KAJIAN KRITIS TERHADAP
KONSEP PENALARAN LOGIKA, SUMBER
PENGETAHUAN DAN KRITERIA KEBENARAN ILMU
PENGETAHUAN MODEREN YANG BERSUMBER PADA
TRADISI FILSAFAT YUNANI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan taufik serta
hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk
menempuh pendidikan S3 ( Doktor ) Pendidikan Islan di Universitan Islam Negeri
( UIN ) Sunan Gunung Djati Bandung
Semoga dengan menempuh S3 akan mengangkat derajat dan menjadikan kita
termasuk orang- orang betrtaqwa dan berilmu pengetahuan. Sholawat dan salam
semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad saw.Serta keluarga dan para
sahabatnya . Aamin.
Makalah Filsafat Ilmu dengan Dosen Prof Dr
H. Nanat Fatah Natsir Dan Ibu Hj, Erni
Haryanti. MA. Ph. D dengan judul “ Kajian kritis terhadap konsep penalaran logika, sumber pengetahuan dan
kriteria kebenaran ilmu pengetahuan modern yang bersumber pada tradisi filsafat
Yunani “
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam
penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penulis
senantiasa mengharap kritik, saran dan bimbingan yang membangun demi
kesempurnaan penulisan makalah ini.
Bandung , 21 September 2019
Kelompok 1
|
Agus Kusnayat
Hj. Rida Nurfarida
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………
|
i
|
DAFTAR ISI …………………………………………………
|
ii
|
1.
Pengertian
Logika ………………………………………..
|
1
|
2.
Sejarah
logika …………………………………………….
|
3
|
3.
Logika
sebagai matematika murni ………………………..
|
6
|
4. PENGETAHUAN DAN
ILMU PENGETAHUAN ……
|
7
|
4.1 Pengertian Pengetahuan ………………………….
|
7
|
4.2 Pengertian Ilmu Pengetahuan ………………….
|
8
|
4.3 Cara Kerja Ilmu Empirisa………………………..
|
11
|
4..4
Cara Kerja Ilmu-ilmu Deduktif …………………
|
12
|
4.5
Cara Kerja Ilmu-ilmu Empiris Yang Lebih Khusus:lmu Alam
|
13
|
4.6.
PENGERTIAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
|
15
|
4. 7.
TEORI KEBENARAN ……………………………
|
|
4 .8. PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN ………..
|
20
|
5. Filsafat Yunani Kuno
…………………………………….
|
23
|
DAFTAR PUSTAKA
|
KAJIAN KRITIS TERHADAP
KONSEP PENALARAN LOGIKA, SUMBER
PENGETAHUAN DAN KRITERIA KEBENARAN ILMU
PENGETAHUAN MODEREN YANG BERSUMBER PADA
TRADISI FILSAFAT YUNANI
Pengertian Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran
yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah
satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (bahasa Latin: logica scientia)
atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat,
dan teratur[1].
Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi
untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan
tersebut bisa diartikan dengan masuk akal.
Logika sebagai ilmu pengetahuan
Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang objek materialnya
adalah berpikir dengan penalaran, dan objek formal logika adalah penalaran yang
ditinjau dari segi ketepatannya.
Logika sebagai cabang filsafat
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini
berarti logika dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir
bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk menaruh pikiran-pikirannya serta
pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah
pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan
penalarannya.
Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari
sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari
kebenaran.
Dasar-dasar logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan
oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen,
yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan
(premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern
adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.
Penalaran deduktif
Penalaran deduktif, kadang disebut logika deduktif, adalah
penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan
deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi
logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak
valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika
dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
- Setiap
mamalia punya sebuah jantung
- Semua
kuda adalah mamalia
- Setiap
kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif
Penalaran induktif, kadang disebut logika induktif, adalah penalaran
yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan
umum.
Contoh argumen induktif:
- Kuda
Sumba punya sebuah jantung
- Kuda
Australia punya sebuah jantung
- Kuda
Amerika punya sebuah jantung
- Kuda
Inggris punya sebuah jantung
- Setiap
kuda punya sebuah jantung
Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan
penalaran induktif dan deduktif.
Deduktif
|
Induktif
|
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar.
|
Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tetapi tak pasti
benar.
|
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya
secara implisit, dalam premis.
|
Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit,
dalam premis.
|
2.Sejarah logika
Masa Yunani Kuno
Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan
cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan
rahasia alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani)
yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah
mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica
scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air
adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta yang menurut
Aristoteles disimpulkan dari:
- Air
adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
- Air
adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
- Air
jugalah uap
- Air
jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah
arkhe alam semesta.
Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika
telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.
Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica
, yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus
meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan
kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:
- Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
- De
interpretatione
tentang keputusan-keputusan
- Analytica
Posteriora tentang
pembuktian.
- Analytica
Priora tentang Silogisme.
- Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
- De
sohisticis elenchis
tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika.
Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari
Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan
menerapkan metode geometri.
Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae,
salah satu buku Aristoteles.
Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.
Abad pertengahan dan logika modern
Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione,
Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.
- Petrus Hispanus (1210 - 1278)
- Roger Bacon (1214-1292)
- Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang
dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
- William Ocham (1295 - 1349)
Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni
diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John
Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding
Francis
Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum
Organum Scientiarum.
J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam
bukunya System of Logic
Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika
simbolik seperti:
- Gottfried
Leibniz
(1646-1716) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars
Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan
pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.
- George Boole (1815-1864)
- John Venn (1834-1923)
- Gottlob Frege (1848 - 1925)
Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di Johns Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia
memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika
selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs)
Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang
merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf
Carnap (1891-1970), Kurt
Godel (1906-1978), dan lain-lain.
3
Logika sebagai matematika murni
Logika masuk ke dalam kategori matematika murni karena matematika
adalah logika yang tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada
metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika
simbolik). Logika
tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode
geometri.
Puncak logika
simbolik terjadi pada
tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang
merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur
William Russel (1872 - 1970).
Kegunaan logika
- Membantu
setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional,
kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
- Meningkatkan
kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
- Menambah
kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
- Memaksa
dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas
sistematis
- Meningkatkan
cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir,
kekeliruan, serta kesesatan.
- Mampu
melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
- Terhindar
dari klenik, tahayul, atau kepercayaan turun-temurun (bahasa Jawa: gugon-tuhon)
- Apabila
sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis
sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri
seseorang.
Macam-macam logika
Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir
secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan
kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. Kemampuan logika alamiah manusia
ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan
dalam kehidupan nyata.
Logika ilmiah
Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan asas-asas yang
harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah
akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan
lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau,
paling tidak, dikurangi.[3]
4. PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
4.1 Pengertian Pengetahuan
Bagi manusia hal utama yang sangat penting bagi dirinya adalah
keingintahuan tentang sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa apa saja, sesuatu yang
tampak konkret, nyata seperti meja, kursi, teman, alat-alat kedokteran, buku
,dan lain sebagainya. Baginya apa yang nampak dan diketahuinya akan menjadi
sebuah pengetahuan, yang sebelumnya belum pernah dikenalnya. Untuk
mendapatkan pengetahuan itu, maka pengenalan akan pengalaman indrawi
sangat menentukan. Seseorang dapat membuktikan secara indrawi,secara konkret,
secara faktual, dan bahkan ada saksi yang mengatakan, bahwa benda itu,misalnya
kursi, memang benar ada dan berada di ruang kerja seseorang.
Dengan pembuktian secara indrawi: karena sentuhan, penglihatan,
pendengaran, penciuman,daya pengecap, dan argumen-argumen yang menguatkannya,
maka sebenarnya telah muncul suatu kebenaran tentang pengetahuan itu. Bagaimana
sebenarnya pengetahuan berasal? Pengetahuan muncul karena adanya gejala.
Gejala-gejala yang melekat pada sesuatu misalnya bercak-bercak merah pada kulit
tubuh manusia, aroma bau tertentu karena seseorang sedang membakar sate ayam,
bau yang menyengat karena sudah lamagot itu tidak dibersihkan, semua gejala itu
muncul dihadapan kita. Kita harus“menangkap” gejala itu atas dasar pengamatan
indrawi, observasi yang cermat, secara empiris dan rasional. Pengetahuan yang
lebih menekankan adanya pengamatan dan pengalaman indrawi dikenal sebagai
pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori.Selain telah mengenal adanya
pengetahuan yang bersifat empiris, maka pengetahuan empiris tersebut harus
dideskripsikan, sehingga kemudian kita mengenal adanya pengetahuan
deskriptif. Pengetahuan deskriptif muncul bila seseorang dapat melukiskan,
menggambarkan segala ciri, sifat, gejala yang nampak olehnya, dan penggambaran
tersebut atas dasar kebenaran (objektivitas) dari berbagai hal yangdiamatinya
itu.Pengalaman pribadi manusia tentang sesuatu dan terjadi berulang kali juga
dapat membentuk suatu pengetahuan baginya. Sebagai contoh, Ani merasa bahwa ia
akan terlambat kuliah di kampus (kuliah di mulai pukul 9 pagi) apabila
berangkat dari rumah pukul 7.30 pagi, karena perjalanan ke kampus
membutuhkan waktu 2 jam. Selama ini ia sering terlambat masuk kuliah karena
berangkat dari rumah pukul 7.30 pagi. Untuk ituia telah berpikir dan memutuskan
bahwa setiap hari ia harus berangkat pukul 6.30 agar tidak terlambat di
kampus. Contoh tersebut menunjukkan bahwa pemikiran manusia atau kesadaran
manusia dapat dianggap juga sebagai sumber pengetahuan dalam upaya mencari
pengetahuan. Selain pengamatan yang konkret atau empiris, kekuatan akal bud isangatlah
menunjang. Kekuatan akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme,(yaitu
pandangan yang bertitik tolak pada kekuatan akal budi) lebih menekankan
adanya pengetahuan yang sifatnya apriori, suatu pengetahuan yang tidak
menekankan pada pengalaman. Matematika dan logika adalah hasil dari akal
budi, bukan dari pengalaman.Sebagai contoh, dalam logika muncul pertanyaan: “ jika
benda A tidak ada, maka dalamwaktu yang bersamaan, benda itu, A tidak dapat
hadir di sini” , dalam matematika, perhitungan 2+2=4, penjumlahan itu
sebagai sesuatu yang pasti dan sangat logis.
4.2 Pengertian Ilmu
Pengetahuan
Sebuah pernyataan yang muncul dibenak setiap orang, sebenarnya
ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah itu apa? Apakah ada perbedaan
antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan? Untuk menjawab hal itu
perlulah kita mengulasnya dengan cermat. Ilmu pengetahuan muncul karena adanya
pengalaman manusia ketika ia mendapatkan pengetahuan tertentu melalui proses
yang khusus.Sebuah cerita tentang Newton, bagaimana ia menemukan teori
gravitasi dalam ilmu fisika bermula ketika ia merasakan sesuatu, yaitu apel
yang jatuh dan menimpa kepalanya saat sedang duduk di bawah pohon apel.
Pengalaman tentang sesuatu itulah yang menyebabkan orang kemudian berpikir dan
berpikir lebih lanjut tentang sebab peristiwa tersebut. Berkat ketekunan,
kesabaran, keingintahuan serta didukung dengan kepandaian dan intelegensi yang
memadai dan daya kreativitas yang tinggi seseorang dapat menciptakan
teori-teori atau hukum atau dalil dan teori-teori tersebut agar dapat diterapkan
bagi kepentingan umat manusia. Munculnya teknologi atau hasil dari
ilmu pengetahuan (berupa benda-benda di sekeliling manusia seperti
misalnya mobil, pesawat terbang, kereta api, komputer, telpon selular, dan
sebagainya), dari masa kemasa telah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memang
mengalami kemajuan yang sangat pesat.Tetapi pengalaman yang bersifat indrawi
belumlah cukup untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Pengalaman indrawi tersebut
harus mengalami proses ilmiah yang lebih lanjut, dan hal ini dikenal sebagai
proses metodologis. Proses metodologis adalah uatu proses kerja di dalam
kegiatan ilmiah (misalnya dapat berada dalam suatu laboratorium) untuk mengolah
gejala-gejala pengetahuan dan bertujuan mendapatkan kebenaran dari
gejala-gejala tersebut. Untuk itulah di dalam setiap proses metodologisa tau
proses kegiatan ilmiah, observasi atau pengamatan yang cermat terhadap
objek penelitian haruslah diperhatikan dengan benar. Pengamatan
secara empiris atau indrawiyang didukung dengan alat bantu tertentu seperti
misalnya mikroskop, tape recorder atau kuesioner sangat membantu bagi
seorang peneliti dalam mencari dan menemukan fakta penelitiannya. Hasil dari
ilmu pengetahuan yang mendasarkan pada pengamatan indrawi dan faktual disebut
sebagai ilmu pengetahuan empris. Ini berarti bahwa ilmu empiris bergantung pada
objek penelitian yang sangat konkret dan terlihat, tersentuh,terdengar dan
tercium oleh panca indra manusia. Di sisi lain, ilmu pengetahuan haruslah dapat
dilukiskan, digambarkan, diuraikan secara tertulis tentang segala ciri-ciri,
sifat maupun bentuk dari gejala-gejalanya, dan ilmu pengetahuan semacam itu
disebut sebagai ilmu pengetahuan deskriptif. Contoh ilmu empiris adalah antara
lain: ilmu kedokteran, antropologi, arkeologi, ilmu teknik, biologi, ilmu
kimia, ilmu fisika, sedang contoh ilmu deskriptif adalah antara lain: ilmu
filsafat, susastra, ilmu kedokteran, biologi, ilmu keperawatan, sosiologi,
antropologi, dan sebagainya.Bagi seorang ilmuwan lingkup ilmiah sangat
mendukung dalam proses penelitiannya. Lingkup ilmiah tersebut haruslah
sangat dikenal dan diakrabinya. Iaharus mengenal tentang langkah-langkah dalam
kegiatan penelitiannya atau istilah teknis dalam kegiatan penelitian. Ia harus
dapat berpikir logis, runtut dalam setiap langkah ataupun tahapan dalam setiap
penelitiannya. Tahapan penelitian atau cara kerja ilmiah lazimnya dilalui
dengan proses penalaran yang meliputi , misalnya :
a). Observasi yaitu pengamatan terhadap objek penelitian yang
sifatnya konkret seperti manusia, bangunan, monumen, tumbuh-tumbuhan, penyakit
dan sebagainya dan objek penelitian tersebut merupakan fenomena bagi penelitian
seseorang atau peneliti. b). Fakta yaitu suatu realitas yang dihadapi
seorang peneliti, sesuatu yang saya lihat atau sesuatu tentang apa yang terjadi
yang berkaitan dengan gejala dalam fenomena seseorang.c). Data yaitu hasil atau
sejumlah besaran atau kuantitas yang berasal dari fakta yang telah ditemukan
oleh si peneliti. Di dalam data inilah seorang peneliti telah menemukan gejala
yang lebih bersifat kuantitatif dan konkret/faktual dari
objek penelitiannya, misalnya jumlah rumah sakit swasta yang ada di
DKI Jakarta ada 30 buah; penderita diabetes mellitus pada Puskesmas
Rawamangun pada bulan Maret2006 berjumlah 10 orang, dan sebagainya.d). Konsep
merupakan pengertian atau pemahaman tentang sesuatu (yang berasal dari fakta),
dan pemahaman itu berada pada akal budi atau rasio manusia. Konsep selalu dipikirkan
oleh manusia, dan oleh karenanya menjadi pemikiran manusia. Bagi seseorang atau
peneliti yang memiliki konsep tertentu atau konsep tentang sesuat umaka konsep
tersebut harus dituliskan agar dapat dipahami oleh orang lain.e) Klasifikasi
atau penggolongan atau kategori adalah mengelompokkan gejala atau
data penelitian ke dalam kelas-kelas atau penggolongan ataupun kategori
atas dasar kriteria-kriteria tertentu. Syarat klasifikasi atau
penggolongan ataupun kategor iharuslah memiliki ciri, sifat yang homogen atau
sama. Apabila ciri, sifat dari gejala itu tidak sama, maka klasifikasi dari
suatu gejala atau data penelitian tersebut tidak menunjukkan kadar ilmiah
yang benar.f) Definisi yaitu merumuskan tentang sesuatu atau apa yang disebut (
definiendum ) dengan perumusan tertentu atau apa yang dinamakan ( definiens
). Definisi membantuseorang peneliti atau ilmuwan untuk merumuskan tentang
sesuatu/ hal itu agar orang lain lebih mudah memahami perumusan tersebut. Untuk
itu ada beberapa jenis definisi yang dijelaskan sebagai berikut :(1). Definisi
etimologis yaitu menjelaskan sesuatu atas dasar asal katanya. Misalnya kata
biologi berasal dari bahasa Yunani ( bios dan logos ), yang artinya ilmuyang
mempelajari tentang mahluk hidup (2). Definisi stipulatif adalah merumuskan
sesuatu atau istilah tertentu yang akandigunakan untuk masa depan. Pengertian
masa depan adalah suatu pengerti-anyang diarahkan pada kegiatan seminar,
ceramah, isi buku dan dalam kegiatan ilmiah tertentu istilah-istilah yang baru
dimunculkan.(3). Definisi deskriptif merumuskan tentang sesuatu atas dasar
sejarah, ciri, sifat,kriteria-kriteria yang ada pada sesuatu atau gejala-gejala
itu.(4). Definisi operasional merumuskan tentang pelaksanaan atau cara kerja
dari fungsi dan peran gejala, alat atau benda tertentu. Definisi operasional
lazim digunakan dalam ilmu teknik, ilmu pengetahuan kealaman.(5). Definisi
persuasif merumuskan sesuatu dengan tujuan agar rumusan tersebut dapat
mempengaruhi pemikiran seseorang. Definisi persuasif sering dipakai dalam
kegiatan periklanan yang ditayangkan dalam media elektronik maupun media cetak,
kegiatan kampanye politik dan sebagainya.Definisi yang telah disebutkan di atas
ternyata harus dipahami bahwa setiap perumusan definisi selalu menggunakan
pernyataan bahasa. Bagi ilmu pengetahuan maka bahasa memegang peran penting,
karena dapat mengungkapkan segala kegiatan penelitian seorang ilmuwan baik itu
secara lisan maupun tertulis. Terutam adalah bahasa tulisan, maka bahasa ilmiah
(bahasa ilmu) yaitu bahasa yang digunakan seorang ilmuwan dalam penelitiannya
sangatlah penting karena segalaupaya pembenaran metodologisnya berada di
dalamnya seperti penjelasan dalam perumusan hipotesa, konsep, definisi,
teori dan sebagainya.Langkah proses penalaran pada penelitian berikutnya
yaitu:g). Hipotesa adalah suatu ramalan atau prediksi dalam kegiatan penelitian
yang harus dibuktikan kebenarannya. Dalam hipotesa tersebut, perumusan masalah
sangatlah penting. Seorang peneliti harus mampu merumuskan permasalaan
penelitian dengan cermat dan teliti. Dan atas dasar hipotesa tersebut, maka
ilmuwan atau peneliti akan menganalisanya lebih lanjut.h). Teori adalah
hubungan yang sedemikian rupa antara gejala satu dengan gejala lainnya dan
hubungan tersebut telah dibuktikan kebenarannya. Sebenarnya, teori yang telah
teruji kebenarannya berasal dari hipotesa yang telah ada (yang sebenarnya
berasal dari kerja keras si ilmuwan, usaha yang tak mengenal lelah danselalu
melakukan trial dan error ,
uji coba dan pada akhirnya si ilmuwan itu membuahkan hasil teori yang sahih).
4.3 Cara Kerja Ilmu Empirisa.
a) Pengertian Ilmu Empiris
Ilmu Empiris adalah ilmu yang bertitik tolak pada pengalaman indrawi.Pengalaman
indrawi diartikan sebagai sentuhan, penglihatan, penciuman, pengecapans eseorang
terhadap sesuatu yang diamatinya. Dengan demikian pengalaman indrawidari
seorang ilmuwan berkaitan dengan objek penelitian yang sifatnya sangat
konkret,faktual. Dalam pengamatan atau observasi terhadap objek tersebut,
seorang peneliti atau ilmuwan atau mahasiswa dapat menggunakan sarana untuk
menunjang pengamatann yaitu. Sarana itu dapat berupa alat-alat seperti
mikroskop, teleskop, thermometer, neraca ataupun alat-alat pengukur lainnya.
Tujuan pengamatan untuk memperoleh ataupun menangkap semua gejala terhadap
semua objek yang diamatinya serta menjelaskan dengan benar. Hasil dari
pengamatan itu berupa data awal yang harus dicatat dengan cermat, yang kelak
akan sangat berguna bagi analisis sebuah penelitian.
b). Objek Ilmu Empiris
Ilmu empiris memiliki objek yang dapat dibedakan dari dua aspek,
yaitu objek materi dan objek formal. Objek materi berupa apa saja yang
dapat dimati oleh manusia,seperti alam semesta, mahluk hidup di dunia ini, dan
manusia. Objek forma adalah pokok perhatian seseorang terhadap sesuatu
yang menjadi minatnya yang sanga tkhusus. Objek forma atau aspek yang khusus
dalam ilmu empiris dapat berupa misalny aminat yang sangat tinggi tentang kesehatan
manusia, tentang pertumbuhan dan perkembangan dari tumbuh-tumbuhan, dari
hewan, serta adat istiadat suatu bangsa/masyarakat tertentu. Dari hasil
objek forma yang beraneka ragam itulah memunculkan ilmu-ilmu tertentu yang
sifatnya empiris, misalnya ilmu kedokteran, biologi, ilmu teknik, botani,
zoologi, antropologi, ilmu sosial.
c). Pendekatan atau Metode Ilmu Empiris
Pendekatan atau metode merupakan cara seorang ilmuwan atau peneliti
atau mahasiswa mendapatkan data saat ia sedang melakukan pengamatan. Lazimnya
didalam ilmu empiris seorang ilmuwan atau mahasiswa menggunakan pendekatan atau
metode induktif. Metode induktif adalah sebuah metode yang digunakan dalam ilmu
empiris yang mencoba menarik kesimpulan dari penalaran yang bersifat khusus untuk sampai
pada penalaran yang umum sifatnya. Pada penalaran yang sifatnya khusus itu. seorang
pengamat akan mengamati beberapa hal atau sesuatu yang memiliki ciri-ciriyang
khusus. Sebagai contoh, saat Toby melihat buah jeruk yang diletakkan di dalam sebuah
keranjang, ia melihat bahwa keduapuluh jeruk itu berwarna kuning
dan bentuknya bulat. Atas dasar itulah Toby menyimpulkan bahwa jeruk (yang
berjumlah20) yang berada di dalam keranjang semuanya berwarna kuning dan
bentuknya bulat.Metode induksi berguna bagi ilmu empiris karena mendasarkan
pada pengamatan faktual dan dipakai sebagai landasan berpijak pada ilmu
empiris.
4..4 Cara Kerja Ilmu-ilmu Deduktif
a). Pengertian Ilmu Deduktif
Ilmu deduktif adalah ilmu pengetahuan yang membuktikan kebenaran
ilmiah nya melalui penjabaran-penjabaran (=deduksi). Berbeda dengan ilmu
empiris yang mendasarkan atas pengalaman indrawi, maka penjabaran-penjabaran
itu melalui penalaran yang berdasarkan hukum-hukum serta norma- norma yang
bersifat logis. Dari hukum-hukum serta norma-norma logis memunculkan suatu
penalaran yang mencoba membuktikan sesuatu atas dasar perhitungan yang sangat
pasti. Dengan demikian dalam ilmu deduktif terdapat suatu penalaran yang
diperoleh dari kesimpulan yang bersifat umum untuk menuju ke penalaran yang
bersifat khusus.Ilmu-ilmu deduktif dikenal sebagai ilmu matematik. Penalaran
yang deduktif diperoleh dari penjabaran dalil-dalil, atau rumus-rumus yang
tidak dibuktikan kebenarannya melalui penyelidikan empiris, melainkan melalui
penjabaran dalil-dalilyang telah ada sebelumnya. Suatu dalil atau rumus
mate-matika dibuktikan kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang telah ada atau
dalil lain, berdasarkan suatu perhitungan/hitung-menghitung,
ukur-mengukur, timbang-menimbang, bukan atas dasar observasi. Dalam
membuktikan kebenaran itulah kita mengenal adanya, pada awalnya aritmatika,
matematika, goniometri, ilmu ukur dan sebagainya. Asas matematika hanya mengenal
“logika dua nilai” ( “two value logic” ) yaitu benar dan tidak benar
(salah).Contoh yang sederhana adal dua ditambah dua adalah empat. Itu berarti
penjumlahan tersebut memiliki nilai benar. Apabila kita mengatakan bahwa tiga
dikalikan empat hasilnya lima belas, maka hasil itu dikatakan tidak benar
(salah).
b). Objek Ilmu Deduktif
Objek pada ilmu deduktif adalah angka atau bilangan yang mungkin
jumlahny asatu atau lebih dari satu, yang kemudian dikenal dengan himpunan atau
semacam deret.Objek tersebut sebenarnya sebagai sebuah lambang atau simbol yang
digunakan sebagai relasi antar objek. Kita mengenal angka romawi (I, II, IV dan
seterusnya) atau angka-angka yang lazim dikenal sebagai : 1, 2, 3, dan
seterusnya, dan semuanya itu merupakan sebuah simbol atau lambang yang telah
dikenal dan diakrabi oleh kita semua. Selain itudikenal juga simbol dalam bentuk
lain seperti: +, -, >, <, Σ, , % dan sebagainya.Pemakaian simbol-simbol
dalam ilmu deduktif berguna agar validitas atau keabsahan dari pembuktian
penjabaran-penjabaran dalil atau axioma atau rumus terbukti tidak salah
dan dianggap benar.
4.5 Cara Kerja Ilmu-ilmu Empiris Yang Lebih Khusus: Ilmu Alam
Ilmu Hayatdan Ilmu-Ilmu
Tentang Manusiaa). Cara Kerja Ilmu Alam
1)
Pengertian Tentang Ilmu
Alam Ilmu alam adalah ilmu yang membahas
tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah
empiris, artinya gejala alam itu dianggap berdasarkan prinsip-prinsip
matematis”. Sejak itulah ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan
pendekatan matematis yang diterapkan dalam kajiannya.Cara berpikir matematis
mekanistis dalam revolusi ilmu pengetahuan yang dipelopori oleh Newton menjadi
semacam "gaya" para intelektual untuk membuat analisis dalam
penelitiannya. Pengamatan terhadap alam disekeliling para ilmuwan dilihat
sebagai sesuatu yang dapat diukur, benda dianggap memiliki kriteria tertentu (berat,
luas, isi dan sebagainya.). Dengan pengamatan semacam itulah, maka
berbagai pendekatan terhadap cara kerja ilmu pengetahuan dikembangkan.
Pendekatan yang bersifat kausalitas (hukum sebab akibat) sangat mewamai
cara kerja ilmu pengetahuan.Benda atau sesuatu memiliki sifat seperti alam
semesta, terstruktur, sehingga keteraturan hukum alam, atau sifat mekanistis
itu menjadi fokus dalam cara kerja ilmu .Cara kerja ilmiah didukung dengan
percobaan atau eksperimen yang selalu berusaha menyempurnakan hasil
percobaannya itu melalui usaha trial and error – uji coba.Dalam
laboratorium percobaan itu didukung juga dengan sebuah “model”, suatu
tiruandari objek yang sesungguhnya, yang kemudian dijadikan sebagai objek
penelitian.Dengan model itu para peneliti dapat menganalisis dan mengembangkan
penelitiannya dengan lebih sempurna.Akibat dari "perjalanan" dan
proses revolusi ilmu pengeta-huan, memunculkan adanya nilai-nilai dasar yang
tampil pada perubahan cara berpikir manusianya. Nilai-nilai dasar itu, pertama
nilai alam. Alam semesta memiliki tata susunan yang berada pada hukum alam
dan kosmos adalah sesuatu yang dianggap memiliki struktur tertentu.
Kedua, nilai budaya
Kemajuan manusia ditandai dengan penguasaan terhadap
ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk memajukan kebudayaan manusia.
Dengankemajuan manusia terutama dalam cara berpikir yang antroposentris,
manusia mampu mengubah kebudayaannya dan teknologinya menjadi sesuatu yang
sangat berarti dan bermakna bagi kehidupan manusia melalui proses belajar.
Ketiga, nilai ekonomi.
Nilaiini tercipta karena para pelaku revolusi ilmu pengetahuan
memiliki semangat kerja yangtinggi. Para ilmuwan mulai menciptakan teknologi
yang tepat guna bagi kebutuhanmasyarakat, sehingga diciptakan mesin untuk
mengisi kebutuhan kehidupan manusiadalam berbagai sektor industri. Pada awalnya
industri mula-mula berasal dari kerjarumahan (industri rumahan) hingga ke
industri pabrikasi. Hasil atau barang yangdiciptakan berkat adanya mesin-mesin
(industri pabrikasi) tersebut dan mampu menembus pasaran dengan daya jual yang
tinggi. Dengan demikian tercipta adanya nilai ekonomis yang menuntut
kemandirian, tanggung jawab serta kerjasama diantara para pelaku tersebut
agar nilai ekonomis dapat dimanfaatkan tidak hanya bagi sekelompok orang
saja tapi seluruh masyarakat.
4.6. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
a Kedudukan Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu atau Filsafat Ilmu Pengetahuan berasal dari tradisi
Filsafat Barat.Sejak sekitar abad XIX dan diper-kenalkan oleh sekelompok ahli
ilmu pengetahuankealaman yang berasal dari universitas Wina, maka Filsafat Ilmu
menjadi mata ajarandari universitas tersebut. Para ahli ilmu pengetahuan
kealaman yang berasal dari berbagai disiplin ilmu (ilmu kimia, fisika,
matematika) antara lain Morits Schlick, HansHahn, Hans Reichenbach memberikan
sumbangan yang besar dalam awal perkembangan filsafat ilmu. Mereka itu,
dan dipelopori oleh Moritz Schlick tergabungdalam kelompok diskusi ilmiah, yang
kemudian dikenal sebagai "Lingkaran Wina"( Viena Circle ). Kelompok
atau lingkaran Wina menginginkan bahwa di dalam ilmu pengetahuan terdapat
unsur pemersatu. Unsur pemersatu haruslah bertitik tolak pada bahasa
ilmiah dan cara kerja ilmiah yang pasti dan logis. Kelompok Wina menyebutnyau nsur
pemersatu sebagai ilmu yang terpadu ( unified sciences ).Pada saat ini,
filsafat ilmu menjadi sangat berkembang, menjadi kajian filsafatilmu yang lebih
modern. Beberapa bidang keilmuan sangat membutuhkan tentang proses kerja
ilmiah yang relevan dengan pokok perhatian atau fokus yang lebih spesifik.Salah
satu contoh, adalah munculnya kajian tentang filsafat ilmu kedokteran,
filsafatilmu sosial. Dalam kajian tersebut fokus filsafat ilmu diarahkan pada
bagaimana ciri dancara kerja kegiatan ilmiah diterapkan pada persoalan manusia
dan kesehatan atau kehidupan manusia dalam kehidupan sosial serta interaksi
dengan masyarakat. Secarahistoris, filsafat ilmu telah diperkenalkan oleh
bangsa Yunani, diawali oleh filsuf Aristoteles (abad VI seb.M). Dan
dalam tradisi filsafat Barat telah dikenal pula adanya pembidangan dalam
filsafat yang menyangkut tema-tema tertentu. Tema-tema besar itu berupa
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Tema ontologi berbicara tentang
problem"Ada", yaitu tema yang membahas masalah keberadaan tentang
sesuatu, misalnya keberadaan mahluk hidup, alam semesta, yang semuanya itu
merupakan keberadaan yang dapat ditangkap dan dibedakan secara empiris. Sisi
lain terdapat keberadaan sesuatu yang tidak dapat ditangkap dan hadir secara
empiris, atau konkret, yaitu metafisika. Metafisika (meta: di belakang, fisika:
sesuatu yang konkret) adalah sebagai sesuatu yang mengkaji tentang berbagai hal
seperti gagasan, idea, ataupun konsep.Gagasan ataupun konsep itu sebagai
semacam prinsip yang muncul atas dasar penalaran manusia. Prinsip itu sendiri
memang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tetapi orangakan mengenal prinsip
tersebut apabila diaktualisasikan melalui sebuah tulisan. Sebagai contoh,
gagasan Einstein tidak akan dikenal luas oleh masyarakat ilmuwan, apabila Einstein
tidak membuktikan gagasannya tanpa menuliskan gagasannya itu
melalui berbagai penelitiannya yang tidak kenal lelah secara trial error (uji coba) yang kemudian dikenal
sebagai teori relativitas.Tema kedua, epistemologi yaitu tema yang mengkaji
tentang pengetahuan( episteme adalah pengetahuan). Dalam pembahasan tentang
epistemologi (pengetahuan) dibahas berbagai hal seperti batas pengetahuan,
sumber pengetahuan, serta kriteriatentang kebenaran. Batas pengetahuan adalah
pengalaman manusia dalam mengkajisesuatu yang menjadi minat penelitiannya. Oleh
karena itulah setiap ilmu pengetahuan,misalnya ilmu kedokteran dengan psikologi
sangat berbeda, karena masing-masing ilmu memiliki ruang lingkup tersendiri
(objek forma yang berbeda). llmu kedokteran membahas tentang masalah kesehatan
manusia yang berkaitan dengan penyakit tertentu sedang psikologi membahas
perilaku manusia dari aspek kejiwaannya. Sumber pengetahuan manusia
adalah akal budinya. Dengan akal budinya manusia mampu
untuk berpikir tentang sesuatu, memikirkan gagasan untuk menciptakan
karya-karya seni ataupun teknologi, dengan akal budinya pula manusia dapat
belajar, berhubungan dengan orang lain, mampu berdialog tentang apa saja dengan
siapa saja. Sedang kriteria kebenaran sebagai upaya pencarian objektivitas
terhadap pengenalan manusia yang bersifat empiris. Apa yang dilihat,
misalnya sebuah kursi, maka kursi itu haruslah sesuai dengan kriteria kursi:
memiliki kaki empat, sandaran, alas duduk, terbuat dari kayu.Atas dasar itulah
maka objektivitas sebuah benda yang diamati memiliki kebenaran.Tema ketiga,
aksiologi, yaitu tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma yang
berlaku pada kehidupan manusia. Nilai diartikan sebagai sebuah penilaiantentang
apa yang telah dilakukan oleh manusia dalam kaitannya dengan relasi
manusia, baik atau buruknya tindakan manusia. Nilai ( value ) muncul dalam
kehidupan manusia dalam bentuk sebagai nilai yang berada dalam sistem
kemanusiaan seseorang, misalnyanilai moral/nilai etis, nilai budaya, nilai
keagamaan / religius, nilai keindahan. Sebagai contoh, Tedy memiliki nilai
moral yang tinggi, karena ia bekerja sebagai seorang arsitek di sebuah
perusahaan kontraktor bangunan “Indah Selalu” dengan penuh tanggung. jawab
dan dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya. Ia tidak suka memfitnah ataupun menjelek-jelek
teman sejawatnya dihadapan atasannya, agar supaya ia dapat menjadi orang
kepercayaannya.Dari uraian yang telah dijelaskan di atas, maka sampailah kita
pada pemetaanatau kedudukan filsafat ilmu apabila ia diletakkan pada lingkup
ilmu filsafat. Agaknya lingkup epistemologi menjadi tempat yang tepat bagi
filsafat ilmu.Filsafat ilmu membahas tentang persoalan ilmu pengetahuan dengan
berbagai problematisnya, terutama yang berkaitan dengan metodologis atau
pembenaran ilmiah.Dengan kata lain, ciri keilmiahan suatu ilmu pengetahuan
dengan cara kerja ilmiahmenjadi bahan yang dikaji dalam filsafat ilmu. Sedang
epistemologi membahas tentang batas, sumber dan kebenaran pengetahuan,
yang semuanya itu memerlukan kajian yang bersifat rasional. Demikian juga
filsafat ilmu mengkaji ciri dan cara kerja ilmu pengetahuan berlandaskan
rasionalitas atau akal budi manusia. Ini berarti bahwa jembatan
rasionalitas menjadi media bagi filsafat ilmu dengan aspek epistemologi
untuk menemukan kebenaran ilmiah atau validitas ilmu pengetahuan.
b. Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Filsafat Ilmu
Tujuan mempelajari filsafat ilmu adalah (1) seseorang (peneliti,
mahasiswa)dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja
setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis. (2) seseorang
(peneliti, mahasiswa) dapatmelakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan tepat
dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu budaya, ilmu
kedokteran, ilmu teknik, ilmukeperawatan, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi
dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang menyangkut seluruh kehidupan
manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa sejarah, kehidupan sosial
politik dan sebagainya. (3) Seseorang (peneliti,mahasiswa) dapat memahami bahwa
terdapat dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu
(misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis, teknik,komputer) dengan
masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contohdampak
tersebut misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran masih
sangatdilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer,
pemalsuanterhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam
karya ilmiah.
c. Cara Kerja dan Problema Filsafat Ilmu
Cara kerja filsafat ilmu haruslah dimulai dengan suatu anggapan
bahwa setiapilmu pengetahuan dianggap sebagai ilmu yang bersifat sistematis
(sistem dalam susunan penge-tahuan dan cara memperolehnya karena adanya
berbagai hubungan gejala yangteratur sehingga merupakan suatu keseluruhan yang
utuh), logis (gejala pengetahuandiamati dan dianalis secara rasional),
intersubjektif (kepastian ilmu pengetahuan tidak melulu didasarkan pada
emosi maupun pemahaman si ilmuwan tetapi didasarkan dandijamin oleh sistem
pengetahuan itu sendiri), rasional serta memiliki cara kerja
ilmu pengetahuan yang diupayakan pembenaran secara metodologis.Dengan
demikan filsafat ilmu dapat melihat bahwa refleksi kritis terhadap ciridan cara
kerja ilmu pengetahuan dapat menunjukkan adanya dua aspek, yaitu
aspek internal dan aspek eksternal. . Aspek internal lebih diarahkan pada
kegiatan ilmiahyang bersifat metodologis. Aspek internal atau context of
justification sangat berkaitandengan pembenaran suatu pengetahuan. Sebagai
contoh ilmu kedokteran, dan teknik akan menjadi sangat kokoh apabila
secara de jure memiliki landasan filosofis yaitukebenaran epistemologis (teori
kebenaran atau teori pengetahuan). Aspek eksternal atau context of discovery lebih
mengarah pada hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologiyang dihasilkan oleh
para ilmuwan di masa lalu hingga kini. Untuk itulah timbulnya lmu pengetahuan
dan pelaksanaan aplikatifnya serta kegunaan ilmu itu dapat dtelusurisecara
historis atau melalui sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rangka penelusuran
secarahistoris, secara de facto hasil maupun teknologi ilmu diterima dan
digunakan olehmanusia sesuai dengan kebutuhannya. Perkembangan teknologi akan
menjadi berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dan perkembangan
setiap ilmu itusendiri.
4.
7. TEORI KEBENARAN
Di dalam bagian ini akan dijelaskan bahwa kebenaran dalam kegiatan
ilmiah danfilsafat ilmu bersumber pada. kebenaran epistemologi. Kebenaran
filsafat ilmu itumengacu pada teori pengetahuan. atau teori kebenaran klasik
yang terkait dalam tradisifilsafat Barat. Teori pengetahuan dipandang sebagai
teori kebenaran yang sifatnyauniversal dan berlaku umum untuk berbagai bidang
keilmuan (misalnya ilmukedokteran, teknik, ilmu ekonomi, ilmu budaya dan
sebagainya) yang bertujuan mencariobjektivitas dan kebenaran ilmiah.Teori
pengetahuan atau teori kebenaran dalam epistemologi mengenal tiga
teorikebenaran, yaitu teori korespondensi, teori koherensi dan teori pragmatik.
Teori korespondensi adalah teori kebenaran yang bersumber dari persesuaian
antara seorangsubjek dengan objek yang dilihatnya. Sebagai contoh, seseorang
akan mengatakan bahwa yang dilihatnya adalah sebuah meja besi apabila
kriteria akan meja besi (berkakiempat, terbuat dari besi) itu sesuai benar
dengan meja itu. Ini berarti bahwa ada teorikorespondensi dalam kasus itu.
Teori koherensi akan terjadi apabila ada persesuaian diantara beberapa subjek
dengan objek yang diamatinya. Sebagai contoh, semua orang dirumah bapak Santoso
setuju dan sepakat bahwa televisi itu memiliki antena yang berwarna merah.
Hal itu menunjukkan bahwa ada kebenaran koherensi di antara semuaorang di rumah
bapak Santoso. Sedang teori pragmatik adalah teori kebenaran yangterjadi karena
ada manfaat serta kegunaan dari sebuah ilmu pengetahuan. Contoh, Tutiakan
belajar dengan tekun di Fakultas Teknik Arsitektur agar ia cepat lulus
menjadiseorang arsitek dan dapat segera bekerja.Teori kebenaran (teori
korespondensi, koherensi dan pragmatik) yang ada padafilsafat ilmu adalah
sebagai dasar
mencari kebenaran dalam setiap kegiatan ilmu pengetahuan.
Dalam pencarian kebenaran itu, terjadi berbagai perubahan-perubahangejala,
peningkatan ataupun kemajuan-kemajuan bagi ilmu itu sendiri Tiga teorikebenaran
itupun mendukung pelaksanaan kegiatan ilmu secara konkret, yaitu
sebagai penerapan antara sisi teoritis dengan sisi praktis, praktek dan
kegunaannya.Di sisi lain, batas pengetahuan juga menjadi landasan dalam teori
kebenaran.Apakah yang disebut sebagai batas pengetahuan itu? Batas pengetahuan
adalah pengetahuan yang memiliki keluasan wilayah secara tertentu. Melalui
keluasannya yangterukur itu, pengetahuan dibatasi oleh panca indera manusia.
Dengan demikian sejauhmata memandang terhadap apa yang dilihat kita, maka hal menjadi
pengetahuanmanusia. Ini berarti bahwa pengetahuan manusia bersumber pada indera
manusia danhasil pengetahuan itu disebut sebagai pengetahuan indrawi atau
pengetahuan empiris(empiris dari kata empêria yang artinya pengalaman manusia
muncul karena diperoleholeh sentuhan indrawi). Selain pengetahuan indrawi, maka
terdapat pengetahuan nonindrawi yang menjadi sumber pengetahuan manusia.
Pengetahuan non indrawi adalah pengetahuan yang berasal dari akal budi
manusia atau rasio manusia. Melalui akal budiatau rasio, manusia dapat
berpikir, dapat memiliki gagasan atau ide dan hasil darikemampuan berpikir itu
adalah pengetahuan non indrawi atau pengetahuan rasional.
Bagaimana dengan struktur pengetahuan? Struktur pengetahuan
juga menjadilandasan bagi teori kebenaran. Struktur pengetahuan adalah susunan
dari berbagaielemen pengetahuan yang dilandasi dengan suatu konsep tertentu.
Berbagai elemen pengetahuan seperti fenomena atau gejala atau sesuatu yang
berada di depan kita(gunung, pasien, rumah, mobil ambulans) atau ide tentang
masa depan sebuah negara,teori Newton, semua itu dapat menjadi elemen dari
"bangunan" pengetahuan kita.Sebenarnya, bangunan pengetahuan itu
merupakan kumpulan berbagai elemen yangdisusun sedemikian rupa hingga membentuk
bangunan pengetahuan yang kokoh. Dalam proses kegiatan itu terdapat pelaku
yang sangat berperan, yaitu subjek. Subjek diartikansebagai seseorang yang
tertarik mencari pengetahuan dan pencarian tentang pengetahuan itu atas
dasar minat serta keterarahan (intensionalitas). Dan yang dicaridalam
pengetahuan adalah objek.Dengan demikian terdapat interaksi antara subjek
dengan objek dalam pencarian pengetahuan. Struktur pengetahuan akan
terjadi apabila ada hubungan atau interaksiantara subjek dengan objek
4.8. PARADIGMA ILMU
PENGETAHUAN
Paradigma ilmu haruslah dilihat sebagai sebuah model penyelidikan
ilmiah yangdigunakan sebagai pola dasar untuk berpikir, merencanakan usulan
penelitian, atau berbagai kasus penelitian seperti studi kasus pada
ilmu-ilmu empiris, ilmu filsafat, danilmu pengetahuan alam. Tujuan paradigma
ilmu adalah menemukan kebenaran.Kebenaran ilmu pengetahuan pada
hakikatnya tidak memiliki kemutlakan, tidak absolut.Setiap kebenaran yang
dimunculkan oleh paradigma tertentu terbuka untuk difalsifikasiatau dikaji
apabila kebenaran itu mulai digoyahkan oleh pendapat-pendapat baru.Seperti yang
telah dijelaskan di atas, paradigma yang dianggap sebagai modelatau pola
berpikir bagi seorang peneliti memiliki kriteria dasar, seperti nilai
kualitas,nilai kuantitas, dan nilai kebenaran. Nilai-nilai yang dimiliki
paradigma akanmembentuk sebuah model paradigma. Atas dasar itulah, penulis
meletakkan modeldasar pada paradigma. Paradigma ilmu mengenal enam paradigma
dasar, yaitu (1) paradigma kuantitatif, (2) paradigma kualitatif, (3)
paradigma induktif-deduksi, (4) paradigma piramida atau limas ilmu, (5)
paradigma siklus empiris, dan (6) paradigma"rekonstruksi
teori".Paradigma kuantitatif adalah model penyelidikan ilmiah yang
bertitik tolak pada perhitungan matematis. Objek penelitian yang menampilkan
berbagai gejala ataufenomena empiris harus dilihat sebagai "elemen"
yang dapat dihitung dengan perhitungan (besaran) tertentu dan untuk itu
digunakan "alat" bantu perhitunganmatematis. Gejala-gejala medis pada
si pasien seperti suhu tubuh dapat diukur denganalat pengukur. Gejala gempa
dapat diukur besar tekanannya dengan skala Richter.Paradigma kualitatif adalah
model penyelidikan ilmiah yang melihat kualitas-kualitasobjek penelitiannya
seperti perasaan (emosi) manusia, pengalaman menghayati hal-halreligius
(sakral), keindahan suatu karya seni, peristiwa sejarah, dan simbol-simbol
ritualatau artefak tertentu. Kualitas-kualitas itu haruslah dinilai atau
"diukur" berdasarkan pendekatan tertentu (rmsalnya menggunakan
metode semiotik, metode hermeneutik,teori sistem) yang sesuai dengan objek
kajiannya. Paradigma kualitatif menghindari perhitungan matematis, karena
yang dicari adalah value 'nilai' yang muncul dari objek kajian yang
bersifat khusus, bahkan sangat spesifik, unik, dan selalu mengandung meaning
full action. Paradigma induktif-deduksi adalah model penyelidikan ilmiah yang
digunakansebagai pola berpikir seorang peneliti untuk memiliki penalaran yang
induktif (mengambil kesimpulan dari hal-hal yang khusus untuk sampai pada
hal yang umum)dan deduktif (mengambil kesimpulan dari penalaran yang bersifat
umum untuk sampai pada hal-hal yang khusus). Paradigma induktif-deduktif
dapat digunakan seseorangsccara bersamaan, artinya ia dapar berpikir induktif
dahulu untuk kemudian berpikir secara deduktif, tetapi seseorang dalam
proses kerja ilmiah dapat pula menggunakan penalaran induktif atau
deduktif saja. Tujuan paradigma induktif-deduktif lebih bersifataplikatif dalam
penalaran dan digunakan dalam suatu penelitian ilmiah agar seseorangdapat memiliki
penalaran yang logis dan konsep berpikir yang runtut. Sebagai
contoh, penalaran induktif-deduktif dapat diterapkan ketika mencari data,
mengkategorisasidata, perumusan masalah, dan sebagainya.Paradigma piramida atau
Limas Ilmu adalah model penyelidikan ilmiah denganmenggunakan konsep yang
bertujuan mengkonstruksi tahapan-tahapan kegiatan ilmiahsecara berlapis-lapis
seperti bentuk piramida. Bagian bawah piramida merupakan bagianyang paling
dasar dan paling luas, sedangkan makin ke atas luas lapisan piramida makin berkurang.
Lapisan teratas merupakan kerucut piramida. Lapisan-lapisan itudimaksudkan
sebagai gambaran proses penelitian yang mengacu tahapan-tahapanobservasi, data,
hipotesis, pengujian hipotesis, dan hasil penelitian yang berupa teori baru.
Pola pikir seorang ilmuwan dibentuk seperti model piramida berlapis: semakin
keatas tujuan penelitian makin tercapai dan pada puncak kerucut merupakan
gambaranditemukannya sebuah teori baru. Bentuk atau model piramida lain adalah
piramidaganda. Piramida ganda atau bahkan menjadi piramida-piramida lain akan
munculapabila seseorang mampu membuat piramida lain atas dasar landasan
piramida yangtelah ada.Bagan. Model Piramida IlmuPiramida gandaPiramida
terbalik Piramida terbalik adalah suatu kerangka berpikir atau model piramida
yang berlandaskan sebuah teori. Kegiatan penelitian yang menggunakan model
piramidaterbalik memulai proses kerjanya dari sebuah teori (teori yang telah
dianggap baku).Melalui teori, seorang peneliti akan memulai kegiatannya dengan
observasi terhadapteori tersebut. Observasi menentukan langkah berikutnya, yahu
tahap-tahap penelitianatau lapisan piramida seperti data, permasalahan
(hipotesis), pembuktian-pengujianhipotesis, dan hasil penelitian yang berupa
teori baru.Paradigma siklus empiris sangat diakrabi ilmu-ilmu empiris.
Paradigma tersebutmembutuhkan langkah awal, yaitu observasi yang bersifat
induktif Beberapa tokohseperti de Groot dan Walter Wallace menampilkan siklus
empiris yang beranjak pada pengamatan faktual. Pada umumnya, paradigma
siklus empiris memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan dan
hubungan-hubungan yang sedemikian rupatersebut dapat dievaluasi secara siklus
(periodik, berkala). Tahapan-tahapan dalam50

siklus empiris akan membentuk pola berpikir bagi subjek
(Ilmuwan/peneliti) dalammelakukan kegiatan ilmiahnya. Walter Wallace mencoba
menjelaskan paradigma siklusempiris secara rinci dengan memperhatikan unsur
metodologis. Paradigma siklusempiris adalah model penyelidikan ilmiah yang
sifatnya berkala, memiliki beberapaelemen yang terdiri dari komponen informasi
(data, konsep, kategori) dan komponenkontrol metodologis (evaluasi, pengujian,
teori). Setiap komponen dapat terdiri dari beberapa komponen dan disusun
sedemikan rupa sehingga membentuk hubungan yangnantinya digunakan dalam proses
kegiatan ilmiah. Kemampuan seseorang dalammengolah data dan pengujian hipotesis
sangat menentukan hasil penelitiannya.Paradigma "rekonstruksi teori"
adalah model penyelidikan ilmiah yang berusahamembangun (rekonstruksi) beberapa
teori atau metode yang digunakan dalam sebuah penelitian. Tujuan
digunakannya paradigma rekonstruksi teori adalah untuk menunjang proses
penelitian agar berjalan lebih sempurna sehingga kebenaran ilmiahnya pun
dapatterjaga sesuai dengan proses metodologis yang berlaku. Untuk itu, apabila
seseorangingin menggunakan paradigma "rekonstruksi teori" harus
memahami dengan benar teori-teori yang akan digunakannya dan memastikan
dengan benar bahwa teori-teori itusaling menunjang dan berguna (dapat
diterapkan) dalam penelitiannya. Berbagai pertimbangan yang sifatnya
rasional, misalnya penguasaan teori dan kemampuanmenerjemahkannya secara
aplikatif, harus menjadi pertimbangan utama apabilaseseorang akan menggunakan
paradigma "rekonstruksi teori".Semua paradigma yang ada dapat
digunakan oleh seorang peneliti dalam penelitiannya. Sebagai konsep
berpikir, model penyelidikan ilmiah sangatlah abstrak.Paradigma digunakan untuk
tujuan menuntun pola pikir seseorang ke arah normametodologis sehingga secara
dejure dapat dipertahankan secara benar dan sahih.Paradigma ilmu dapat
diperkaya apabila si ilmuwan mampu merekonstruksikan berbagai teori yang
telah ada. Rekonstruksi tersebut harus disertai dengan sebuah"catatan"
bahwa berbagai teori yang akan direkonstruksi harus saling menunjang dansesuai
dengan tujuan penelitian. Kemampuan ilmuwan mengabstraksi sangat diperlukanagar
rekonstruksi terhadap sebuah paradigma menjadi lebih sahih dan
menunjangkebenaran ilmiah[4]
5.
Filsafat Yunani Kuno
Muncul pada abad ke 6 SM berlangsung hingga pada Zaman Klasik atau pada Periode Hellenistik[5]. Berbagai disiplin ilmu yang termasuk filsafat politik, etika,
metafisika, ontologi, logika, biologi, retorika, dan estetika menjadi
pembahasan di masa Yunani
Kuno.
Banyak ahli filsuf meyakini bahwa budaya
barat berasal dari
filosofi Yunani. Alfred North Whitehead mencatat bahwa "Secara garis besar bentuk filsafat barat
berasal dari catatan Plato".[6]
Pengaruh ini berlangsung dari Yunani kuno hingga Abad
Pencerahan.
Beberapa klaim bahwa filsafat Yunani juga mempengaruhi ilmu
kosmologi dan literatur naskah kuno di Timur
dekat kuno. Martin Litchfield
West memberikan
klarifikasi "hubungan kosmologi dan teologi Asia membantu para para filsuf Yunani memberikan gambaran atau ide dalam mengajarkan ilmu filsafat. Hal
tersebut kita sadari sebagai filsafat Yunani."[7]
Tradisi filsafat konvensional selanjutnya banyak yang merujuk ke
Socrates. Hal ini terjadi hingga berakhirnya masa Yunani kuno.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander The Great and the Hellenistic Age. Green P. ISBN 978-0-7538-2413-9 diakses Kamis 19-9-2019
pukul 5 : 26 AM
Alfred North Whitehead, Process and Reality, Part II, Chap.
I, Sect. I diakses Kamis 19-9-2019 pukul 5 : 27 AM
Griffin, Jasper; Boardman, John; Murray, Oswyn (2001). The Oxford
history of Greece and the Hellenistic world. Oxford [Oxfordshire]: Oxford
University Press. hlm. 140. ISBN 0-19-280137-6 diakses Kamis 19-9-2019 pukul
5: 28 AM
https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Logika&action=edit§ion=1
Jan Hendrik Rapar. 1996. Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8
[1] Jan
Hendrik Rapar. 1996. Pengantar
Logika. Asas-asas penalaran sistematis. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius. ISBN
979-497-676-8
1.
Jan Hendrik
Rapar. 1996. Pengantar Logika.
Asas-asas penalaran sistematis.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8
2.
Jan Hendrik
Rapar. 1996 ibid
[5]
Alexander The Great and the Hellenistic Age. Green P. ISBN
978-0-7538-2413-9 diakses Kamis 19-9-2019
pukul 5 : 26 AM
[6]
Alfred North Whitehead, Process and Reality, Part II, Chap. I, Sect. I
diakses Kamis 19-9-2019 pukul 5 : 27 AM
[7] Griffin, Jasper; Boardman, John; Murray, Oswyn (2001). The
Oxford history of Greece and the Hellenistic world. Oxford [Oxfordshire]:
Oxford University Press. hlm. 140. ISBN 0-19-280137-6 diakses
Kamis 19-9-2019 pukul 5: 28 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar