Minggu, 06 Oktober 2019

KAJIAN KRITIS TERHADAP KONSEP PENARAN LOGIKA


KAJIAN KRITIS TERHADAP  KONSEP  PENALARAN LOGIKA, SUMBER PENGETAHUAN  DAN KRITERIA KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN  MODEREN YANG BERSUMBER PADA TRADISI  FILSAFAT  YUNANI



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt  yang telah memberikan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan S3 ( Doktor ) Pendidikan Islan di Universitan Islam Negeri ( UIN ) Sunan Gunung Djati Bandung  Semoga dengan menempuh S3 akan mengangkat derajat dan menjadikan kita termasuk orang- orang betrtaqwa dan berilmu pengetahuan. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad saw.Serta keluarga dan para sahabatnya . Aamin.
Makalah Filsafat Ilmu dengan Dosen Prof Dr H. Nanat  Fatah Natsir Dan Ibu Hj, Erni Haryanti. MA.   Ph. D dengan judul  “ Kajian kritis terhadap konsep  penalaran logika, sumber pengetahuan dan kriteria kebenaran ilmu pengetahuan modern yang bersumber pada tradisi filsafat Yunani “
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penulis senantiasa mengharap kritik, saran dan bimbingan yang membangun demi kesempurnaan penulisan makalah  ini.

Bandung , 21 September 2019
Kelompok 1


 
Ike Nilawati Rohaenah.
Agus Kusnayat
Hj. Rida Nurfarida






DAFTAR   ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………
i
DAFTAR  ISI  …………………………………………………
ii
1.     Pengertian Logika ………………………………………..
1
2.     Sejarah logika …………………………………………….
3
3.     Logika sebagai matematika murni ………………………..
6
      4. PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN ……
7
               4.1   Pengertian Pengetahuan ………………………….
7
               4.2   Pengertian Ilmu Pengetahuan ………………….
8
               4.3  Cara Kerja Ilmu Empirisa………………………..
11
               4..4  Cara Kerja Ilmu-ilmu Deduktif …………………   
12
               4.5  Cara Kerja Ilmu-ilmu Empiris Yang Lebih Khusus:lmu Alam
13
              4.6. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
15
              4. 7.   TEORI KEBENARAN ……………………………

              4 .8.  PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN ………..
20
5.    Filsafat Yunani Kuno …………………………………….
23
DAFTAR PUSTAKA








KAJIAN KRITIS TERHADAP  KONSEP  PENALARAN LOGIKA, SUMBER PENGETAHUAN  DAN KRITERIA KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN  MODEREN YANG BERSUMBER PADA TRADISI FILSAFAT YUNANI

Pengertian Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (bahasa Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].
Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa diartikan dengan masuk akal.
Logika sebagai ilmu pengetahuan
Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang objek materialnya adalah berpikir dengan penalaran, dan objek formal logika adalah penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.
Logika sebagai cabang filsafat
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini berarti logika dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk menaruh pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran.
Dasar-dasar logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.
Penalaran deduktif
Penalaran deduktif, kadang disebut logika deduktif, adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
  1. Setiap mamalia punya sebuah jantung
  2. Semua kuda adalah mamalia
  3. Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif
Penalaran induktif, kadang disebut logika induktif, adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
  1. Kuda Sumba punya sebuah jantung
  2. Kuda Australia punya sebuah jantung
  3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
  4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
  5. Setiap kuda punya sebuah jantung
Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan deduktif.

Deduktif
Induktif
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar.
Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tetapi tak pasti benar.
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.
Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.

2.Sejarah logika
Masa Yunani Kuno
Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
  • Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
  • Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
  • Air jugalah uap
  • Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.
Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.
Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:
  1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
  2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
  3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
  4. Analytica Priora tentang Silogisme.
  5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
  6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika.
Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.
Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles.
Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.
St. Yohanes dari Damaskus (674 - 749) menerbitkan Fons Scienteae.
Abad pertengahan dan logika modern
Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.
St. Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika.[2]
Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:
Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding
Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.
J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic
Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:
Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di Johns Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs)
Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain.
3        Logika sebagai matematika murni
Logika masuk ke dalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik). Logika tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.
Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Kegunaan logika
  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
  5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan, serta kesesatan.
  6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  7. Terhindar dari klenik, tahayul, atau kepercayaan turun-temurun (bahasa Jawa: gugon-tuhon)
  8. Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
Macam-macam logika
Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.

Logika ilmiah
Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan asas-asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.[3]
4. PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
4.1 Pengertian Pengetahuan
Bagi manusia hal utama yang sangat penting bagi dirinya adalah keingintahuan tentang sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa apa saja, sesuatu yang tampak konkret, nyata seperti meja, kursi, teman, alat-alat kedokteran, buku ,dan lain sebagainya. Baginya apa yang nampak dan diketahuinya akan menjadi sebuah pengetahuan, yang sebelumnya belum pernah dikenalnya. Untuk mendapatkan pengetahuan itu, maka pengenalan akan pengalaman indrawi sangat menentukan. Seseorang dapat membuktikan secara indrawi,secara konkret, secara faktual, dan bahkan ada saksi yang mengatakan, bahwa benda itu,misalnya kursi, memang benar ada dan berada di ruang kerja seseorang. Dengan pembuktian secara indrawi: karena sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman,daya pengecap, dan argumen-argumen yang menguatkannya, maka sebenarnya telah muncul suatu kebenaran tentang pengetahuan itu. Bagaimana sebenarnya pengetahuan berasal? Pengetahuan muncul karena adanya gejala. Gejala-gejala yang melekat pada sesuatu misalnya bercak-bercak merah pada kulit tubuh manusia, aroma bau tertentu karena seseorang sedang membakar sate ayam, bau yang menyengat karena sudah lamagot itu tidak dibersihkan, semua gejala itu muncul dihadapan kita. Kita harus“menangkap” gejala itu atas dasar pengamatan indrawi, observasi yang cermat, secara empiris dan rasional. Pengetahuan yang lebih menekankan adanya pengamatan dan pengalaman indrawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori.Selain telah mengenal adanya pengetahuan yang bersifat empiris, maka pengetahuan empiris tersebut harus dideskripsikan, sehingga kemudian kita mengenal adanya pengetahuan deskriptif. Pengetahuan deskriptif muncul bila seseorang dapat melukiskan, menggambarkan segala ciri, sifat, gejala yang nampak olehnya, dan penggambaran tersebut atas dasar kebenaran (objektivitas) dari berbagai hal yangdiamatinya itu.Pengalaman pribadi manusia tentang sesuatu dan terjadi berulang kali juga dapat membentuk suatu pengetahuan baginya. Sebagai contoh, Ani merasa bahwa ia akan terlambat kuliah di kampus (kuliah di mulai pukul 9 pagi) apabila berangkat dari rumah pukul 7.30 pagi, karena perjalanan ke kampus membutuhkan waktu 2 jam. Selama ini ia sering terlambat masuk kuliah karena berangkat dari rumah pukul 7.30 pagi. Untuk ituia telah berpikir dan memutuskan bahwa setiap hari ia harus berangkat pukul 6.30 agar tidak terlambat di kampus. Contoh tersebut menunjukkan bahwa pemikiran manusia atau kesadaran manusia dapat dianggap juga sebagai sumber pengetahuan dalam upaya mencari pengetahuan. Selain pengamatan yang konkret atau empiris, kekuatan akal bud isangatlah menunjang. Kekuatan akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme,(yaitu pandangan yang bertitik tolak pada kekuatan akal budi) lebih menekankan adanya pengetahuan yang sifatnya apriori, suatu pengetahuan yang tidak menekankan pada pengalaman. Matematika dan logika adalah hasil dari akal budi, bukan dari pengalaman.Sebagai contoh, dalam logika muncul pertanyaan: “  jika benda A tidak ada, maka dalamwaktu yang bersamaan, benda itu, A tidak dapat hadir di sini” , dalam matematika, perhitungan 2+2=4, penjumlahan itu sebagai sesuatu yang pasti dan sangat logis.
4.2  Pengertian Ilmu Pengetahuan
Sebuah pernyataan yang muncul dibenak setiap orang, sebenarnya ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah itu apa? Apakah ada perbedaan antara  pengetahuan dengan ilmu pengetahuan? Untuk menjawab hal itu perlulah kita mengulasnya dengan cermat. Ilmu pengetahuan muncul karena adanya pengalaman manusia ketika ia mendapatkan pengetahuan tertentu melalui proses yang khusus.Sebuah cerita tentang Newton, bagaimana ia menemukan teori gravitasi dalam ilmu fisika bermula ketika ia merasakan sesuatu, yaitu apel yang jatuh dan menimpa kepalanya saat sedang duduk di bawah pohon apel. Pengalaman tentang sesuatu itulah yang menyebabkan orang kemudian berpikir dan berpikir lebih lanjut tentang sebab peristiwa tersebut. Berkat ketekunan, kesabaran, keingintahuan serta didukung dengan kepandaian dan intelegensi yang memadai dan daya kreativitas yang tinggi seseorang dapat menciptakan teori-teori atau hukum atau dalil dan teori-teori tersebut agar dapat diterapkan bagi kepentingan umat manusia. Munculnya teknologi atau hasil dari ilmu pengetahuan (berupa benda-benda di sekeliling manusia seperti misalnya mobil, pesawat terbang, kereta api, komputer, telpon selular, dan sebagainya), dari masa kemasa telah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memang mengalami kemajuan yang sangat pesat.Tetapi pengalaman yang bersifat indrawi belumlah cukup untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Pengalaman indrawi tersebut harus mengalami proses ilmiah yang lebih lanjut, dan hal ini dikenal sebagai proses metodologis. Proses metodologis adalah uatu proses kerja di dalam kegiatan ilmiah (misalnya dapat berada dalam suatu laboratorium) untuk mengolah gejala-gejala pengetahuan dan bertujuan mendapatkan kebenaran dari gejala-gejala tersebut. Untuk itulah di dalam setiap proses metodologisa tau proses kegiatan ilmiah, observasi atau pengamatan yang cermat terhadap objek  penelitian haruslah diperhatikan dengan benar. Pengamatan secara empiris atau indrawiyang didukung dengan alat bantu tertentu seperti misalnya mikroskop, tape recorder  atau kuesioner sangat membantu bagi seorang peneliti dalam mencari dan menemukan fakta penelitiannya. Hasil dari ilmu pengetahuan yang mendasarkan pada pengamatan indrawi dan faktual disebut sebagai ilmu pengetahuan empris. Ini berarti bahwa ilmu empiris bergantung pada objek penelitian yang sangat konkret dan terlihat, tersentuh,terdengar dan tercium oleh panca indra manusia. Di sisi lain, ilmu pengetahuan haruslah dapat dilukiskan, digambarkan, diuraikan secara tertulis tentang segala ciri-ciri, sifat maupun bentuk dari gejala-gejalanya, dan ilmu pengetahuan semacam itu disebut sebagai ilmu pengetahuan deskriptif. Contoh ilmu empiris adalah antara lain: ilmu kedokteran, antropologi, arkeologi, ilmu teknik, biologi, ilmu kimia, ilmu fisika, sedang contoh ilmu deskriptif adalah antara lain: ilmu filsafat, susastra, ilmu kedokteran, biologi, ilmu keperawatan, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.Bagi seorang ilmuwan lingkup ilmiah sangat mendukung dalam proses penelitiannya. Lingkup ilmiah tersebut haruslah sangat dikenal dan diakrabinya. Iaharus mengenal tentang langkah-langkah dalam kegiatan penelitiannya atau istilah teknis dalam kegiatan penelitian. Ia harus dapat berpikir logis, runtut dalam setiap langkah ataupun tahapan dalam setiap penelitiannya. Tahapan penelitian atau cara kerja ilmiah lazimnya dilalui dengan proses penalaran yang meliputi , misalnya :
a). Observasi yaitu pengamatan terhadap objek penelitian yang sifatnya konkret seperti manusia, bangunan, monumen, tumbuh-tumbuhan, penyakit dan sebagainya dan objek penelitian tersebut merupakan fenomena bagi penelitian seseorang atau peneliti. b). Fakta yaitu suatu realitas yang dihadapi seorang peneliti, sesuatu yang saya lihat atau sesuatu tentang apa yang terjadi yang berkaitan dengan gejala dalam fenomena seseorang.c). Data yaitu hasil atau sejumlah besaran atau kuantitas yang berasal dari fakta yang telah ditemukan oleh si peneliti. Di dalam data inilah seorang peneliti telah menemukan gejala yang lebih bersifat kuantitatif dan konkret/faktual dari objek  penelitiannya, misalnya jumlah rumah sakit swasta yang ada di DKI Jakarta ada 30 buah; penderita diabetes mellitus pada Puskesmas Rawamangun pada bulan Maret2006 berjumlah 10 orang, dan sebagainya.d). Konsep merupakan pengertian atau pemahaman tentang sesuatu (yang berasal dari fakta), dan pemahaman itu berada pada akal budi atau rasio manusia. Konsep selalu dipikirkan oleh manusia, dan oleh karenanya menjadi pemikiran manusia. Bagi seseorang atau peneliti yang memiliki konsep tertentu atau konsep tentang sesuat umaka konsep tersebut harus dituliskan agar dapat dipahami oleh orang lain.e) Klasifikasi atau penggolongan atau kategori adalah mengelompokkan gejala atau data penelitian ke dalam kelas-kelas atau penggolongan ataupun kategori atas dasar kriteria-kriteria tertentu. Syarat klasifikasi atau penggolongan ataupun kategor iharuslah memiliki ciri, sifat yang homogen atau sama. Apabila ciri, sifat dari gejala itu tidak sama, maka klasifikasi dari suatu gejala atau data penelitian tersebut tidak menunjukkan kadar ilmiah yang benar.f) Definisi yaitu merumuskan tentang sesuatu atau apa yang disebut ( definiendum ) dengan perumusan tertentu atau apa yang dinamakan ( definiens ). Definisi membantuseorang peneliti atau ilmuwan untuk merumuskan tentang sesuatu/ hal itu agar orang lain lebih mudah memahami perumusan tersebut. Untuk itu ada beberapa jenis definisi yang dijelaskan sebagai berikut :(1). Definisi etimologis yaitu menjelaskan sesuatu atas dasar asal katanya. Misalnya kata biologi berasal dari bahasa Yunani (  bios  dan logos ), yang artinya ilmuyang mempelajari tentang mahluk hidup (2). Definisi stipulatif adalah merumuskan sesuatu atau istilah tertentu yang akandigunakan untuk masa depan. Pengertian masa depan adalah suatu pengerti-anyang diarahkan pada kegiatan seminar, ceramah, isi buku dan dalam kegiatan ilmiah tertentu istilah-istilah yang baru dimunculkan.(3). Definisi deskriptif merumuskan tentang sesuatu atas dasar sejarah, ciri, sifat,kriteria-kriteria yang ada pada sesuatu atau gejala-gejala itu.(4). Definisi operasional merumuskan tentang pelaksanaan atau cara kerja dari fungsi dan peran gejala, alat atau benda tertentu. Definisi operasional lazim digunakan dalam ilmu teknik, ilmu pengetahuan kealaman.(5). Definisi persuasif merumuskan sesuatu dengan tujuan agar rumusan tersebut dapat mempengaruhi pemikiran seseorang. Definisi persuasif sering dipakai dalam kegiatan periklanan yang ditayangkan dalam media elektronik maupun media cetak, kegiatan kampanye politik dan sebagainya.Definisi yang telah disebutkan di atas ternyata harus dipahami bahwa setiap perumusan definisi selalu menggunakan pernyataan bahasa. Bagi ilmu pengetahuan maka bahasa memegang peran penting, karena dapat mengungkapkan segala kegiatan penelitian seorang ilmuwan baik itu secara lisan maupun tertulis. Terutam adalah bahasa tulisan, maka bahasa ilmiah (bahasa ilmu) yaitu bahasa yang digunakan seorang ilmuwan dalam penelitiannya sangatlah penting karena segalaupaya pembenaran metodologisnya berada di dalamnya seperti penjelasan dalam perumusan hipotesa, konsep, definisi, teori dan sebagainya.Langkah proses penalaran pada penelitian berikutnya yaitu:g). Hipotesa adalah suatu ramalan atau prediksi dalam kegiatan penelitian yang harus dibuktikan kebenarannya. Dalam hipotesa tersebut, perumusan masalah sangatlah penting. Seorang peneliti harus mampu merumuskan permasalaan penelitian dengan cermat dan teliti. Dan atas dasar hipotesa tersebut, maka ilmuwan atau peneliti akan menganalisanya lebih lanjut.h). Teori adalah hubungan yang sedemikian rupa antara gejala satu dengan gejala lainnya dan hubungan tersebut telah dibuktikan kebenarannya. Sebenarnya, teori yang telah teruji kebenarannya berasal dari hipotesa yang telah ada (yang sebenarnya berasal dari kerja keras si ilmuwan, usaha yang tak mengenal lelah danselalu melakukan trial   dan error  , uji coba dan pada akhirnya si ilmuwan itu membuahkan hasil teori yang sahih).
4.3 Cara Kerja Ilmu Empirisa.
a) Pengertian Ilmu Empiris
Ilmu Empiris adalah ilmu yang bertitik tolak pada pengalaman indrawi.Pengalaman indrawi diartikan sebagai sentuhan, penglihatan, penciuman, pengecapans eseorang terhadap sesuatu yang diamatinya. Dengan demikian pengalaman indrawidari seorang ilmuwan berkaitan dengan objek penelitian yang sifatnya sangat konkret,faktual. Dalam pengamatan atau observasi terhadap objek tersebut, seorang peneliti atau ilmuwan atau mahasiswa dapat menggunakan sarana untuk menunjang pengamatann yaitu. Sarana itu dapat berupa alat-alat seperti mikroskop, teleskop, thermometer, neraca ataupun alat-alat pengukur lainnya. Tujuan pengamatan untuk memperoleh ataupun menangkap semua gejala terhadap semua objek yang diamatinya serta menjelaskan dengan benar. Hasil dari pengamatan itu berupa data awal yang harus dicatat dengan cermat, yang kelak akan sangat berguna bagi analisis sebuah penelitian.
b). Objek Ilmu Empiris
Ilmu empiris memiliki objek yang dapat dibedakan dari dua aspek, yaitu objek materi dan objek formal. Objek materi berupa apa saja yang dapat dimati oleh manusia,seperti alam semesta, mahluk hidup di dunia ini, dan manusia. Objek forma adalah pokok perhatian seseorang terhadap sesuatu yang menjadi minatnya yang sanga tkhusus. Objek forma atau aspek yang khusus dalam ilmu empiris dapat berupa misalny aminat yang sangat tinggi tentang kesehatan manusia, tentang pertumbuhan dan perkembangan dari tumbuh-tumbuhan, dari hewan, serta adat istiadat suatu bangsa/masyarakat tertentu. Dari hasil objek forma yang beraneka ragam itulah memunculkan ilmu-ilmu tertentu yang sifatnya empiris, misalnya ilmu kedokteran, biologi, ilmu teknik, botani, zoologi, antropologi, ilmu sosial.
c). Pendekatan atau Metode Ilmu Empiris
Pendekatan atau metode merupakan cara seorang ilmuwan atau peneliti atau mahasiswa mendapatkan data saat ia sedang melakukan pengamatan. Lazimnya didalam ilmu empiris seorang ilmuwan atau mahasiswa menggunakan pendekatan atau metode induktif. Metode induktif adalah sebuah metode yang digunakan dalam ilmu empiris yang mencoba menarik kesimpulan dari penalaran yang bersifat khusus untuk sampai pada penalaran yang umum sifatnya. Pada penalaran yang sifatnya khusus itu. seorang pengamat akan mengamati beberapa hal atau sesuatu yang memiliki ciri-ciriyang khusus. Sebagai contoh, saat Toby melihat buah jeruk yang diletakkan di dalam sebuah keranjang, ia melihat bahwa keduapuluh jeruk itu berwarna kuning dan bentuknya bulat. Atas dasar itulah Toby menyimpulkan bahwa jeruk (yang berjumlah20) yang berada di dalam keranjang semuanya berwarna kuning dan bentuknya bulat.Metode induksi berguna bagi ilmu empiris karena mendasarkan pada pengamatan faktual dan dipakai sebagai landasan berpijak pada ilmu empiris.
4..4 Cara Kerja Ilmu-ilmu Deduktif
a). Pengertian Ilmu Deduktif 
Ilmu deduktif adalah ilmu pengetahuan yang membuktikan kebenaran ilmiah nya melalui penjabaran-penjabaran (=deduksi). Berbeda dengan ilmu empiris yang mendasarkan atas pengalaman indrawi, maka penjabaran-penjabaran itu melalui penalaran yang berdasarkan hukum-hukum serta norma- norma yang bersifat logis. Dari hukum-hukum serta norma-norma logis memunculkan suatu penalaran yang mencoba membuktikan sesuatu atas dasar perhitungan yang sangat pasti. Dengan demikian dalam ilmu deduktif terdapat suatu penalaran yang diperoleh dari kesimpulan yang bersifat umum untuk menuju ke penalaran yang bersifat khusus.Ilmu-ilmu deduktif dikenal sebagai ilmu matematik. Penalaran yang deduktif diperoleh dari penjabaran dalil-dalil, atau rumus-rumus yang tidak dibuktikan kebenarannya melalui penyelidikan empiris, melainkan melalui penjabaran dalil-dalilyang telah ada sebelumnya. Suatu dalil atau rumus mate-matika dibuktikan kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang telah ada atau dalil lain, berdasarkan suatu perhitungan/hitung-menghitung, ukur-mengukur, timbang-menimbang, bukan atas dasar observasi. Dalam membuktikan kebenaran itulah kita mengenal adanya, pada awalnya aritmatika, matematika, goniometri, ilmu ukur dan sebagainya. Asas matematika hanya mengenal “logika dua nilai” ( “two value logic” ) yaitu benar dan tidak benar (salah).Contoh yang sederhana adal dua ditambah dua adalah empat. Itu berarti penjumlahan tersebut memiliki nilai benar. Apabila kita mengatakan bahwa tiga dikalikan empat hasilnya lima belas, maka hasil itu dikatakan tidak benar (salah).
b). Objek Ilmu Deduktif 
Objek pada ilmu deduktif adalah angka atau bilangan yang mungkin jumlahny asatu atau lebih dari satu, yang kemudian dikenal dengan himpunan atau semacam deret.Objek tersebut sebenarnya sebagai sebuah lambang atau simbol yang digunakan sebagai relasi antar objek. Kita mengenal angka romawi (I, II, IV dan seterusnya) atau angka-angka yang lazim dikenal sebagai : 1, 2, 3, dan seterusnya, dan semuanya itu merupakan sebuah simbol atau lambang yang telah dikenal dan diakrabi oleh kita semua. Selain itudikenal juga simbol dalam bentuk lain seperti: +, -, >, <, Σ, , % dan sebagainya.Pemakaian simbol-simbol dalam ilmu deduktif berguna agar validitas atau keabsahan dari pembuktian penjabaran-penjabaran dalil atau axioma atau rumus terbukti tidak salah dan dianggap benar.
4.5 Cara Kerja Ilmu-ilmu Empiris Yang Lebih Khusus: Ilmu Alam
 Ilmu Hayatdan Ilmu-Ilmu Tentang Manusiaa). Cara Kerja Ilmu Alam
1)      Pengertian Tentang Ilmu
 Alam Ilmu alam adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah empiris, artinya gejala alam itu dianggap  berdasarkan prinsip-prinsip matematis”. Sejak itulah ilmu pengetahuan berkembang  pesat dengan pendekatan matematis yang diterapkan dalam kajiannya.Cara berpikir matematis mekanistis dalam revolusi ilmu pengetahuan yang dipelopori oleh Newton menjadi semacam "gaya" para intelektual untuk membuat analisis dalam penelitiannya. Pengamatan terhadap alam disekeliling para ilmuwan dilihat sebagai sesuatu yang dapat diukur, benda dianggap memiliki kriteria tertentu (berat, luas, isi dan sebagainya.). Dengan pengamatan semacam itulah, maka berbagai pendekatan terhadap cara kerja ilmu pengetahuan dikembangkan. Pendekatan yang bersifat kausalitas (hukum sebab akibat) sangat mewamai cara kerja ilmu pengetahuan.Benda atau sesuatu memiliki sifat seperti alam semesta, terstruktur, sehingga keteraturan hukum alam, atau sifat mekanistis itu menjadi fokus dalam cara kerja ilmu .Cara kerja ilmiah didukung dengan percobaan atau eksperimen yang selalu berusaha menyempurnakan hasil percobaannya itu melalui usaha trial and error  – uji coba.Dalam laboratorium percobaan itu didukung juga dengan sebuah “model”, suatu tiruandari objek yang sesungguhnya, yang kemudian dijadikan sebagai objek penelitian.Dengan model itu para peneliti dapat menganalisis dan mengembangkan penelitiannya dengan lebih sempurna.Akibat dari "perjalanan" dan proses revolusi ilmu pengeta-huan, memunculkan adanya nilai-nilai dasar yang tampil pada perubahan cara berpikir manusianya. Nilai-nilai dasar itu, pertama nilai alam. Alam semesta memiliki tata susunan yang berada pada hukum alam dan kosmos adalah sesuatu yang dianggap memiliki struktur tertentu.
Kedua, nilai budaya
Kemajuan manusia ditandai dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk memajukan kebudayaan manusia. Dengankemajuan manusia terutama dalam cara berpikir yang antroposentris, manusia mampu mengubah kebudayaannya dan teknologinya menjadi sesuatu yang sangat berarti dan bermakna bagi kehidupan manusia melalui proses belajar.
Ketiga, nilai ekonomi.
Nilaiini tercipta karena para pelaku revolusi ilmu pengetahuan memiliki semangat kerja yangtinggi. Para ilmuwan mulai menciptakan teknologi yang tepat guna bagi kebutuhanmasyarakat, sehingga diciptakan mesin untuk mengisi kebutuhan kehidupan manusiadalam berbagai sektor industri. Pada awalnya industri mula-mula berasal dari kerjarumahan (industri rumahan) hingga ke industri pabrikasi. Hasil atau barang yangdiciptakan berkat adanya mesin-mesin (industri pabrikasi) tersebut dan mampu menembus pasaran dengan daya jual yang tinggi. Dengan demikian tercipta adanya nilai ekonomis yang menuntut kemandirian, tanggung jawab serta kerjasama diantara para pelaku tersebut agar nilai ekonomis dapat dimanfaatkan tidak hanya bagi sekelompok orang saja tapi seluruh masyarakat.
4.6. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
a Kedudukan Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu atau Filsafat Ilmu Pengetahuan berasal dari tradisi Filsafat Barat.Sejak sekitar abad XIX dan diper-kenalkan oleh sekelompok ahli ilmu pengetahuankealaman yang berasal dari universitas Wina, maka Filsafat Ilmu menjadi mata ajarandari universitas tersebut. Para ahli ilmu pengetahuan kealaman yang berasal dari berbagai disiplin ilmu (ilmu kimia, fisika, matematika) antara lain Morits Schlick, HansHahn, Hans Reichenbach memberikan sumbangan yang besar dalam awal perkembangan filsafat ilmu. Mereka itu, dan dipelopori oleh Moritz Schlick tergabungdalam kelompok diskusi ilmiah, yang kemudian dikenal sebagai "Lingkaran Wina"( Viena Circle ). Kelompok atau lingkaran Wina menginginkan bahwa di dalam ilmu pengetahuan terdapat unsur pemersatu. Unsur pemersatu haruslah bertitik tolak pada  bahasa ilmiah dan cara kerja ilmiah yang pasti dan logis. Kelompok Wina menyebutnyau nsur pemersatu sebagai ilmu yang terpadu ( unified sciences ).Pada saat ini, filsafat ilmu menjadi sangat berkembang, menjadi kajian filsafatilmu yang lebih modern. Beberapa bidang keilmuan sangat membutuhkan tentang proses kerja ilmiah yang relevan dengan pokok perhatian atau fokus yang lebih spesifik.Salah satu contoh, adalah munculnya kajian tentang filsafat ilmu kedokteran, filsafatilmu sosial. Dalam kajian tersebut fokus filsafat ilmu diarahkan pada bagaimana ciri dancara kerja kegiatan ilmiah diterapkan pada persoalan manusia dan kesehatan atau kehidupan manusia dalam kehidupan sosial serta interaksi dengan masyarakat. Secarahistoris, filsafat ilmu telah diperkenalkan oleh bangsa Yunani, diawali oleh filsuf Aristoteles (abad VI seb.M). Dan dalam tradisi filsafat Barat telah dikenal pula adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema-tema tertentu. Tema-tema besar itu berupa ontologi, epistemologi dan aksiologi. Tema ontologi berbicara tentang problem"Ada", yaitu tema yang membahas masalah keberadaan tentang sesuatu, misalnya keberadaan mahluk hidup, alam semesta, yang semuanya itu merupakan keberadaan yang dapat ditangkap dan dibedakan secara empiris. Sisi lain terdapat keberadaan sesuatu yang tidak dapat ditangkap dan hadir secara empiris, atau konkret, yaitu metafisika. Metafisika (meta: di belakang, fisika: sesuatu yang konkret) adalah sebagai sesuatu yang mengkaji tentang berbagai hal seperti gagasan, idea, ataupun konsep.Gagasan ataupun konsep itu sebagai semacam prinsip yang muncul atas dasar penalaran manusia. Prinsip itu sendiri memang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tetapi orangakan mengenal prinsip tersebut apabila diaktualisasikan melalui sebuah tulisan. Sebagai contoh, gagasan Einstein tidak akan dikenal luas oleh masyarakat ilmuwan, apabila Einstein tidak membuktikan gagasannya tanpa menuliskan gagasannya itu melalui berbagai penelitiannya yang tidak kenal lelah secara  trial   error  (uji coba) yang kemudian dikenal sebagai teori relativitas.Tema kedua, epistemologi yaitu tema yang mengkaji tentang pengetahuan( episteme adalah pengetahuan). Dalam pembahasan tentang epistemologi (pengetahuan) dibahas berbagai hal seperti batas pengetahuan, sumber pengetahuan, serta kriteriatentang kebenaran. Batas pengetahuan adalah pengalaman manusia dalam mengkajisesuatu yang menjadi minat penelitiannya. Oleh karena itulah setiap ilmu pengetahuan,misalnya ilmu kedokteran dengan psikologi sangat berbeda, karena masing-masing ilmu memiliki ruang lingkup tersendiri (objek forma yang berbeda). llmu kedokteran membahas tentang masalah kesehatan manusia yang berkaitan dengan penyakit tertentu sedang psikologi membahas perilaku manusia dari aspek kejiwaannya. Sumber  pengetahuan manusia adalah akal budinya. Dengan akal budinya manusia mampu untuk  berpikir tentang sesuatu, memikirkan gagasan untuk menciptakan karya-karya seni ataupun teknologi, dengan akal budinya pula manusia dapat belajar, berhubungan dengan orang lain, mampu berdialog tentang apa saja dengan siapa saja. Sedang kriteria kebenaran sebagai upaya pencarian objektivitas terhadap pengenalan manusia yang bersifat empiris. Apa yang dilihat, misalnya sebuah kursi, maka kursi itu haruslah sesuai dengan kriteria kursi: memiliki kaki empat, sandaran, alas duduk, terbuat dari kayu.Atas dasar itulah maka objektivitas sebuah benda yang diamati memiliki kebenaran.Tema ketiga, aksiologi, yaitu tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Nilai diartikan sebagai sebuah penilaiantentang apa yang telah dilakukan oleh manusia dalam kaitannya dengan relasi manusia, baik atau buruknya tindakan manusia. Nilai ( value ) muncul dalam kehidupan manusia dalam bentuk sebagai nilai yang berada dalam sistem kemanusiaan seseorang, misalnyanilai moral/nilai etis, nilai budaya, nilai keagamaan / religius, nilai keindahan. Sebagai contoh, Tedy memiliki nilai moral yang tinggi, karena ia bekerja sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan kontraktor bangunan “Indah Selalu” dengan penuh tanggung.  jawab dan dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya. Ia tidak suka memfitnah ataupun menjelek-jelek teman sejawatnya dihadapan atasannya, agar supaya ia dapat menjadi orang kepercayaannya.Dari uraian yang telah dijelaskan di atas, maka sampailah kita pada pemetaanatau kedudukan filsafat ilmu apabila ia diletakkan pada lingkup ilmu filsafat. Agaknya lingkup epistemologi menjadi tempat yang tepat bagi filsafat ilmu.Filsafat ilmu membahas tentang persoalan ilmu pengetahuan dengan berbagai problematisnya, terutama yang berkaitan dengan metodologis atau pembenaran ilmiah.Dengan kata lain, ciri keilmiahan suatu ilmu pengetahuan dengan cara kerja ilmiahmenjadi bahan yang dikaji dalam filsafat ilmu. Sedang epistemologi membahas tentang batas, sumber dan kebenaran pengetahuan, yang semuanya itu memerlukan kajian yang bersifat rasional. Demikian juga filsafat ilmu mengkaji ciri dan cara kerja ilmu pengetahuan berlandaskan rasionalitas atau akal budi manusia. Ini berarti bahwa jembatan rasionalitas menjadi media bagi filsafat ilmu dengan aspek epistemologi untuk menemukan kebenaran ilmiah atau validitas ilmu pengetahuan.
b. Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Filsafat Ilmu
Tujuan mempelajari filsafat ilmu adalah (1) seseorang (peneliti, mahasiswa)dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis. (2) seseorang (peneliti, mahasiswa) dapatmelakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmukeperawatan, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya. (3) Seseorang (peneliti,mahasiswa) dapat memahami bahwa terdapat dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis, teknik,komputer) dengan masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contohdampak tersebut misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran masih sangatdilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuanterhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam karya ilmiah.
c. Cara Kerja dan Problema Filsafat Ilmu
Cara kerja filsafat ilmu haruslah dimulai dengan suatu anggapan bahwa setiapilmu pengetahuan dianggap sebagai ilmu yang bersifat sistematis (sistem dalam susunan penge-tahuan dan cara memperolehnya karena adanya berbagai hubungan gejala yangteratur sehingga merupakan suatu keseluruhan yang utuh), logis (gejala pengetahuandiamati dan dianalis secara rasional), intersubjektif (kepastian ilmu pengetahuan tidak melulu didasarkan pada emosi maupun pemahaman si ilmuwan tetapi didasarkan dandijamin oleh sistem pengetahuan itu sendiri), rasional serta memiliki cara kerja ilmu pengetahuan yang diupayakan pembenaran secara metodologis.Dengan demikan filsafat ilmu dapat melihat bahwa refleksi kritis terhadap ciridan cara kerja ilmu pengetahuan dapat menunjukkan adanya dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. . Aspek internal lebih diarahkan pada kegiatan ilmiahyang bersifat metodologis. Aspek internal atau context of justification sangat berkaitandengan pembenaran suatu pengetahuan. Sebagai contoh ilmu kedokteran, dan teknik akan menjadi sangat kokoh apabila secara de jure memiliki landasan filosofis yaitukebenaran epistemologis (teori kebenaran atau teori pengetahuan). Aspek eksternal atau context of discovery lebih mengarah pada hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologiyang dihasilkan oleh para ilmuwan di masa lalu hingga kini. Untuk itulah timbulnya lmu pengetahuan dan pelaksanaan aplikatifnya serta kegunaan ilmu itu dapat dtelusurisecara historis atau melalui sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rangka penelusuran secarahistoris, secara de facto hasil maupun teknologi ilmu diterima dan digunakan olehmanusia sesuai dengan kebutuhannya. Perkembangan teknologi akan menjadi berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dan perkembangan setiap ilmu itusendiri.
4.      7.   TEORI KEBENARAN
Di dalam bagian ini akan dijelaskan bahwa kebenaran dalam kegiatan ilmiah danfilsafat ilmu bersumber pada. kebenaran epistemologi. Kebenaran filsafat ilmu itumengacu pada teori pengetahuan. atau teori kebenaran klasik yang terkait dalam tradisifilsafat Barat. Teori pengetahuan dipandang sebagai teori kebenaran yang sifatnyauniversal dan berlaku umum untuk berbagai bidang keilmuan (misalnya ilmukedokteran, teknik, ilmu ekonomi, ilmu budaya dan sebagainya) yang bertujuan mencariobjektivitas dan kebenaran ilmiah.Teori pengetahuan atau teori kebenaran dalam epistemologi mengenal tiga teorikebenaran, yaitu teori korespondensi, teori koherensi dan teori pragmatik. Teori korespondensi adalah teori kebenaran yang bersumber dari persesuaian antara seorangsubjek dengan objek yang dilihatnya. Sebagai contoh, seseorang akan mengatakan bahwa yang dilihatnya adalah sebuah meja besi apabila kriteria akan meja besi (berkakiempat, terbuat dari besi) itu sesuai benar dengan meja itu. Ini berarti bahwa ada teorikorespondensi dalam kasus itu. Teori koherensi akan terjadi apabila ada persesuaian diantara beberapa subjek dengan objek yang diamatinya. Sebagai contoh, semua orang dirumah bapak Santoso setuju dan sepakat bahwa televisi itu memiliki antena yang berwarna merah. Hal itu menunjukkan bahwa ada kebenaran koherensi di antara semuaorang di rumah bapak Santoso. Sedang teori pragmatik adalah teori kebenaran yangterjadi karena ada manfaat serta kegunaan dari sebuah ilmu pengetahuan. Contoh, Tutiakan belajar dengan tekun di Fakultas Teknik Arsitektur agar ia cepat lulus menjadiseorang arsitek dan dapat segera bekerja.Teori kebenaran (teori korespondensi, koherensi dan pragmatik) yang ada padafilsafat ilmu adalah sebagai dasar
mencari kebenaran dalam setiap kegiatan ilmu pengetahuan. Dalam pencarian kebenaran itu, terjadi berbagai perubahan-perubahangejala, peningkatan ataupun kemajuan-kemajuan bagi ilmu itu sendiri Tiga teorikebenaran itupun mendukung pelaksanaan kegiatan ilmu secara konkret, yaitu sebagai penerapan antara sisi teoritis dengan sisi praktis, praktek dan kegunaannya.Di sisi lain, batas pengetahuan juga menjadi landasan dalam teori kebenaran.Apakah yang disebut sebagai batas pengetahuan itu? Batas pengetahuan adalah pengetahuan yang memiliki keluasan wilayah secara tertentu. Melalui keluasannya yangterukur itu, pengetahuan dibatasi oleh panca indera manusia. Dengan demikian sejauhmata memandang terhadap apa yang dilihat kita, maka hal menjadi pengetahuanmanusia. Ini berarti bahwa pengetahuan manusia bersumber pada indera manusia danhasil pengetahuan itu disebut sebagai pengetahuan indrawi atau pengetahuan empiris(empiris dari kata empêria yang artinya pengalaman manusia muncul karena diperoleholeh sentuhan indrawi). Selain pengetahuan indrawi, maka terdapat pengetahuan nonindrawi yang menjadi sumber pengetahuan manusia. Pengetahuan non indrawi adalah pengetahuan yang berasal dari akal budi manusia atau rasio manusia. Melalui akal budiatau rasio, manusia dapat berpikir, dapat memiliki gagasan atau ide dan hasil darikemampuan berpikir itu adalah pengetahuan non indrawi atau pengetahuan rasional.
 Bagaimana dengan struktur pengetahuan? Struktur pengetahuan juga menjadilandasan bagi teori kebenaran. Struktur pengetahuan adalah susunan dari berbagaielemen pengetahuan yang dilandasi dengan suatu konsep tertentu. Berbagai elemen pengetahuan seperti fenomena atau gejala atau sesuatu yang berada di depan kita(gunung, pasien, rumah, mobil ambulans) atau ide tentang masa depan sebuah negara,teori Newton, semua itu dapat menjadi elemen dari "bangunan" pengetahuan kita.Sebenarnya, bangunan pengetahuan itu merupakan kumpulan berbagai elemen yangdisusun sedemikian rupa hingga membentuk bangunan pengetahuan yang kokoh. Dalam proses kegiatan itu terdapat pelaku yang sangat berperan, yaitu subjek. Subjek diartikansebagai seseorang yang tertarik mencari pengetahuan dan pencarian tentang pengetahuan itu atas dasar minat serta keterarahan (intensionalitas). Dan yang dicaridalam pengetahuan adalah objek.Dengan demikian terdapat interaksi antara subjek dengan objek dalam pencarian pengetahuan. Struktur pengetahuan akan terjadi apabila ada hubungan atau interaksiantara subjek dengan objek 
4.8.  PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN
Paradigma ilmu haruslah dilihat sebagai sebuah model penyelidikan ilmiah yangdigunakan sebagai pola dasar untuk berpikir, merencanakan usulan penelitian, atau berbagai kasus penelitian seperti studi kasus pada ilmu-ilmu empiris, ilmu filsafat, danilmu pengetahuan alam. Tujuan paradigma ilmu adalah menemukan  kebenaran.Kebenaran ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak memiliki kemutlakan, tidak absolut.Setiap kebenaran yang dimunculkan oleh paradigma tertentu terbuka untuk difalsifikasiatau dikaji apabila kebenaran itu mulai digoyahkan oleh pendapat-pendapat baru.Seperti yang telah dijelaskan di atas, paradigma yang dianggap sebagai modelatau pola berpikir bagi seorang peneliti memiliki kriteria dasar, seperti nilai kualitas,nilai kuantitas, dan nilai kebenaran. Nilai-nilai yang dimiliki paradigma akanmembentuk sebuah model paradigma. Atas dasar itulah, penulis meletakkan modeldasar pada paradigma. Paradigma ilmu mengenal enam paradigma dasar, yaitu (1) paradigma kuantitatif, (2) paradigma kualitatif, (3) paradigma induktif-deduksi, (4) paradigma piramida atau limas ilmu, (5) paradigma siklus empiris, dan (6) paradigma"rekonstruksi teori".Paradigma kuantitatif adalah model penyelidikan ilmiah yang bertitik tolak pada perhitungan matematis. Objek penelitian yang menampilkan berbagai gejala ataufenomena empiris harus dilihat sebagai "elemen" yang dapat dihitung dengan perhitungan (besaran) tertentu dan untuk itu digunakan "alat" bantu perhitunganmatematis. Gejala-gejala medis pada si pasien seperti suhu tubuh dapat diukur denganalat pengukur. Gejala gempa dapat diukur besar tekanannya dengan skala Richter.Paradigma kualitatif adalah model penyelidikan ilmiah yang melihat kualitas-kualitasobjek penelitiannya seperti perasaan (emosi) manusia, pengalaman menghayati hal-halreligius (sakral), keindahan suatu karya seni, peristiwa sejarah, dan simbol-simbol ritualatau artefak tertentu. Kualitas-kualitas itu haruslah dinilai atau "diukur" berdasarkan pendekatan tertentu (rmsalnya menggunakan metode semiotik, metode hermeneutik,teori sistem) yang sesuai dengan objek kajiannya. Paradigma kualitatif menghindari perhitungan matematis, karena yang dicari adalah value 'nilai' yang muncul dari objek kajian yang bersifat khusus, bahkan sangat spesifik, unik, dan selalu mengandung meaning full action. Paradigma induktif-deduksi adalah model penyelidikan ilmiah yang digunakansebagai pola berpikir seorang peneliti untuk memiliki penalaran yang induktif  (mengambil kesimpulan dari hal-hal yang khusus untuk sampai pada hal yang umum)dan deduktif (mengambil kesimpulan dari penalaran yang bersifat umum untuk sampai pada hal-hal yang khusus). Paradigma induktif-deduktif dapat digunakan seseorangsccara bersamaan, artinya ia dapar berpikir induktif dahulu untuk kemudian berpikir secara deduktif, tetapi seseorang dalam proses kerja ilmiah dapat pula menggunakan penalaran induktif atau deduktif saja. Tujuan paradigma induktif-deduktif lebih bersifataplikatif dalam penalaran dan digunakan dalam suatu penelitian ilmiah agar seseorangdapat memiliki penalaran yang logis dan konsep berpikir yang runtut. Sebagai contoh, penalaran induktif-deduktif dapat diterapkan ketika mencari data, mengkategorisasidata, perumusan masalah, dan sebagainya.Paradigma piramida atau Limas Ilmu adalah model penyelidikan ilmiah denganmenggunakan konsep yang bertujuan mengkonstruksi tahapan-tahapan kegiatan ilmiahsecara berlapis-lapis seperti bentuk piramida. Bagian bawah piramida merupakan bagianyang paling dasar dan paling luas, sedangkan makin ke atas luas lapisan piramida makin berkurang. Lapisan teratas merupakan kerucut piramida. Lapisan-lapisan itudimaksudkan sebagai gambaran proses penelitian yang mengacu tahapan-tahapanobservasi, data, hipotesis, pengujian hipotesis, dan hasil penelitian yang berupa teori baru. Pola pikir seorang ilmuwan dibentuk seperti model piramida berlapis: semakin keatas tujuan penelitian makin tercapai dan pada puncak kerucut merupakan gambaranditemukannya sebuah teori baru. Bentuk atau model piramida lain adalah piramidaganda. Piramida ganda atau bahkan menjadi piramida-piramida lain akan munculapabila seseorang mampu membuat piramida lain atas dasar landasan piramida yangtelah ada.Bagan. Model Piramida IlmuPiramida gandaPiramida terbalik Piramida terbalik adalah suatu kerangka berpikir atau model piramida yang berlandaskan sebuah teori. Kegiatan penelitian yang menggunakan model piramidaterbalik memulai proses kerjanya dari sebuah teori (teori yang telah dianggap baku).Melalui teori, seorang peneliti akan memulai kegiatannya dengan observasi terhadapteori tersebut. Observasi menentukan langkah berikutnya, yahu tahap-tahap penelitianatau lapisan piramida seperti data, permasalahan (hipotesis), pembuktian-pengujianhipotesis, dan hasil penelitian yang berupa teori baru.Paradigma siklus empiris sangat diakrabi ilmu-ilmu empiris. Paradigma tersebutmembutuhkan langkah awal, yaitu observasi yang bersifat induktif Beberapa tokohseperti de Groot dan Walter Wallace menampilkan siklus empiris yang beranjak pada pengamatan faktual. Pada umumnya, paradigma siklus empiris memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan dan hubungan-hubungan yang sedemikian rupatersebut dapat dievaluasi secara siklus (periodik, berkala). Tahapan-tahapan dalam50
Description: https://html2-f.scribdassets.com/3i4pfy7f402v44mz/images/14-2de04cf638.jpg
 
siklus empiris akan membentuk pola berpikir bagi subjek (Ilmuwan/peneliti) dalammelakukan kegiatan ilmiahnya. Walter Wallace mencoba menjelaskan paradigma siklusempiris secara rinci dengan memperhatikan unsur metodologis. Paradigma siklusempiris adalah model penyelidikan ilmiah yang sifatnya berkala, memiliki beberapaelemen yang terdiri dari komponen informasi (data, konsep, kategori) dan komponenkontrol metodologis (evaluasi, pengujian, teori). Setiap komponen dapat terdiri dari beberapa komponen dan disusun sedemikan rupa sehingga membentuk hubungan yangnantinya digunakan dalam proses kegiatan ilmiah. Kemampuan seseorang dalammengolah data dan pengujian hipotesis sangat menentukan hasil penelitiannya.Paradigma "rekonstruksi teori" adalah model penyelidikan ilmiah yang berusahamembangun (rekonstruksi) beberapa teori atau metode yang digunakan dalam sebuah penelitian. Tujuan digunakannya paradigma rekonstruksi teori adalah untuk menunjang proses penelitian agar berjalan lebih sempurna sehingga kebenaran ilmiahnya pun dapatterjaga sesuai dengan proses metodologis yang berlaku. Untuk itu, apabila seseorangingin menggunakan paradigma "rekonstruksi teori" harus memahami dengan benar teori-teori yang akan digunakannya dan memastikan dengan benar bahwa teori-teori itusaling menunjang dan berguna (dapat diterapkan) dalam penelitiannya. Berbagai pertimbangan yang sifatnya rasional, misalnya penguasaan teori dan kemampuanmenerjemahkannya secara aplikatif, harus menjadi pertimbangan utama apabilaseseorang akan menggunakan paradigma "rekonstruksi teori".Semua paradigma yang ada dapat digunakan oleh seorang peneliti dalam penelitiannya. Sebagai konsep berpikir, model penyelidikan ilmiah sangatlah abstrak.Paradigma digunakan untuk tujuan menuntun pola pikir seseorang ke arah normametodologis sehingga secara dejure dapat dipertahankan secara benar dan sahih.Paradigma ilmu dapat diperkaya apabila si ilmuwan mampu merekonstruksikan berbagai teori yang telah ada. Rekonstruksi tersebut harus disertai dengan sebuah"catatan" bahwa berbagai teori yang akan direkonstruksi harus saling menunjang dansesuai dengan tujuan penelitian. Kemampuan ilmuwan mengabstraksi sangat diperlukanagar rekonstruksi terhadap sebuah paradigma menjadi lebih sahih dan menunjangkebenaran ilmiah[4]
5.                  Filsafat Yunani Kuno
Muncul pada abad ke 6 SM berlangsung hingga pada Zaman Klasik atau pada Periode Hellenistik[5]. Berbagai disiplin ilmu yang termasuk filsafat politik, etika, metafisika, ontologi, logika, biologi, retorika, dan estetika menjadi pembahasan di masa Yunani Kuno.
Banyak ahli filsuf meyakini bahwa budaya barat berasal dari filosofi Yunani. Alfred North Whitehead mencatat bahwa "Secara garis besar bentuk filsafat barat berasal dari catatan Plato".[6] Pengaruh ini berlangsung dari Yunani kuno hingga Abad Pencerahan.
Beberapa klaim bahwa filsafat Yunani juga mempengaruhi ilmu kosmologi dan literatur naskah kuno di Timur dekat kuno. Martin Litchfield West memberikan klarifikasi "hubungan kosmologi dan teologi Asia membantu para para filsuf Yunani memberikan gambaran atau ide dalam mengajarkan ilmu filsafat. Hal tersebut kita sadari sebagai filsafat Yunani."[7]
Tradisi filsafat konvensional selanjutnya banyak yang merujuk ke Socrates. Hal ini terjadi hingga berakhirnya masa Yunani kuno.


DAFTAR   PUSTAKA

Alexander The Great and the Hellenistic Age. Green P. ISBN 978-0-7538-2413-9 diakses  Kamis 19-9-2019 pukul 5 : 26 AM
Alfred North Whitehead, Process and Reality, Part II, Chap. I, Sect. I diakses Kamis 19-9-2019 pukul 5 : 27 AM
Griffin, Jasper; Boardman, John; Murray, Oswyn (2001). The Oxford history of Greece and the Hellenistic world. Oxford [Oxfordshire]: Oxford University Press. hlm. 140. ISBN 0-19-280137-6 diakses Kamis 19-9-2019 pukul  5: 28 AM
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Logika&action=edit&section=1
Jan Hendrik Rapar. 1996. Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8




[1] Jan Hendrik Rapar. 1996. Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8
1.       Jan Hendrik Rapar. 1996.   Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis.   Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8
2.       Jan Hendrik Rapar. 1996 ibid




[3] https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Logika&action=edit&section=1
[5] Alexander The Great and the Hellenistic Age. Green P. ISBN 978-0-7538-2413-9 diakses  Kamis 19-9-2019 pukul 5 : 26 AM
[6] Alfred North Whitehead, Process and Reality, Part II, Chap. I, Sect. I diakses Kamis 19-9-2019 pukul 5 : 27 AM
[7] Griffin, Jasper; Boardman, John; Murray, Oswyn (2001). The Oxford history of Greece and the Hellenistic world. Oxford [Oxfordshire]: Oxford University Press. hlm. 140. ISBN 0-19-280137-6 diakses Kamis 19-9-2019 pukul  5: 28 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar