Menulis adalah proses yang berlangsung terus menerus untuk menuangkan ide dari proses berpikir. Untuk dapat menulis tentunya membutuhkan proses belajar yang sabar dan komitmen untuk terus menerus mau menulis. Ide menulis bisa didapatkan dari mana saja kapan saja dan dimana saja pada proses perjalanan hidup kita.
Setiap ide yang muncul segeralah untuk menulis dan biasakan untuk menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Teruslah menulis, karena dengan menulis Anda akan melatih otak, mata, dan bibir Anda agar bersinergi dengan kedua tangan Anda. Bila otak, mata, bibir, dan tangan sudah menyatu, maka akan terlahirlah tulisan yang bermutu.
Tulisan yang bermutu akan menarik hati setiap orang yang membacanya. Jika kita mampu menulis setiap hari sehalaman (selembar), maka sebulan kita akan menghasilkan 30 halaman dan akan menjadi buku dalam setahun. Tentunya buku yang berkualitas. Penyakit yang harus dihilangkan adalah rasa malas menulis dan membaca. Membaca dan menulislah setiap hari dengan hati sebelum tidur dan buktikan apa yang akan terjadi.
Menulis terasa renyah maksudnya tulisan kita mudah dipahami oleh pembaca dan mereka membaca dengan lahap bahkan kecanduan. Bagi penulis pun, ada semangat atau gairah dalam diri kita untuk menyelesaikan tulisan.
Tulisan renyah kita dapatkan setelah melakukan proses deep reading, yaitu sebuah proses di mana penulis melakukan proses membaca secara mendalam. Hal ini membutuhkan kreativitas menulis agar tulisan menjadi renyah dan enak dibaca. Kemudian menggiring pembaca untuk dapat menangkap pesan yang disampaikan oleh penulisnya.
Ciri tulisannya langsung sampai ke otak pembaca, penuh makna dan merasuk ke dalam jiwa. Hal ini dibutuhkan latihan terus-menerus dengan cara menulis setiap hari supaya secara refleks otak kita mampu menemukan kata kata indah yang membuat pembaca merasakan pesan penting yang disampaikan penulisnya.
Ketika menulis terasa renyah, akan membuat penulis dan pembaca merasa puas melahap habis apa yang dituliskan. Tak perlu terlalu panjang, tapi dalam maknanya. Menulislah dengan hati dan menebarkan kebaikan dari menulis tersebut.
Menulis adalah menulis. Menulis merupakan sebuah aktivitas yang melibatkan aktivitas tangan dengan menuangkan ide pikiran dari kepala, serta melibatkan juga perasaan hati.
Banyak kalangan ulama dan penulis-penulis ulung menyampaikan hakikat dari aktivitas mencatat atau menulis ini. Misal, Ibnu Katsir dalam sebuah atsar-nya, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Kemudian pula, pesan Imam Syafi’i rahimahuLlah yang menilai orang: tidak mau mencatat ilmu yang didengar seperti pemburu yang tidak mengikat hasil buruannya.
Bahkan di kalangan sahabat RasuluLlah pun, aktivitas menulis begitu dihormati, ini yang dikatakan oleh seseorang yang digelari gurunya para huffazh hadits; yakni Abu Hurairah. Kata beliau yang mengomentari kebiasan Abdullah bin Amr bin Al-Ash.“Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamai saya dalam hal hafalan hadits-hadits RasuluLlah ShallaLlaahu ‘Alaihi Wasallam, kecuali dia selalu mencatat segala apa yang disabdakan RasuluLlaah ShallaLlahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan saya hanya mengandalkan ingatan saja.”
Dari kalangan ulama kontemporer, Syeikh Yusuf Al-Qaradawi mengatakan, “Jika dulu Islam itu dimenangkan dengan pedang, maka sekarang kita jaya dengan pena”.
Bahkan dari segi kesehatan, tulisan yang tertuang di atas kertas dari pikiran-pikiran terlintas dalam benak kita yang menjadi catatan kelak akan bermanfaat, bahkan bisa membantu meringankan beban pikiran otak. Tidak terlalu stres, Sehingga manfaatnya bisa bikin awet muda.
Dari kalangan penulis ulung zaman sekarang, Ustadz Salim A. Fillah, mengutip dari tulisan beliau dalam sebuah artikel, “Menulis bukanlah bermain kata-kata. Kehausan pada ilmulah yang membuat tiap goresan pena jadi bermakna.”
Menulis juga salah satu media dakwah bagi manusia dan ilmu Allah yang terbentang luas itu tersimpan untuk kemudian dijadikan pembelajaran bagi manusia. Maka, menulislah! Akan kau temukan luasnya ilmu; dengan menulis akan kau rasakan kokohnya ilmu; dengan menulis kau akan rasakan nikmatnya berbagi; dengan menulis kau dapati dirimu sebagai pelaku sejarah.
Jadi, sudah siap menulis? Siap berbagi kebaikan? Siap menjadi pelaku sejarah? Kalau belum siap, siapkan diri untuk mengambil manfaat dari menulis ini. Menjadi pelaku sejarah, serta akan kau temukan hal yang berbeda.
Yaa Rabbi, tambahkanlah ilmu dan kepahaman kepada kami.
Berbahasa (menyimak, berbicara,membaca dan menulis), keterampilan menulis lah yang dianggap sebagai keterampilan berbahasa tertinggi, dan oleh karenanya dianggap paling sulit dan perlu mendapat perhatian lebih dalam melatihnya. Gagasan ini sangat bermakna, karena keterampilan menulis tentunya harus diiringi dengan beberapa keterampilan lain dalam upaya menggali dan mengoleksi informasi.
Benarkah demikian? Yah, sebelum menulis lazimnya didahului dengan menyimak, membaca dan bisa jadi mengamati serta kontemplasi. Saat itulah timbul inspirasi dan ide untuk menuliskannya. Banyak orang merasa bingung, untuk memulai menulis. Padahal dalam benaknya berisi gagasan dan konsep brilian, namun lagi-lagi sulit untuk menggoreskan pena dan menuangkan dalam untaian kata-kata. Inilah problem besar yang dirasakan, terutama bagi seseorang yang baru mengenal literasi, terutama keterampilan menulis.
Ternyata perintah menulis banyak tertuang di dalam Al-Qur'an. Ini satu indikator, bahwa menulis sangat urgen menurut Allah SWT yang harus diambil hikmahnya oleh kita semua sebagai khalifah fil ardi.
Di sisi lain, dengan menulis akan menjadi insan merdeka. Mengapa? Karena dengan kita menulis tentunya memiliki jiwa merdeka. Merdeka dalam arti, bebas untuk menyampaikan ide, tentunya yang mampu menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Bahkan menurut Kang Catur Nurrohman Penulis dari Bogor bahwa dengan menulis bisa "mengantarkan Tiket ke Surga". Coba bayangkan, andai dua, tiga bahkan jutaan orang setelah membaca tulisan Anda kemudian mereka bergerak menuju kebaikan maka Anda memiliki Andil besar terhadap kebaikan tersebut. Sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW: "Siapa orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya...". (HR. Muslim)
Subhanallah, luar biasa bukan? Juga dengan menulis, Anda termasuk orang yang bermanfaat bagi insan sekitar bahkan dunia. Maukah dicatat menjadi insan bermanfaat? Menulislah. Sekali lagi menulislah.
Minimal dua reward bagi orang yang menulis, yaitu menjadi insan berjiwa merdeka dan bermanfaat bagi sesama sangat dibutuhkan di era yang penuh kompetisi ini. Karena dengan menulis, semua ide yang melekat di benak akan ditularkan dan dikomunikasikan pada dunia. Anda bisa menulis tentang kondisi negara tercinta, ranah agama bahkan menulis tentang kondisi manca negara dengan pelbagai problematikanya. Semuanya bisa dengan menulis.
Bekasi, 19 Oktober 2018
Alfaqir
Ma'mun Zahrudin ( MZ )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar