
Sering-sering membaca artikel-artikel positif dan berusaha berfikir positif dalam setiap keadaan.

Kalau masih mentok juga bagaimana mas? ?

Jurus terakhir...

Coba deh ingat lagi pencipta kita,

Ambil air wudhu Laksanakan Sholat lalu buka Al-Qur'an:

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 28)

Mudah-mudahan ketika kita ingat Allah swt, hati kita menjadi tenang dan saat baca Al-Qur'an Allah berikan Ilham dari setiap kehidupan.

Bukankah tujuan setiap orang mencari ketenangan jiwa??

Renungkanlah...
Terkadang, saat kita terlalu fokus dengan Duniawi kita lupa dengan yang maha memberi.

Mungkin saja ALLAH SWT sedang menegur kita.

Supaya kita jangan memikirkan dunia saja.
Sehingga menggugurkan kewajiban yang sesungguhnya.

(Terutama pengingat yang menulis juga )

Sambil direnungkan dan menantikan ilmu selanjutnya boleh share ke kerabat lain ya.
Barangkali mereka sekarang lagi membutuhkan tips seperti ini.

Semoga bermanfaat

Sabtu, 19 Oktober 2019

JIKA TERTIMPA MASALAH BERKACALAH PADA NABI AYUB ALAIHI SALAM


MASALAH, merupakan salah satu kata yang sering menghinggap di hati manusia. seiring dengan terjalaninya kehidupan didunia ini, maka mau tak mau, seorang akan mendapatkan hadiah berupa masalah tersebut.

Sulitnya mencari pekerjaan, melanjutkan pendidikan, dan menyambung hidup, serta berat dalam menentukan pilihan adalah sebuah contoh yang nyata yang dialami oleh anak adam di dalam kehidupannya.

Ketika mencari solusi suatu problem, terkadang banyak orang yang lupa dengan cara apa dan bagaimana dia mengatasi keadaan susah yang menimpa kepadanya. Kehidupan malam, menenggak minuman keras, menghisap narkoba, meminum baigon, bunuh diri merupakan contoh-contoh yang salah dalam menghadapi masalah yang ada. entah karena memang sudah tidak lagi mendapat jalan keluar, sehingga menganggap dirinya telah terjebak didalam sebuah labirin yang hanya berisi jalan-jalan kebuntuan.

Tetapi, patutkah penyelesaian masalah dengan cara hina tersebut dilakukan oleh seorang muslim?? Yang notabene, merupakan seorang yang selalu mengikrarkan kepada Tuhan setiap kali shalat bahwa “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Jika memang masih ngotot untuk mengatakan, bahwa hal tersebut adalah patut dalam menyelesaikan berbagai masalah, maka secara tidak langsung, jiwa-jiwa tersebut seakan tidak menganggap lagi tentang adanya Allah Ta’ala yang menjadi tempat bargantung bagi segenap manusia.

Hal ini berbeda dengan muslim yang memahami dan meresapi surah al-fatihah diatas, dimana ketika masalah menghinggapi dirinya dan sukar untuk diselesaikan, maka langkah pertama dan terakhir yang ditempuh adalah, dengan bermunajat dan meminta petunjuk dari Allah sang Maha Kuasa. Manusia tidak tahu takdirnya seperti apa. jodoh, rizki, mati semua itu sudah ditulis 50.000 ribu tahun sebelum penciptaan manusia di lauh mahfudz. yang hanya dilakukan oleh manusia adalah, meyakini bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi kapasitas kesanggupan hamba-Nya. seperi janji Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 286;
“Allah tidak akan membebani suatu jiwa melainkan dengan batas kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Kalaupun menganggap masalah kita adalah masalah yang sangat berat dan tidak ada jalan keluarnya, maka berkacalah kepada sikap Nabi terdahulu, seperti Nabi Ayub, dimana Allah memberi ujian beliau dengan penyakit kulit yang sangatlah parah sehingga orang-orang menjauhinya,disebabkan bau busuk yang keluar dari lukanya, lalu di tambah dengan wafatnya seluruh anak-anaknya, habisnya harta kekayaan yang dimiliki, serta istri yang harusnya membersamai dia baik suka maupun duka lalai dalam mengemban amanah.

 Ketika menghadapi permasalahan hebat tiada tara seperti itu, apakah nabi ayub mengatasinya dengan minuman keras agar jiwanya tenang, atau menyayat nadinya agar masalah bisa hilang katika dia wafat? Tentu, bagi orang-orang yang beriman, tidak akan sekali-kali melakukan penyelesaian tak bernurani tersebut.
Ketaqwaan, kesabaran, dan do’a adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi ayub dalam menghadapi ujian dan masalah yang menerpa dirinya. Allah Ta’ala mengisahkan di dalam Al-Qur’an;
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya. ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang. maka Kami (Allah) pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

Setelah mengetahui tentang keteguhan Nabi Ayub dalam mengatasi masalah berat yang ada padanya, dan senantiasa yakin bahwasa Allah pasti selalu ada untuk hamba-Nya, masihkah jiwa kita terombang-ambing oleh nafsu hina yang ditimbulkan dari syaithan untuk menjerumuskan manusia kepada jalan-jalan yang salah? sudah barang tentu, sebuah nasehat teruntuk saudara seiman. Bahwa yakinlah, ketika masalah besar sedang datang menghinggap, bersabar dan berdo’alah kepada Allah Ta’ala agar kita dapat diberi petunjuk oleh-Nya. jangan terpengaruh oleh ungkapan bahwa sabar hanya mudah diucapkan oleh kata-kata, tapi yakinlah dengan sebenar-benar keyakinan, bahwa dengan sabar, Allah akan memberikan jalan petunjuk kepada hamba-Nya, kalaupun memang sabar dianggap sesutu yang berat, maka dari beratnya itulah Allah akan mengetahui tentang seberapa besar keyakinan dan keimanan yang dimiliki oleh manusia yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat didalam hati, lidah, dan perbuatannya.

Tidak ada kata tidak mungkin bagi manusia dalam mengatasi masalah. karena Allah selalu ada untuk kita. ketika kita mengingat Allah, maka Allah pasti akan mengingat kita. tetapi sebaliknya, jika kita melupakan Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji.

Moga manfaat.

RABUN MEMBACA LUMPUH MENULIS

Menulis adalah proses yang berlangsung terus menerus untuk menuangkan ide dari proses berpikir.  Untuk dapat menulis tentunya membutuhkan proses belajar yang sabar dan komitmen untuk terus menerus mau menulis. Ide menulis bisa didapatkan dari mana saja kapan saja dan dimana saja pada proses perjalanan hidup kita.
Setiap ide yang muncul segeralah untuk menulis dan biasakan untuk menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Teruslah menulis, karena dengan menulis Anda akan melatih otak, mata, dan bibir Anda agar bersinergi dengan kedua tangan Anda. Bila otak, mata, bibir, dan tangan sudah menyatu, maka akan terlahirlah tulisan yang bermutu.
Tulisan yang bermutu akan menarik hati setiap orang yang membacanya. Jika kita mampu menulis setiap hari sehalaman (selembar), maka sebulan kita akan menghasilkan 30 halaman dan akan menjadi buku dalam setahun. Tentunya buku yang berkualitas. Penyakit yang harus dihilangkan adalah rasa malas menulis dan membaca.  Membaca dan menulislah setiap hari dengan hati sebelum tidur dan buktikan apa yang akan terjadi.

Menulis terasa renyah maksudnya tulisan kita mudah dipahami oleh pembaca dan mereka membaca dengan lahap bahkan kecanduan. Bagi penulis pun, ada semangat atau gairah dalam diri kita untuk menyelesaikan tulisan.
Tulisan renyah kita dapatkan setelah melakukan proses deep reading, yaitu sebuah proses di mana penu­lis melakukan proses membaca secara mendalam. Hal ini membutuhkan kreativitas menulis agar tulisan menjadi renyah dan enak dibaca. Kemudian menggiring pembaca untuk dapat me­nangkap pesan yang disampaikan oleh penulisnya.
Ciri tulisannya langsung sampai ke otak pembaca, penuh makna dan merasuk ke dalam jiwa. Hal ini dibutuhkan latihan terus-menerus dengan cara menulis setiap hari supaya secara refleks otak kita mampu menemukan kata kata indah yang membuat pembaca merasakan pesan penting yang disampaikan pe­nulisnya.
Ketika menulis terasa renyah, akan membuat penulis dan pembaca merasa puas melahap habis apa yang dituliskan. Tak perlu terlalu panjang, tapi dalam maknanya. Menulislah dengan hati dan menebarkan kebaikan dari menulis tersebut.

Menulis adalah menulis. Menulis merupakan sebuah aktivitas yang melibatkan aktivitas tangan dengan menuangkan ide pikiran dari kepala, serta melibatkan juga perasaan hati.

Banyak kalangan ulama dan penulis-penulis ulung menyampaikan hakikat dari aktivitas mencatat atau menulis ini. Misal, Ibnu Katsir dalam sebuah atsar-nya, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Kemudian pula, pesan Imam Syafi’i rahimahuLlah yang menilai orang:  tidak mau mencatat ilmu yang didengar seperti pemburu yang tidak mengikat hasil buruannya.

Bahkan di kalangan sahabat RasuluLlah pun, aktivitas menulis begitu dihormati, ini yang dikatakan oleh seseorang yang digelari gurunya para huffazh hadits; yakni Abu Hurairah. Kata beliau yang mengomentari kebiasan Abdullah bin Amr bin Al-Ash.“Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits RasuluLlah ShallaLlaahu ‘Alaihi Wasallam, kecuali dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan RasuluLlaah ShallaLlahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja.”

Dari kalangan ulama kontemporer, Syeikh Yusuf Al-Qaradawi mengatakan, “Jika dulu Islam itu dimenangkan dengan pedang, maka sekarang kita jaya dengan pena”.           

Bahkan dari segi kesehatan, tulisan yang tertuang di atas kertas dari pikiran-pikiran terlintas dalam benak kita yang menjadi catatan kelak akan bermanfaat, bahkan bisa membantu meringankan beban pikiran otak. Tidak terlalu stres, Sehingga manfaatnya bisa bikin awet muda.

Dari kalangan penulis ulung zaman sekarang, Ustadz Salim A. Fillah, mengutip dari tulisan beliau dalam sebuah artikel, “Menulis bukanlah bermain kata-kata. Kehausan pada ilmulah yang membuat tiap goresan pena jadi bermakna.”

Menulis juga salah satu media dakwah bagi manusia dan ilmu Allah yang terbentang luas itu tersimpan untuk kemudian dijadikan pembelajaran bagi manusia. Maka, menulislah! Akan kau temukan luasnya ilmu; dengan menulis akan kau rasakan kokohnya ilmu; dengan menulis kau akan rasakan nikmatnya berbagi; dengan menulis kau dapati dirimu sebagai pelaku sejarah.

Jadi, sudah siap menulis? Siap berbagi kebaikan? Siap menjadi pelaku sejarah? Kalau belum siap, siapkan diri untuk mengambil manfaat dari menulis ini. Menjadi pelaku sejarah, serta akan kau temukan hal yang berbeda.

Yaa Rabbi, tambahkanlah ilmu dan kepahaman kepada kami.

Berbahasa (menyimak, berbicara,membaca dan menulis), keterampilan menulis lah yang dianggap sebagai keterampilan berbahasa tertinggi, dan oleh karenanya dianggap paling sulit dan perlu mendapat perhatian lebih dalam melatihnya. Gagasan ini sangat bermakna, karena keterampilan menulis tentunya harus diiringi dengan beberapa keterampilan lain dalam upaya menggali dan mengoleksi informasi.
Benarkah demikian? Yah, sebelum menulis lazimnya didahului dengan menyimak, membaca dan bisa jadi mengamati serta kontemplasi. Saat itulah timbul inspirasi dan ide untuk menuliskannya. Banyak orang merasa bingung, untuk memulai menulis. Padahal dalam benaknya berisi gagasan dan konsep brilian, namun lagi-lagi sulit untuk menggoreskan pena dan menuangkan dalam untaian kata-kata. Inilah problem besar yang dirasakan, terutama bagi seseorang yang baru mengenal literasi, terutama keterampilan menulis.

Ternyata perintah menulis banyak tertuang di dalam Al-Qur'an. Ini satu indikator, bahwa menulis sangat urgen menurut Allah SWT yang harus diambil hikmahnya oleh kita semua sebagai khalifah fil ardi.
Di sisi lain, dengan menulis akan menjadi insan merdeka. Mengapa? Karena dengan kita menulis tentunya memiliki jiwa merdeka. Merdeka dalam arti, bebas untuk menyampaikan ide, tentunya yang mampu menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Bahkan menurut Kang Catur Nurrohman Penulis dari Bogor bahwa dengan menulis bisa "mengantarkan Tiket ke Surga". Coba bayangkan, andai dua, tiga bahkan jutaan orang setelah membaca tulisan Anda kemudian mereka bergerak menuju kebaikan maka Anda memiliki Andil besar terhadap kebaikan tersebut. Sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW: "Siapa orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya...". (HR. Muslim)
Subhanallah, luar biasa bukan? Juga dengan menulis, Anda termasuk orang yang bermanfaat bagi insan sekitar bahkan dunia. Maukah dicatat menjadi insan bermanfaat? Menulislah. Sekali lagi menulislah.
Minimal dua reward bagi orang yang menulis, yaitu menjadi insan berjiwa merdeka dan bermanfaat bagi sesama sangat dibutuhkan di era yang penuh kompetisi ini. Karena dengan menulis, semua ide yang melekat di benak akan ditularkan dan dikomunikasikan pada dunia. Anda bisa menulis tentang kondisi negara tercinta, ranah agama bahkan menulis tentang kondisi manca negara dengan pelbagai problematikanya. Semuanya bisa dengan menulis.

Bekasi, 19 Oktober 2018

Alfaqir
Ma'mun Zahrudin ( MZ )

Jumat, 18 Oktober 2019

KAUM MUSLIMIN HENDAKNYA PEDULI TERHADAP PENULISAN SEJARAH


Kalau kita tak peduli penulisan sejarah, maka generasi kita akan menjadi korban sejarah yang tereduksi.

sahabat, banyak sekali manuskrip sejarah yang saya baca ternyata malah bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya.

Penulisan sejarah banyak dilakukan dengan memberikan bumbu "ideologi" tertentu sehingga terkesan jauh dari kebenaran atau objektifitas.

Sebagai contoh banyak yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah abad ke 13.

Padahal seperti yang dikatakan oleh KRH Abdullah Bin Nuh yang menyebutkan bahwa islam datang ke Indonesia adalah abad ke  7 dengan bukti yang luar biasa.

Ini menunjukan bahwa ada ketidak objektifan yang sungguh merugikan bagi dunia akademisi islam.

Ada juga sejarawan yang mengatakan bahwa Islam datang keindonesia dengan mengusik atau membuat gundah  karena membuat perpecahan politik.

Kedatangan islam dalam perspektif sejarah yang ditulis orientalis, membuat akar akar radikalisme dalam perspektif sejarah keindonesiaan.

Banyak sekali para penulis sejarah barat yang menuliskan bahwa zaman keemasan di indonesia klasik selalu dikaitkan dengan kerajaan hindu dan budha. Sementara kerajaan Islam di Indonesia selalu dideskreditkan.

Penulisan sejarah keindonesiaan selalu berat sebelah. Kebangkitan Islam awal tidaklah dikaitkan dengan tokoh tokoh Islam tapi malah tokoh tokoh yang berhaluan nasionalis yang pro terhadap penjajah.

Perjuangan ulama dan santri dalam membebaskan indonesia di awal awal tidak pernah diekpose. Padahal ulama dan santrilah yang menggerakan ide ide melawan penjajah.

Penulisan tentang pelopor indonesia merdeka tidak dikaitkan dengan organisasi islam. Padahal pelopor istilah indonesia atau "indonesia merdeka" diperkenalkan oleh Nasional Congres Central Sarekat Islam dalam tulisan Cokro Aminoto Zelf Bestuur 1916. Orang orang memperkenalkan bahwa penulisan sejarah pelopor kemerdekaan dipelopori oleh soekarno lewat PNI tahun 1929.

Bolehlah dikatakan bahwa sejarah banyak yang diputarbalikkan, kebangkitan nasional selalu dikaitkan dengan Boedi Oetomo, bahkan 20 mei sebagai hari pendirian Boedi Oetomo resmi dijadikan hari kebangkitan nasional oleh kabinet Hatta (1948).

Padahal kenyataannya yang mang geo baca dari buku Suryanegara, Boedi Oetomo menolak cita cita persatuan Indonesia.

Banyak sekali sejarah perjuangan yang harus diluruskan, mang geo melihat ada de-islamisasi dalam literasi sejarah perjuangan.

Perjuangan bangsa ini, sesungguhnya banyak dipelopori oleh kaum muslim, kaum ulama dan kaum santri. Sayangnya publikasi yang disodorkan selalu kurang berpihak pada mereka.

Saatnya umat Islam bangsa Indonesia membaca sejarah, mengkritisi sejarah, menyelami dan menulis kembali sejarah yang sesuai dengan realitanya.

Kita harus memperhatikan bagaimana ayat alQuran yang menyatakan bahwa wal tandzur nafsun maa qaddamat li ghad (59:18), perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu.

Perhatikanlah, kajilah sejarahmu untuk generasi yang akan datang. Jangan sampai generasi yang akan datang menjadi salah dalam memahami sejarah karena terbengkokkan oleh penulisan sejarah yang salah.

Salam
Alfaqir
MZ

WRITING KUMAHA AING

Tips Jitu, Latihan Praktis dalam Menulis Bebas.

Sahabat, sebenarnya menulis itu ada dua macam sifatnya. Ada menulis bebas, ada juga menulis yang sifatnya terikat. Saya kali ini menyampaikan menulis yang sifatnya “bebas”.

Ada yang bilang namanya “free writing”, ada juga yang bilang “writing without teacher, mungkin saya akan bilang, writing kumaha aing (menulis gimana gue).

Saya terinspirasi dari Hernowo Hasim, bahwa sebenarnya kita bisa menulis walau sederhana untuk mengikat makna.

Yang dimaksud menulis mengikat makna adalah kegiatan untuk menuliskan makna makna baik dari buku atau dari ucapan, ucapan seseorang, atau dari internet dan lain sebagainya dengan cara “diikat” supaya tidak hilang begitu saja.

Dengan menulis mengikat makna maka apa yang telah kita terima baik dari bacaan atau ucapan, tidak akan hilang. Sehingga kita akan dapat menikmatinya suatu saat nanti.

Sahabat, ada juga ucapan dari Imam Ali bin Abu Thalib sebagai berikut:
Ikatlah ilmu dengan Menuliskannya (Imam Ali bin Abi Thalib)*

Ada juga kata-kata dari imam syafii:

Ilmu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Alangkah bodohnya jika kamu mendapatkan kijang (binatang buruan), tetapi kamu tidak mengikatnya, sehingga binatang buruan itu lepas kembali. (Imam Syafii)

Sahabat, ketika sahabat mengikat makna atau menuliskannya apa yang terjadi, maka sebetulnya sahabat sedang belajar untuk menuliskan gagasan. Baik dari kata-katanya, strukturnya, maupun pesannya.

Menulis bebas sesungguhnya adalah menulis tentang apa yang kita ketahui.

Menuliskan tentang apa yang kita temukan, menuliskan tentang makna makna yang menyentuh terhadap diri kita. Ketika kita menulis bebas, gak usah pake guru, cukup menulis bebas saja, insyaallah dalam beberapa bulan akan terbit sebuah buku.

Nah Bagaimanakah cara untuk menulis bebas itu alias menulis kumaha aing (gimana gue) itu? Berikut ini penjelasannya:

*Pertama*, Intisari dari menulis sebenarnya adalah kebiasaan.
Bagus dan berkualitasnnya menulis seseorang menurut saya, sebetulnya adalah faktor kebiasaan.

Tanpa ada kebiasaan yang baik tidak akan hebat. Tentu saja kebiasaan ini dibangun bukan sehari dua hari, melainkan tahunan.  Dalam hal ini Aristoteles berkata:

*Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Keunggulan bukanlah sebuah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan. (Aristoteles)*

*kedua*, Siapkan 15 menit saja untuk menulis setiap hari
Ambilah pulpen dan kertas, kemudian biasakanlah menulis 15 menit per hari. Jangan takut menulis apapun. Apa yang ada di kepala dituliskan. Bila sulit untuk menulis, maka ambilah sebuah buku lalu tuliskanlah intinya.

Tuliskanlah intisari dari sebuah buku, bukan untuk orang lain. Tapi untuk diri sendiri. Menulislah untuk diri sendiri jangan untuk orang lain. Inilah yang dimaksud dengan self writing.

*Ketiga*, Kumpulkan setelah 30 hari.
Kalau saya mengistilahkannya dengan dengan sebutan *sabu-sabu*. Yaitu satu bulan satu buku. Dimana ini merupakan akumulasi dari tulisan hari demi hari yang kemudian dikemas lalu dijilid maka jadilah sebuah buku yang renyah untuk dibaca.

Sangat bagus jika Sahabat menulisnya dengan tematik. Misalnya kalau yang guru tentang keguruan, atau yang suka dengan motivasi, menulis tentang motivasi. Sehingga nanti bisa dikumpulkan dalam sebuah buku yang cantik.

*Keempat*, Sharinglah bukunya ke orang lain.
Ketika kita punya gagasan, jangan dimiliki sendiri. Bagikanlah kepada orang lain, sebab bisa jadi orang lain terinspirasi, sehingga kehidupannya berubah. Dan akhirnya kita mendapat pahala dari apa yang telah kita kerjakan.

Jangan ragu, jangan malu, percaya diri saja, niatkanlah ibadah.

Jika tidak sanggu mencetak dalam jumlah banyak, cetaklah satu, dua atau tiga. Dengan demikian ikatan makna dari tulisan kita akan bermanfaat tidak bagi diri kita saja, melainkan bagi orang lain.

Demikian ya,  semoga bisa menjadi jalan amal jariyah supaya kita semua bisa mengikat makna dengan tali yang kuat yaitu TULISAN.

Salam,
Alfaqir
Ma'mun Zahrudin (MZ)

PROBLEM ETIKA PENGETAHUAN

Penerapan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, menurut Adib, (2013) membutuhkan dimensi etis sebagai pengetahuan dan teknologi.  Dalam hal ini Ilmuwan dalam mengemban ilmu pengetahuan dan teknologi harus memerhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab kepada kepentingan umum, dan generasi mendatang, serta bersifat universal karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk mengembamgkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut upaya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tepat dalam kehidupan manusia. Akan tetapi, menyadari juga apa yang seharusnya dikerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperoleh  kedudukan serta martabat manusia, baik dalam hubungan sebagai pribadi dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khalik-Nya.
Jadi sesuai dengan pendapat van Melsen (1985) bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghambat ataupun meningkatkan keberadaan manusia tergantung pada manusianya itu sendiri, karena ilmu pengetahuan teknologi dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaan.
Tugas terpenting ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Tetapi juga merupakan hasil perkembangan dan krestifitas manusia itu sendiri.

Ilmu  Bebas Nilai atau Tidak Bebas Nilai

Ilmu pengetahuan menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri.
3 Faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan bebas nilai

ilmu harus bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologis, agama,budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya, perlunya kebebasan ilmiah yang mendorong terjadinya otonomi ilmu pengetahuan

Penelitian tidak luput dari pertimbangan etis (yang sering dituding  menghambat kemajuan ilmu), karena nilai etis itu sendiri bersifat universal

Sosiolog, Webber, menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai, tetapi ia juga mengatakan bahwa ilmu-ilmu ketika para sosial harus menjasi nilai yang relevan. Webber tidak yakin ketikka para ilmuwan sosial melakukan aktivitasnya seperti mengajar atau menulis mengenai bidang ilmu sosial itu, mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu.

TANGGUNG JAWAB ILMUAN

Ilmu menghasilkan teknologi yang diterapkan pada masyarakat. Teknologi dan ilmu pengetahuan dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamatan bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia.

Dihadapkan dengan masalah moral ekses ilmu dan teknologi yang besifat merusak, para ilmuwan dapat dipilahkan menjadi dua golongan pendapat yaitu: (i) golongan yang berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologi. (ii) golongan yang berpendapat ilmu netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan dalam penggunaanya harus berlandaskan nilai-nilai moral.

Golongan yang kedua ini mendasarkan pendapatnya pada tigal yakni (i) ilmu secra faktual telah dipergunakan secara destraktif  oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi keilmuan yang terjadi pada Bom Atom (ii) ilmu telah bekembang dengan pesat dan makin esoteric hingga kaum iluwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bilai terjadi penyalahgunaan (iii) ilmu telah berkembangan sedemikan rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik pembuatan sosial.

Fungsi ilmuawan tidak berhenti pada penelaah dan keilmuwan secar individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan masyarakat (Suriasumantri, 1984). 

Dengan kata lain penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial. Impilkasi penting dari tanggung jawab sosial seorang ilmuwan, alah bahwa setiap pencarian dan penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan etis yang kukuh.
Lebih lanjut menurut Suriasumantri (1984), proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi etika, merupakan kategori moral yang menjadi dasar sikap etis seorang ilmuwan. Ilmuwan bukan saja berfungsi sebagai penganalisis materi kebenaran tersebut, tetapi juga harus menjadi prototipe moral yang baik. Aspek etika dari hakikat keilmuwan ini kurang mendapat perhatian dari para ilmuwanitu sendiri.

Tanggung jawab ilmuwan tidaklah ringan. Dapatkah seorang ilmuwan memikul tanggung jawab sedemikian itu, jika batas moral yang berlaku tidak bersifat universal?. Etika tidak dapat memberikan aturan universal yang konkret untuk setiap masa, kebudayaan, dan situasi (Peursen dkk 1990).

Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan teknologi adalah segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain disamping kebenaran keilmuwan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki.

Ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar untung dan rugi baikm dan buruknya, sehingga penyelesaianya yang objektif dapat dimungkinkan.

Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat memengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogianya mereka sadari. Dalam hal ini, berbeda dengan saat menghadapi masyarkat, ilmuwan yang elitis dan esoterik, dia harus berbicara  dengan bahasa yang dapat dicerna oleh orang awam. Untuk itu ilmuwan bukan saja mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun nuga intergritas kepribadiannya.

Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat. Inilah yang menyebabkan dia mempunyai tanggung jawab sosial.

Dibidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi hanya memberi informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil didepan bagaimana caranya bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.

Seorang ilmuwan secara moral tidak akan memberikan hasil penelitian atau penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakannya bangsa sendiri.
Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan manusia atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan. Untuk itulah tanggung jawab ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapatlah dihipotesiskan, jika ilmuwan telah dapat memnuhi tanggung jawab sosialnya, maka ilmu pengetahuan itu akan berkembang pesat, ilmu pengetahuan itu akan dapat memberi manfaat besar bagi kehidupan manusia, dan ilmu pengetahuan itu tidak akan menimbulkan konflik di masyarakatya

ETIKA-MORAL DALAM ILMU

Ilmu merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, demikian pula juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Hakikat Ilmu adalah mempelajari alam sebagaimana mestinya (das seiri). Namun demikian dalam perkembangannya sering ilmu tidak bebas dari nilai diluar keilmuan, seperti ajaran moral agama. Konsep ilmiah dari ilmu yang awal mulanya bersifat abstrak, objektif, bebas nilai (netral) kemudian dikembangkan pada konsep ilmiah pada menerapan masalah-masalah praktis dalam bentuk teknologi dan tidak bebas nilai.

Para Ilmuwan yang mendefinisikan etika dikelompokkan menjadi dua kelompok. Yang pertama para ilmuwan hanya menggunakan pertimbangan nilai kebenaran dengan mengesampingkan pertimbangan nilai metafisik (etika, kesusilaan dan kegunaan), sehingga ilmu harus objektif dan bebas nilai (etik). Kelompok kedua memandang perlu dalam kegiatan ilmu selalu terkait (gayut) dengan pertimbangan nilai. Pengetahuan, teknik dan etik adalah tiga unsur saling terkait, tidak dipisahkan.
Teknologi lahir sebagai konsekuensi ilmu pengetahuan. Pemanfaatan teknologi mencakup seluruh kehidupan manusia, berhubungan larigsung. dengan masalah sosial, kebudayaan dan etik. Dengan teknologi manusia dapat memanfaatkan kekuatan alam. Jadi teknologi merupakan sarana manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tujuan ilmu yang semula berusaha memberikan penjelasan dan pemahaman atas gejala alam, apa adanya. Ilmu bersifat netral. Dalam perkembangan ilmu juga terjadi ekses misalnya: Ilmu dalam tahap pertumbuhannya sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukanhanya digunakan untuk menguasai alam, melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Teori kuantum yang mempunyai kontribusi besar dalam pengembangan ilmu dan teknologi juga pernah disalahgunakan untuk pembuatan bom atom guiu menghancurkan musuh seperti yang terjadi di kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang tahun 1945 adalah contoh dari ekses pengembangan ilmu.
Karena itu peran moral menjadi penting begitu kita berhadapan dengan ekses dari ilmu dan teknologi yang bersifat merusak.

Etika Ilmu Dan Peneltian

Hal hal yang harus dijaga dan diperhatikan bagi seorang peneliti antara lain:

Mempelajarialam sebagaimana mestinya(bebas nilai).Pelajanide Filsuf Copernicus dan Galileo, tentang Objektivitas.

Bersifat netral dan umum.

Hasil penelitian harus dikomunikasikan, disebarluaskan.

Pengetahuan ilmu dapat digugurkan atau Falsifikasi.

Original ide dalam penelitian (tidak plagiat).

HAKI(copyright,intelectualpropertyright),sebagaijaminan originalitas.

Otonomi, Beneficence, Justice,Nonmaleficence,Fidelity,Confidentiality, (Guido, 2006)

Guido, 2006 menjelaskan:

Otonomi atau kebebasan responden menolak dan menerima untuk diikutkan. Peneliti harus menghormati keputusan responden.

Beneficence adalah kemanfaatan perlakuan penelitian bagi responden dan peneliti.

Justice artinya jika seseorang mendapat perlakuan, maka yang lain juga mendapatkan perlakuan. Perlakuan kelompok kontrol dapat bentuk lain, sehingga tak mengkacaukan hasil intervensi yang sebenarnya.

Normaleficence artinya artinya pernberian intervensi tidak akan membahayakan atau memberikan efek negatif.

Fidelity artinya peneliti menjunjung tinggi akan janji yang telah dibuat serta menjunjung tinggi komitmen yang telah disepakati.

Confidentiality artinya informasi tentang responden dijaga kerahasiaannya.


HUBUNGAN ILMU DAN MORAL

Ilmu dan moral keduanya termasuk ke dalam genus pengetahuan yang mempunyai karakteristik masing-masing. Tiap-tiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen tersebut adalah ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontology merupakan  asas dalam menetapkan batas/ruang lingkup ujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakekat realitas (metafisika) dari obyek ontologis atau obyek formal tersebut. Epistemologi merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Aksiologi merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut.

Agar mendapatkan pengertian yang jelas mengenai kaitan antara ilmu dan moral maka sebaiknya pengkajian mengenai hal tersebut didekati secara terperinci dari ketiga komponen tadi. Sebab pernyataan yang bersifat umum seperti “ilmu adalah netral” atau “ilmu tidak terbebas dari nilai” bisa menyasatkan dan hanya bisa ditafsirkan dengan benar sekiranya dikaitkan dengan aspek atau komponen keilmuan tertentu. Inilah yang menyebabkan kontroversi yang berlarut-larut mengenai kaitan antara ilmu dan moral. Kedua pernyataan tersebut diatas yang kelihatannya bertentangan dan menjadi dasar argumentasi dari kedua kutub (aliran) yang berlawanan, yakni bahwa “ilmu adalah netral” atau “ilmu tidak terbebas dari nilai”, sebenarnya dapat dipertemukan sekiranya dilihat dalam lingkup yang tepat. Untuk itulah maka pembahasan mengenai kaitan antara ilmu dengan moral akan didekati secara lebih terperinci dari segi ontology, epistomologi dan aksiologi keilmuan.

Pendekatan ontologis

Secara ontologis maka ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaahan yangberada dalam batas pra-pengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca-pengalaman (seperti surga dan neraka) diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologis tertentu. Penetapan lingkup batas penelaah keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yang mensyaratkan adeanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.

Aspek kedua dari ontologi keilmuan adalah penafsiran tentang hakekat realitas obyek ontologisme keilmuan sebagaimana disebutkan diatas. Penafsiran metafisik keilmuan harus didasarkan kepada karakteristik obyek ontologis sebagaimana adanya (das sein) dengan deduksi-deduksi yang dapat diverifikasi secara fisik. Ini berarti secara metafisik ilmu terbebas dari nilai-nilai yang bersifat dogmatic. Galileo (1564-1642) menolak dogma agama bahwa “matahari berputar mengelilingi bumi” sebab pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan factual sebagaimana ditemukan oleh Copernicus (1473-1543). Pengadilan terhadap Galileo oleh penguasa agama pada musim dingin tahun 1633 merupakan tonggak historis dari itikad keilmuan untuk membebaskan ilmu dari nilai-nilai yang bersifat dogmatic dari manapun datangnya. Hal ini bukan berarti bahwa ilmu menolak nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan, namun sifat dogmatic itulah yang secara asasi ditentang. Suatu pernyataan diterima sebagai premis dalam argumentasi ilmiah hanya setelah melalui pengkajian / penelitian berdasarkan epistemologi keilmuan. Nilai budaya gotong-royong umpamanya secara hipotetis bisa berlaku sebagi asumsi tentanng manusia dalam kegiatan manajemen bagi sub-kultur tertentu di Indonesia. Untuk mensahihkan kebenaran pernyataan tersebut maka langkah pertama adalah melukakn penelitian untuk penguji konsekuensi deduktifnya secara empiris, sejalan dengan apa yang dikatakan Einstein: “Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta apa pun juga teori yang disusun diantara keduanya.”)

Metafisika keilmuan yang berdasarkan kenyataan sebagaimana adanya (das sein) menyebabkan ilmu menolak premis moral yang bersifat seharusnya (das sollen). Ilmu justru merupakan pengetahuan yang bisa dijadikan alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang mencerminkan das sollen dengan jalan mempelajari das sein agar dapat menjelaskan-meramalkan-mengontrol gejala alam. Kecenderungan untuk memaksakan nilai-nilai moral secara dogmatic ke dalam argumentasi ilmiah akan mendorong ilmu surut ke belakang ke zaman pra-Copernicus dan mengundang kemungkinan berlangsungnya Inkuisisi a la Galileo pada zaman modern. Namun hal ini jangan ditafsirkan bahwa dalam menelaah das sein ilmu terlepas sama sekali dari das sollen: dari bagan di sebalik dapat dilihat bahwa dari 18 asas moral yang terkandung dalam kegiatan keilmuan maka diantaranya bersifat das sollen.

Dari 17 asas moral tersebut maka terdapat 3 asas yang terkait dengan aspek pemilihan obyek penelaahan ilmiah secara etis.  Kaidah moral ini menyebutkan bahwa dalam menetapkan obyek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat merubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia dan mencampuri permasalahan kehidupan.

Dengan demikian maka ilmu menentang percobaan mengenai genetika (genetic engineering) sebab bersifat merubah kodrat manusia dan menentang percobaan untuk membentuk species baru sebab mencampuri masalah kehidupan.

Pendekatan Aksiologis

Konsisten dengan asas moral dalam pemilihan obyek penelaahan ilmiah maka pennggunaan pengetahuan ilmiah mempunyai asas moral tertentu pula. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini maka ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia dan kelestarian/keseimbangan alam. Salah satu alas an untuk tidak mencampuri masalah kehidupan secara ontologis adalah kekhawatiran bahwa hal ini akan mengganggu keseimbangan kehidupan.
Untuk kepentingan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya, sesuai dengan asas komunalisme. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi parochial seperti ras, ideolog atau agama. “Ilmu Russia atau ilmu Arya,” meminjam perkataan Barber, “merupakan sesuatu yang dibenci ilmu (Abhorrent dalam Dikti 1984).

Pendekatan Epistemologis

Landasan epistemologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan: (a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun: (b) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemmikiran tersebut dan (c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataannya secara faktual. Secara akronim metode ilmiah terkenal sebagai logico-hypothetico-verifikayif atau deduct-hypothetico-verifikatif.
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan penjelasan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis (mungkin fakta menolak pernyataan hipotesis). Demikian juga verifikasi factual membuka diri terhadap kritik terhadap kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berfikir kritis. Keterbukaan ini merupakan system umpan balik korektif yang ditunjang dengan cara berfikir kritis yang disebut Merton sebagai “skeptisisme terorganisasi.  Artinya cara berfikir ilmiah dimulai dengan sifat skeptif terhadap kebenaran sampai kesahihan kebenaran tersebut dibuktikan lewat prosedur keilmuan. Cara berfikir ini berbeda dengan modus yang dimulai dengan sikap percaya seperti terdapat umpamanya dalam agama.            Di samping sikap moral yang secara implicit terkait dalam proses logico-hypothetico-verifikatif tersebut terdapat asas moral yang secara eksplisit merupakan das sollen dalam epistemologi keilmuan. Asas tersebut ialah bahwa dalam proses kegiatan keilmuan maka setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual (Dikti,1984).                                                   “Ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan,” ujar Mangunwijaya, “oleh sebab itu maka ilmu di Indonesia sukar berkembang selama kita suka bohong.  Ketidakjujuran dalam kegiatan keilmuan  nampak dalam gejala “kebudayaan nyontek”, ijazah “aspal” (asli tapi palsu) dan merajalelanya kebocoran ujian. Demikian juga seperti semboyan “seni untuk seni” maka ilmuwan bersemboyan “kebenaran untuk kebenaran tanpa melibatkan dirinya dengan kepentingan langsung dari upaya ilmiahnya. Raison d’etre suatu buah fikiran ilmiah semata-mata bertopang kepada kekuatan argumentasi yang dikandungnya dan tidak bersandar kepada kekuatan social atau politik. “Bukan tidak mungkin” meminjam perkataan Alfian, “bahwa seorang intelektual akan menjadi sangat terikat oleh kepentingan golongan, penguasa, agama, atau partainya, sehingga dia memakai keintelektualannya untuk membenarkan setiap kebijaksanaan, tindakan atau perbuatan golongan, penguasa, agama atau partainya (Dikti, 1984).


Tanggung Jawab Moral Ilmuwan: Profesional dan Moral

Pendekatan secara ontologis, epistemologis dan aksiologis memberikan 18 asas moral yang terkait dengan kegiatan keilmuan. Keseluruhan asas moral ini pada hakekatnya dapat dikelompokkan menjadi dua yakni kelompok asas moral yang membentuk tanggung jawab professional dan kelompok yang membentuk tanggung jawab sosial.
Tanggung jawab professional menurut Suriasumantri (2010), lebih ditujukan kepada masyarakat ilmuwan dalam pertanggungjawaban moral yang berkaitan dengan landasan epistemologis. Dalam bagan kita maka tanggung jawab professional ini mencakup asas nomor  (1)  kebenaran; (2) kejujuran; (3) tanpa kepentingan langsung; (4) menyandarkan kepada kekuatan argumentasi; (5) rasional; (6) obyektif; (7) kritis; (8) terbuka; (9) pragmatis; dan  (13) netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatic dalam menafsirkan hakekat realitas.
Hampir tak terdapat perbedaan dalam penafsiran ilmuwan terhadap tanggung jawab professional ini, meskipun dari waktu ke waktu sejak abad pertengahan secara sporadis timbul usaha untuk merubah asas moral nomor (13) dengan dogma-dogma agama atau ideology. Usaha ini tak pernah berhasil sebab tidak didukung oleh masyarakat ilmuwan. Walaupun demikian terdapat perbedaan yang nyata dalam mengimple-mentasikan asas moral dan melaksanakan sanksi-sanksnya.

Suatu peradaban yang ditandai dengan masyarakat keilmuan yang maju secara sungguh-sungguh melaksanakan asas moral ini terutama yang menyangkut asas no (1) kebenaran; (2) kejujuran; (3) bebas kepentingan; dan (4) dukungan berdasarkan kekuatan argumentasi. Seorang yang melakukan ketidakjujuran dalam kegiatan ilmiah mendapatkan sanksi yang konkrit; dan sanksi moral dari sesame ilmuwan lebih berfungsi dan lebih efektif dibandingkan dengan sanksi legal. Tidak ada sanksi yang lebih berat bagi seorang ilmuwan selain menjadi seorang pria yang dikucilkan secara moral dari masyarakat keilmuan. Di Negara kita sanksi moral ini belum membudaya dan hal inilah mungkin yang menyebabkan suburnya upaya-upaya amoral dalam kegiatan keilmuan kita seperti telah disinggung terdahulu.
Mengenai tanggung jawab social yakni pertnggung-jawaban ilmuwan terhadap masyakat yang menyangkut asas moral mengenai pemilihan etis terhadap obyek penelaahan keilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah terdapat dua tafsiran yang berbeda. Kelompok  ilmuwan yang pertama menafsirkan bahwa ilmuwan harus bersikap netral artinya bahwa terserah kepada masyarakat untuk menentukan obyek apa yang akan ditelaah dan untuk apa pengetahuan yang disusun kaum ilmuwan itu dipergunakan. Sedangkan kelompok ilmuwan kedua berpendapat bahwa ilmuwan mempunyai kelompok ilmuwan kedua berpendapat bahwa ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial yang bersifat formal dalam mendekati kedua permasalahan tersebut di atas.Sikap kelompok ilmuwan kedua didasarkan kepada analisis sejarah mengenai interaksi antara ilmu dan masyarakat. Pengalaman kedua perang dunia telah membuktikan bahwa ilmu telah dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang destruktif: Perang Dunia I terkenal dengan perang kuman dan Perang Dunia II terkenal dengan bom atom. Mau tidak mau maka ilmuwan harus mempunyai sikap formal mengenai penggunaan pengetahuan ilmiah. Demikian juga sejarah perkembangan ilmu telah berada dalam ambang kritis, dimana ilmu bukan saja mampu mengembangkan sarana yang mempermudah kehidupan manusia, namun juga mampu merubah kodrat manusia. Revolusi di bidang genetika dan pengembangan ilmu-ilmu social yang mampu mengontrol kelakuan manusia menggoda manusia untuk memakan buah khuldi yang ketiga. (Buah pertama dimakan Adam dan Hawa di surga sedangkan buah kedua dimana 46 tahun yang lalu sambil menyaksikan ledakan bom atom pertama di padang Alamagordo, New Mexico). Berdasarkan hal inilah maka ilmuwan merasa terpanggil untuk mengembangkan sikap tanggung jawab sosialnya secara formal (Dikti, 1984).
Bagi kita sendiri yang hidup dalam masyarakat yang berasaskan Pancasila, tidah mempunyai pilihan lain, selain konsisten dengan sikap kelompok ilmuwan kedua, dan secara sadar mengembangkan tanggung jawab social di kalangan ilmuwan dengan Pancasila sebagai sumber moral (das sollen) sikap formal kita.



MORALITAS DALAM ILMU DAN TEKNOLOGI

Salah tafsir mengenai ilmu dan kecurigaan terhadap ilmuwan biasanya bersumber pada pembahasan, yang kurang memperhatikan landasan-landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis secara spesifik.
Ilmu berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya (das sein), sedang moral pada dasarnya adalah petunjuk-petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia (das sollen).
Hasil-hasil kegiatan keilmuan memberikan alternatif-alternatif untuk membuat keputusan politik dengan berkiblat kepada pertimbangan-pertimbangan moral ethis.
Ilmuwan mempunyai tanggung jawab professional, khususnya didunia ilmu dan dalam masyarakat ilmuwan itu sendiri dan mengenai metodologi yang dipakainya. Ia juga memikul tanggung jawab social, yang bisa dibedakan atas tanggung jawab legal yang formal sifatnya; dan tangggung jawab moral yang lebih luas cakupannya (Depdikbud, 1984)

Etika dan Moral 

Makna etika dapat dikelompokkan menjadi kumpulan nilai dan moral untuk berpikir dan bertindak seorang ilmuwan. Istilah kunci dari bahasa etika adalah sekumpulan nilai, hak, kewajiban, peraturan dan hubungannya. Ilmu sebagia aktifitas dan metode ilmiah juga memiliki etika yang harus dijunjung tinggi, sehingga menghasilkan ilmu mengetahuan yang obyektif (Supriyanto, 2013).
Moral, diartikan sebagai etika (akhlak).  Sejak sekitar abad ke 5 sebelum masehi sudah banyak dibicarakan secara mendalam, didiskusikan dan dianalisa dikalangan para pemikir yang memfokuskan diri pada falsafah hidup dan perilaku manusia.
Dari seluruh pemikiran selama berabad abad mengenai etika dan moral barangkali bisa disimpulkan secara sederhana walau jauh dari sempurna; bahwa  etika dan moral  ini erat hubungannya dengan perilaku manusia yang tulus keluar dari batin sanubari dalam tiap pemikiran, perkataan, perbuatan (tindakan) nyata dalam koridor yang pasti untuk tidak menyakiti baik lahir mapun batin, menindas, menyinggung, meremehkan, melecehkan, merendahkan dan menghilangkan hak pribadi serta menginjak martabat pihak lain secara terbuka maupun tersembunyi dimana dia berada atau dalam jangkauannya serta mutu akhlaknya bisa diterima sebagian besar umat manusia”.
Karenanya moral selalu berhubungan dengan cara berpikir manusia yang dicetuskan dalam perilaku nyata dan bisa dinilai oleh pihak sesamanya baik melalui cara mendengar, melihat, merasa (diolah dalam pikiran dan hati sanubari), dibuktikan dan terlihat dengan jelas segala perbuatan dan tindakannya yang sesuai antara kata dan perbuatan.
Moral yang berkembang seiring dengan peradaban manusia, mencoba mengajarkan agar manusia mengetahui hal yang baik dan buruk yang berhubungan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran agamanya. Kata moral mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas Sejatinya, peranan moral dalam menghadapi perkembangan ilmu seperti diuraikan di atas sangat dipengaruhi bagaimana pandangan manusia melihat ilmu itu sendiri yang secara terus menerus dikembangkan oleh manusia.
Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakunya, timbul pula perbedaan penafsiran. Penggunaan bom atom, misalnya dianggap tidak etis karena menghancurkan kehidupan umat manusia. Meski demikian, bagi pelaku yang bersangkutan dengan menggunakan bom atom, hal ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kelompok umat manusia. Misalnya, dengan penggunaan bom atom, maka suatu negara dapat membenarkan atas nama melindungi warga negaranya dalam keadaan perang. Pembenaran, dengan demikian, selalu bisa dimunculkan bergantung pada konteks situasi yang dihadapi.
Ilmu dalam Perspektif Moral

Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Ketika ilmu dapat mengembangkan dirinya, yakni dari pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplatif disusul penerapan-penerapan konsep ilmiah ke masalah-masalah praktis atau dengan perkataan lain dari konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk konkret yang berupa teknologi, konflik antar ilmu dan moral berlanjut. Seperti kita ketahui, dalam tahapan penerapan konsep tersebut ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, tetapi lebih jauh lagi bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi. Bertrand Russel menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap “kontemplasi ke manipulasi” (Dikti, 1984)
Dalam tahap manipulasi masalah moral muncul kembali. Kalau dalam kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Atau secara filsafati dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologis keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi aksiologi keilmuan. Aksiologi itu sendiri adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapai ekses ilmu yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat.

Ilmuwan golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam tahap ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan yang buruk.

Ilmuwan golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada asas-asa moral.


Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni,

Ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan

Ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin esoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan

Ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial. Berdasarkan ketiga hal itu maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.
Pendekatan secara ontologis, epistemologis dan aksiologis memberikan 18 asas moral yang terkait dengan kegiatan keilmuan. Keseluruhan asas tersebut pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi dua yakni kelompok asas moral yang membentuk tanggung jawab profesional dan kelompok yang membentuk tanggung jawab sosial.Tanggung jawab profesional lebih ditujukan kepada masyarakat ilmuwan dalam pertanggung jawaban moral yang berkaitan dengan landasan epistemologis.
Tanggung jawab profesional ini mencakup asas
(1) kebenaran
(2) kejujuran
(3) tanpa kepentingan langsung
(4) menyandarkan kepada kekuatan argumentasi
(5) rasional
(6) obyektif
(7) kritis
(8) terbuka
(9) pragmatis
(10) netral.
Suatu peradaban yang ditandai dengan masyarakat keilmuan yang maju secara sungguh-sungguh melaksanakan asas moral ini terutama yang menyangkut asas kebenaran, kejujuran, bebas kepentingan dan dukungan berdasarkan kekuatan argumentasi. Seorang yang melakukan ketidakjujuran dalam kegiatan ilmiah mendapatkan sanksi yang konkrit; dan sanksi moral dari sesama ilmuwan lebih berfungsi dan lebih efektif dibandingkan dengan sanksi legal. Tidak ada sanksi yang lebih berat bagi seorang ilmuwan selain menjadi seorang paria yang dikucilkan secara moral dari masyarakat keilmuan. Di negara kita sanksi moral ini belum membudaya dan hal inilah yang menyebabkan suburnya upaya-upaya amoral dalam kegiatan keilmuan.Mengenai tanggung jawab sosial yakni pertanggung jawaban ilmuwan terhadap masyarakat yang menyangkut asas moral mengenai pemilihan etis terhadap obyek penelaahan keilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah terdapat dua tafsiran yang berbeda.

Kelompok ilmuwan pertama menafsirkan bahwa ilmuwan harus bersikap netral artinya bahwa terserah kepada masyarakat untuk menentukan obyek apa yang akan ditelaah dan untuk apa pengetahuan yang disusun kaum ilmuwan itu dipergunakan. Sedangkan kelompok ilmuwan kedua berpendapat bahwa ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial yang bersifat formal dalam mendekati kedua permasalahan tersebut di atas. Einstein dan Socrates mungkin benar, ilmu pengetahuan ternyata juga mendatangkan malapetaka bagi manusia. Ilmu pengetahuan politik, ekonomi, sosial, informasi dan komunikasi, teknologi dan militer dapat saja mendatangkan kesejahteraan, sekaligus menimbulkan malapetaka bagi manusia. Sosiolog Rene Descartes mengatakan “ilmu tanpa moral adalah buta, moral tanpa ilmu adalah bodoh”.Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral, kemudian muncul teori etika, tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan (Dikti, 1984).
Teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan:

Peran moral adalah mengingatkan agar ilmu boleh berkembang secara optimal, tetapi ketika dihadapkan pada masalah penerapan atau penggunaannya harus memperhatikan segi kemanusiaan baik pada tataran individu maupun kelompok.

Peran moral berimplikasi pada signifikansi tanggung jawab, yakni tanggungjawab moral dan sosial. Dalam konteks ini, tanggungjawab moral menyangkut pemikiran bahwa ilmuwan tidak lepas dari tanggungjawab aplikasi ilmu yang dikembangkannya. Bahwa ilmu tersebut harus diaplikasikan untuk hal-hal yang benar, bukan untuk merusak manusia.

Dari sisi tanggung jawab sosial, ilmuwan memiliki dan memahami secara utuh tentang kesadaran bahwa ilmuwan adalah manusia yang hidup atau berada di tengah-tengah manusia lainnya.

Perlunya ilmu dan moral (bagian dari suatu kebudayaan yang dikembangkan dan digunakan manusia) seyogyanya berjalan seiring. Ketika manusia mengaplikasikan hasil pengembangan ilmu dalam format penemuan (pengetahuan) atau teknologi baru, moral akan mengikuti atau mengawalnya.

Hal tersebut dimaksudkan bagi kepentingan penghormatan atas martabat kemanusiaan. Hal tersebut di atas, membuat para ilmuwan harus mempunyai sikap formal mengenai penggunaan pengetahuan ilmiah. Bagi kita sendiri yang hidup dalam masyarakat Pancasila, tidak mempunyai pilihan lain selain konsisten dengan sikap kelompok ilmuwan kedua, dan secara sadar mengembangkan tanggung jawab sosial di kalangan ilmuwan dengan Pancasila sebagai sumber
moral (das sollen) sikap formal kita. Tetapi dalam kenyataannya, mekanisme pendidikan di Indonesia, dengan menempatkan kreatifitas intelektualitas (mengutamakan kemampuan keilmuan) sebagai landasan pembangunan negara tapi seringkali melupakan kreatifitas moralitas (pendidikan moral agama/religius) sehingga telah menggiring Indonesia ke arah kebobrokan

Minggu, 13 Oktober 2019

ROMANTISME GAYA RASULULLAH Puncak Cinta Lelaki pada seorang Perempuan

                                      Oleh
                      H. Ma'mun Zahrudin

Banyak sekali orang orang yang sinis pada Rasulullah Muhammad Saw. Ia menganggap bahwa pernikahan Rasulullah dengan khadijah adalah karena masalah materi belaka.

Ada salah seorang orientalis asal Skotlandia yang mengatakan bahwa Rasulullah romantis itu adalah karena ia takut di depak oleh Khadijah yang kaya raya itu sehingga hilanglah Harta dan kedudukannya dimata sosial.

Ini tentunya sangat tidak benar. Kalau memang Rasul cinta hanya karena materi belaka, mengapa ia mengirim hadiah hadiah kepada teman teman khadijah walau khadijah sudah meninggal.

Rasulullah berkata dalam hadits muslim:

"Sungguh, aku menyukai terhadap kekasih (habibah) khadijah"

Ada juga riwayat lain dari muslim, dimana Rasul berkata:

"Sungguh aku dianugrahi cintanya"

Kalau memang beliau menikah karena harta, mengapa Rasul marah kepada aisyah, istri yang beliau cintai, ketika aisyah cemburu karena Rasul menyebut nama khadijah yang telah wafat itu?

Dalam sebuah riwayat yang saya baca, suatu saat saudari perepuan khadijah yaitu Halah Ra datang ke madinah.

Nabi mendengar suaranya yang mirip dengan suara khadijah. Sebelum melihatnya Rasulullah berkata: "halah...halah ..."

Api cemburu tentunya sangat membakar hati aisyah, perempuan muda yang sangat cerdas dan pintar itu. Ia menceritakan bahwa Rasul hampir tidak keluar rumah, kecuali dengan mengenang khadijah dengan memori yang indah.

Kemudian aisyah berkata: "apa yang kau ingat dari wanita tua dari kelompok wanita tua suku Quraisy yang kedua bibirnya putih?, Dan diwafatkan oleh masa. Dan Allahpun mengganti kan dengan yang lebih baik darinya (HR muslim)

Nabi yang selalu tersenyum, kali ini berbeda. Kedua alisnya tampak jelas urat yang melintang, pertanda menahan amarah, namun ia tetap santun dan berkata:

" Demi Allah, Allah tidak akan mengganti nya untukku siapapun yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku ketika orang orang menolakku. Dia membenarkan aku ketika orang orang menilaiku berbohong, dia mendukungku dengan harta ketika orang orang tidak memberiku sesuatu, dan Allah mengerahkan untukku anak anak berbeda dengan istriku-istriku yang lain. (HR. Ahmad dan Thabrani)

Ada lagi cerita lain yang saya ingin tuliskan:

Suatu hari Rasulullah memasuki kota mekkah, beliau berkemah di suatu lokasi tersebut. Lokasi rumah itu bekas rumah khadijah.

Beliau pada hari itu, ditengah kesibukan pasukan muslimin, menyendiri dan berbincang dengan wanita tua sambil bercakap cakap dengan wajah berseri seri.

Aisyah r.a yang melihat hal itu bertanya kepada seseorang yang melihat hal itu. "Siapa itu dan apa yang dibicarakan?".

Ternyata wanita tua itu adalah sahabat dekatnya khadijah. dan pembicaraan Nabi saw. adalah seputar kenangan manis dengan khadijah masa lalu.

Kalau ditelusuri dari kisah diatas dapat dikatakan bahwa nabi memang sangat mencinta khadijah.

Kita melihat cinta Sang Nabi tidak luntur walau sudah menikah dengan aisyah dan istri istri beliau lainnya.

Cintanya melebihi kisah layla majnun atau kisah cinta lainnya.

Cinta Rasulullah pada Khadijah tetap bersemi walau khadijah sudah meninggal.

Sungguh menurut saya inilah the true love sepanjang sejarah.

Melihat khadijah sangat mencintai suaminya, ia cinta segalanya. Ia korbankan apapun demi suaminya, ia tidak terbawa arus isu apapun karena begitu setia dan percaya pada suaminya.

Mari membangun rumah tangga yang bukan selalu mencari kekurangan, tapi mencintai pasangan dengan kelebihan dan kekurangannya.

That's Really true love!

DARI MANA SUMBER INSPIRASI TULISAN?

                                   Oleh
                  H. Ma'mun Zahrudin

*Inspirasi selalu ada, hanya kitalah yang kurang serius!*

Sudah ada niat menulis, tapi bingung mau menulis apa? kadang saya suka bingung, selanjutnya apa yang harus dilakukan?

Kadang kita juga suka nge-blank darimana inspirasinya untuk menyelesaikan topik ini.  Maka disini saya akan uraikan tentang bagaimana cara mencari inspirasi untuk sebuah tulisan.

Pertama, Manusia itu sendiri
Carilah inspirasi dari percakapan yang selalu diomongin oleh orang-orang. Menulis esai itu seperti menulis cerita apa saja. Boleh kritik, boleh juga persetujuan, boleh juga misalnya ungkapan kekesalan.

Misalnya orang-orang ramai dengan masalah kematian pendukung The Jack oleh pendukung persib. Buatlah judul misalnya: “Pilih mana, nyawa manusia atau sepakbola?”.

Atau misalnya ketika orang-orang demam piala dunia bolehlah kita menulis: “Piala Dunia dan Shalat Tahajjud”.

Ketika orang-orang rebut tentang pemilihan presiden, maka bolehlah kita menulis misalnya, “Pemilu dan Kampanye Hitam”,  atau misalnya jika orang-orang rebut tentang poligami, bolehlah misalnya dipilih, “mana yang utama: keluarga poligami atau Monogami”.

Begitu selanjutnya, kita bisa memanfaatkan apa yang hangat dibicarakan orang.

Kedua, Perpustakaan
Kita bisa mencari inspirasi dari buku-buku yang ada di perpustakaan. Bolehlah, misalnya mengambil sebuah buku.

Misalnya, mengambil sebuah buku karya Anthoni Robbin, Unlimited Power, Kekuatan tanpa Batas. Lalu kita baca, dan kita simpulkan isinya, kemudian tulislah dengan kalimat lain dan bahasa kita yang lain. Misalnya: “bagaimana menjadi pribadi yang sukses 1000 kali lipat dari hari ini?”.

Nah, silahkan sahabat, mengeksplor tentang buku-buku apa saja diperpustakaan. Saya yakin sahabat tidak mungkin putus ide.

Saya yakin, jikalau sahabat selama 1 bulan berada di perpustakaan, membuat 1 buku sudah di tangan. Makanya jadikan perpustakaan sebagai sumber inspirasi.

Ketiga, flora dan Fauna
Bolehlah menulis tentang yang berkaitan dengan flora dan fauna. Misalnya, Indonesia negeri yang agraris, tapi mengapa impor beras?. Misalnya lagi, mengapa DOC (bayi ayam), itu dikuasai oleh pihak asing.

Bolehlah misalnya, “bunga edelweiss yang kian jarang kita temui”. Nah silahkan anda mengeksplore apa saja.

Keempat, Gagasan Imajiner
Bolehlah misalnya mencari inspirasi dari gagasan imajiner yang kemudian dihubungkan dengan kekinian.

Misalnya “Superhero abad disruption”, “Sincan dan budaya anak Indonesia”, “meteletubieskan laki-laki”, “Kapten Amerika dan Adikuasa”, “susahnya melawan “rahwana”.

Dan lain sebagainya. Silahkan sahabat melihat film apapun atau mencari gagasan apapun dengan catatan sahabat bisa menarik intisarinya untuk digabungkan dengan respon kekinian.

Kelima, Media Sosial  bolehlah menulis tentang isu-isu yang ramai dibicarakan dalam ruang-ruang sosmed. Kemudian anda bisa jadikan sebagai ide untuk menulis berpendapat di ruang public.

Boleh juga anda menulis tentang gejala-gelaja prilaku pengguna sosmed misalnya: “Antara Hape dan Quran”, “Minat baca sangat baik, namun daya baca sangat minus”.

Nah itulah, ternyata ide-ide atau inspirasi menulis itu selalu ada setiap detiknya. Cuman masalahnya satu: Mau menulis atau enggak?”

JANGAN PERNAH MENGUKUR KESUKSESAN DIRIMU DENGAN JAM ORANG LAIN

                  Oleh
H. Ma'mun Zahrudin

Setiap orang punya Jam sendiri untuk Sukses

Sahabat, dalam sebuah kesempatan Einstein berkata:

Not Everything That Count, can Be Counted (tidak semua yang terhitung dapat diperhitungkan). Not Everything that Counted, Trully Counted (tidak semua yang terhitung, benar-benar terhitung).

Banyak sekali orang yang prestasi SMP dan SMAnya sangat bagus sekali, tapi dalam hidupnya ia tidak beruntung karena ia tidak bisa melanjutkan ke universitas. Banyak sekali yang IPKnya bagus tapi ketika keluar kuliah malah yang IPK biasa-biasa yang cepat kerja.

Banyak orang yang tidak cantik atau ganteng, tapi malah mereka yang lebih dahulu mendapat jodoh. Banyak orang yang sudah lama menikah tapi ia belum punya keturunan terkalahkan orang pasangan baru menikah gampang sekali mendapat keturunan.

Banyak sekali orang yang pakar dalam sesuatu, tapi terkalahkan popularitasnya oleh anak kemarin sore karena dahsyatnya Vlog.

Sahabat, JK Rowling bisa sukses di Usia 32 Tahun, Jackma dengan perusahannya yaitu Ali Baba mulai berbisnis saat usia 35 tahun, Morgan Freeman seorang aktor hollywood baru mulai main film usia 54 Tahun, Kolonel Sanders dengan KFCnya sukses di usia 67 tahun, Suchiro honda usia 42 tahun, Adolf Dassler pemilik Adidas usia 49 tahun, Jhon Pemberton dengan Coca cola sukses di Usia 55 tahun, Ray Crock usia 50 tahun,  begitu juga dengan Nabi Besar Muhammad Saw, yang diangkat menjadi Rasul saat usia 40 Tahun.

Segala sesuatu dalam hidup kita adalah sesuai dengan jam kita dan waktu kita. Jangan pernah sahabat mengukurnya dengan waktu orang lain. Akan tiba kesuksesan kita sesuai dengan waktu yang telah Allah tetapkan.  Yang paling penting adalah berusaha dan tetaplah tawakkal.

Jangan pernah mengukur kesuksesan kita dengan jam orang lain. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Segala sesuatu terjadi dengan kecepatan yang ditentukan oleh Allah swt.

 Ketika sahabat hidup berarti walau dengan kesederhanaan itulah kesuksesan, berdampak positif bagi lingkungan sekitar, itulah kesuksesan.

Ketika hidupmu, segalanya sahabat berikan untuk membangun masyarakat ke arah mardhatillah itulah sebenarnya kesuksesan sejati.

Sekali lagi jangan pernah mengukur kesuksesan dengan jam orang lain, tetaplah berkarya, dan tetaplah untuk terus terlibat dalam menggiring masyarakat ke mardhatillah.

LURUSKANKANLAH OPINI PUBLIC!: Itulah Jihadnya Para Akademisi

                       Oleh
          H. Ma'mun Zahrudin

Sahabat,   betapa banyak sekali fenomena dimana ide ide universal Islam, yang penuh dengan pintu pintu keselamatan, kebahagiaan, keberkahan, ternyata dibelokkan menjadi sesuatu yang beringas, menakutkan, bahkan menjadi sesuatu yang menjijikan di masyarakat.

Konsep Konsep seperti syahadat, jihad, syariat Islam, taslim, bay’at dan lain sebagainya, dianggap sebagai sesuatu yang "berbahaya" bagi umat Islam itu sendiri.

Padahal secara aslinya, konsep konsep tersebut sangat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Banyak sekali logika-logika dibuat secara rasional-empirik untuk meyakinkan, bahwa konsepsi Islam sangatlah berbahaya, padahal sesungguhnya itu hanyalah pemutar balikan belaka.

Dalam benak kita, tidak ada konsepsi Tuhan yang salah, yang salah adalah “manusianya” yang salah dalam menafsir ayat Tuhan.

Betapa banyak sekali yang kita lihat, sejarah Islam yang dibelokkan, sehingga keluar dari "track" yang sebenarnya. Betapa banyak frame berpikir yang salah terhadap Islam, dijadikan sebagai model sampel, padahal itu sangatlah tidak tepat.

Betapa banyak gerakan “buatan” yang sengaja disodorkan ke gelanggang masyarakat, hanya sekedar untuk merasionalkan bahwa konsepsi Islam adalah buruk.

Betapa banyak sejarah keislaman konteks keindonesiaan, yang dibalik menjadi sesuatu yang menyeramkan bahkan menjadi bias. Yang bersejarah jadi tidak bersejarah, yang seharusnya tidak menyejarah malah jadi sejarah.

Pembolakbalikkan kebenaran menjadi santapan bahkan “ngerinya” adalah “dibela” oleh sebagian yang mengaku intelektual Islam itu sendiri.

Banyak sekali kepentingan politik, yang tidak menginginkan konsepsi Islam ini tegak di masyarakat. Menjadi buruk, menjadi kuno, Seperti ada kepentingan untuk "dipadamkan" supaya tidak "mengendap" dalam sanubari masyarakat.

Konsepsi Islam yang begitu besar, universal bahkan mendunia, malah disudutkan menjadi konsep yang "kuno", "tertinggal" bahkan "menjijikan" bahkan “mendekatpun” menjadi semacam traumatic. 

Kita sebagai bagian kecil dari akademisi merasa "resah". Setidaknya walau merasa banyak kekurangan, tapi kita merasa ada semacam "konspirasi" dalam menutup konsepsi Islam yang sebenarnya.
Bahkan yang aneh adalah, agen agen dari "pemadam cahaya Allah itu" adalah akademisi akademisi Islam itu sendiri, yang merasa "pongah" dengan konsepsi "kelirunya".

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Ide ide "pemadaman" logika keberagamaan malah disponsori oleh akademisi Islam sendiri yang nyata nyata seharusnya berbuat sesuai track, malah menjadi agen "pembusukkan" konsepsi Islam yang universal itu sendiri.

Berkaca dari Dialog Ibrahim, baik dengan Azar (bapaknya) maupun dengan Namrudz, dimana Ibrahim sebenarnya mematahkan opini public, yang "melenceng" tentang "ketuhanan" (Asy-Syuara 69-86). Ibrahim berhasil mematahkan opini public yang "salah" selama berabad abad (al-Baqarah ayat 258), sehingga akhirnya, kekalahan logika rasional rezim Namrudz, menghukumnya dengan "hukuman mati" yaitu "hukuman bakar" hidup hidup.

Banyak sekali pelajaran pelajaran dari dua orang uswah kita, yaitu Kangjeng Nabi Muhammad Saw dan Kangjeng Nabi Ibrahim As. yang sangat menginspirasi bagi kita.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia

Nabi Muhammad, saat di Medinah, tidak melulu sibuk dalam membuat "pasukan" perang, tetapi sibuk juga dengan membuat opini opini public, yang "membalikkan logika" masyarakat Mekkah, sehingga akhirnya menjadi lemah bahkan terasa seperti "rumah laba laba".

Sahabat,... khususnya yang akademisi, marilah berjuang untuk perbaiki kekeliruan di masyarakat. Tampakanlah konsepsi Islam yang sebenarnya, konsepsi sejarah Islam yang sebenarnya. Jangan diam dan takut untuk ungkap kebenaran, sekalipun itu pahit.

Para akademisi, akan berdosa jika hanya diam ketika kebenaran ditutup, mengetahui bahwa kebenaran disembunyikan, namun tidak empati, sangat berdosa jika duduk manis, sebatas mengajar kemudian pulang ke rumah tanpa “rasa berdosa”.

Berjuanglah wahai akademis, berikan "counter attack" terhadap masyarakat, bahwa Islam itu sangat menghormati kemanusiaan, sangat baik, sangat mulya, sangat mendambakan masyarakat dan negara yang bertauhid.
Jangan sampai kalian diam!, merasa "nyaman" dengan "bangku kursi" universitas, dengan bangga menggunakan baju baju toga, selfi ketika mewisuda atau mengisi seminar, tanpa merasa berdosa ketika ada konsepsi Islam, yang ditindas, dibelok arahkan, digiring menjadi konsepsi yang "menjijikkan".

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah: 15)

Bangkitlah untuk sampaikan ide ide Islam yang sungguh memulyakan, beranilah untuk meluruskan kesalahpahaman tentang konsepsi Islam, "counter attacklah" ide ide yang berusaha menutupi kebenaran Islam.

Konsepsi Ilmiah, bukan sekedar berlaku dalam epistimologi kampus, tapi juga gunakan untuk "melawan, meluruskan" konsepsi yang salah terhadap Islam.

Gunakan penamu, gunakan jurnalmu, gunakan media ilmiahmu, untuk menjadikan Islam itu lebih mulia, dan membersihkan konsepsi Islam yang salah.

Jangan sampai kalian diam, bersikap apatis, bersikap acuh, ketika epistimologi Islam ditutupi, di "dzalimi" dibelokkan menjadi sesuatu yang "jijik" karena ketika kalian diam  maka kefasikan adalah predikat yang akan menempel pada diri kalian.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah: 159)

Mari sebisa mungkin, mengenalkan Islam yang sebenarnya, mengenalkan sejarah Islam yang sebenarnya, mengenalkan sejarah Islam Indonesia yang sejujurnya.

Itulah "jihad" kalian sebagai akademisi.

Salam

Selasa, 08 Oktober 2019

LANDASAN KURIKULUM


LANDASAN KURIKULUM
Oleh
H. Ma’mun Zahrudin

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.
1. Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
1.    Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2.    Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
3.    Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
4.    Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
5.    Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.

Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
2. Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.
Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :
1.       motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
2.       bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
3.       konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
4.       pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
5.       keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.
Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
3. Landasan Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.
Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

4.Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang
Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.
Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.
Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian..
Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.
Sumber Bacaan:
·         Daeng Sudirwo. 2002 Otonomi Perguruan Tinggi Hubungannya dengan Otonomi Daerah. Manajerial. Vol .01. No1:72-79
·         Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Bahan Kajian; Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang.
·         ________. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif; Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang
·         ________. 2003. Penilaian Kelas; Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang.
·         E. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
·         _________. 2004. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
·         _________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya
·         Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Permendiknas No. 22, 23 dan 24 Tahun 2007
·         Tim Pengembang MKDK Kurikulum dan Pembelajaran.2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI.
·         Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek