Jumat, 18 Oktober 2019

KAUM MUSLIMIN HENDAKNYA PEDULI TERHADAP PENULISAN SEJARAH


Kalau kita tak peduli penulisan sejarah, maka generasi kita akan menjadi korban sejarah yang tereduksi.

sahabat, banyak sekali manuskrip sejarah yang saya baca ternyata malah bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya.

Penulisan sejarah banyak dilakukan dengan memberikan bumbu "ideologi" tertentu sehingga terkesan jauh dari kebenaran atau objektifitas.

Sebagai contoh banyak yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah abad ke 13.

Padahal seperti yang dikatakan oleh KRH Abdullah Bin Nuh yang menyebutkan bahwa islam datang ke Indonesia adalah abad ke  7 dengan bukti yang luar biasa.

Ini menunjukan bahwa ada ketidak objektifan yang sungguh merugikan bagi dunia akademisi islam.

Ada juga sejarawan yang mengatakan bahwa Islam datang keindonesia dengan mengusik atau membuat gundah  karena membuat perpecahan politik.

Kedatangan islam dalam perspektif sejarah yang ditulis orientalis, membuat akar akar radikalisme dalam perspektif sejarah keindonesiaan.

Banyak sekali para penulis sejarah barat yang menuliskan bahwa zaman keemasan di indonesia klasik selalu dikaitkan dengan kerajaan hindu dan budha. Sementara kerajaan Islam di Indonesia selalu dideskreditkan.

Penulisan sejarah keindonesiaan selalu berat sebelah. Kebangkitan Islam awal tidaklah dikaitkan dengan tokoh tokoh Islam tapi malah tokoh tokoh yang berhaluan nasionalis yang pro terhadap penjajah.

Perjuangan ulama dan santri dalam membebaskan indonesia di awal awal tidak pernah diekpose. Padahal ulama dan santrilah yang menggerakan ide ide melawan penjajah.

Penulisan tentang pelopor indonesia merdeka tidak dikaitkan dengan organisasi islam. Padahal pelopor istilah indonesia atau "indonesia merdeka" diperkenalkan oleh Nasional Congres Central Sarekat Islam dalam tulisan Cokro Aminoto Zelf Bestuur 1916. Orang orang memperkenalkan bahwa penulisan sejarah pelopor kemerdekaan dipelopori oleh soekarno lewat PNI tahun 1929.

Bolehlah dikatakan bahwa sejarah banyak yang diputarbalikkan, kebangkitan nasional selalu dikaitkan dengan Boedi Oetomo, bahkan 20 mei sebagai hari pendirian Boedi Oetomo resmi dijadikan hari kebangkitan nasional oleh kabinet Hatta (1948).

Padahal kenyataannya yang mang geo baca dari buku Suryanegara, Boedi Oetomo menolak cita cita persatuan Indonesia.

Banyak sekali sejarah perjuangan yang harus diluruskan, mang geo melihat ada de-islamisasi dalam literasi sejarah perjuangan.

Perjuangan bangsa ini, sesungguhnya banyak dipelopori oleh kaum muslim, kaum ulama dan kaum santri. Sayangnya publikasi yang disodorkan selalu kurang berpihak pada mereka.

Saatnya umat Islam bangsa Indonesia membaca sejarah, mengkritisi sejarah, menyelami dan menulis kembali sejarah yang sesuai dengan realitanya.

Kita harus memperhatikan bagaimana ayat alQuran yang menyatakan bahwa wal tandzur nafsun maa qaddamat li ghad (59:18), perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu.

Perhatikanlah, kajilah sejarahmu untuk generasi yang akan datang. Jangan sampai generasi yang akan datang menjadi salah dalam memahami sejarah karena terbengkokkan oleh penulisan sejarah yang salah.

Salam
Alfaqir
MZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar