Minggu, 06 Oktober 2019

IMAM SYI'AH


Pengenalan Tentang Para Imam Syi’ah
Aliran Syi’ah adalah satu-satunya yang medukung imam dua belas dari ahlul bait. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian putranya, Hasan, kemudian putranya, Husain, kemudian sembilan orang yang maksum dari keturunan Husain. Rasulullah SAW telah menetapkan imam-imam tersebut dalam banyak kesempatan baik secara terang-terangan  maupun isyarat. Ia menyebutkan mereka lengkap dengan nama-nama mereka dalam beberapa riwayat yang disebutkan oleh aliran syi’ah dan sebagian ulama sunni. Terkadang sebagian ahlus sunnah menyanggah riwayat tersebut dengan mengaggap aneh bagaimana Rasulullah berbicara tentang perkara ghaib yang belum terjadi. Disebutkan di dalam Al Quran:
وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوء
Artinya: “dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan”. (QS. Al A’raf: 188).
Untuk menjawab hal ini kami katakan bahwa ayat tersebut tidak menafikan pengetahuan Rasulullah tentang hal ghaib sama sekali, akan tetapi ayat tersebut muncul sebagai jawaban bagi kaum musyrikin yang meminta Nabi SAW untuk memberitahu mereka tentang terjadinya hari kiamat, sedangkan hanya Allah sajalah yang mengetahui waktu kapan kiamat terjadi.
Disebutkan di dalam al Qur’an:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ
Artinya:  (dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya”. (QS. Al Jin: 26, 27)
Dalam ayat ada bukti bahwa Allah SWT memberitahu hal yang ghaib kepada rasul-rasul yang Dia pilih. Di antara contohnya adalah perkataan nabi Yusuf kepada temannya di dalam penjara:
لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ذَلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبّي
Artinya: "tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku”.  (QS. Yusuf : 37)
Contohnya pula terdapat dalam firman Allah SWT:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Artinya: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. Al Kahfi : 65)
yang menceritakan tentang nabi Khidir yang bertemu dengan nabi Musa dimana nabi Khidir mengajarkan pengetahuan yang tidak bisa disabari oleh Musa.
Kaum muslimin, baik yang beraliran syi’ah maupun sunni, tidak berselisih perihal pengetahuan Rasulullah tentang hal ghaib. Dalam biografinya tercatat banyak hadis yang menceritakan hal-hal ghaib seperti sabda Nabi: (kasihan ammar dia dibunuh oleh kelompok pembangkang), dan sabda nabi kepada Ali: (orang belakangan yang paling merugi adalah yang memukul kepalamu sehingga membuat putih jenggotmu), dan sabda Nabi: (Sesungguhnya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar melalui putraku Hasan), dan sabda Nabi kepada Abu Dzar  bahwa ia akan mati sendirian dan terusir, dan hadits-hadits lainnya seperti haits yang terkenal yang disebutkan oleh Bukhari dan Muslim serta para ahli hadits yang terdapat kata-kata: (imam-imam setelah ku ada dua belas mereka semua dari quraisy) dan di beberapa riwayat: (mereka semua dari Bani Hasyim).
Telah kami buktikan dalam pembahasan sebelumnya dari kitab ma’ash shodiqin dan kitab fas’aluu ahladz dzikri bahwa ulama sunni sendiri telah menunjukkan dan mensahihkan dalam kitab hadits shahih dan musnad tentang hadits-hadits yang menunjukkan atas kepemimpinan imam dua belas tersebut.
Jika ada orang bertanya, kenapa para ulama tersebut meninggalkan imam 12 dan malah mengikuti imam 4 mazhab jika mereka mengakui  dan mensahihkan hadits-hadits tersebut?
Jawabannya adalah semua assalafushalih adalah pendukung khalifah yang tiga yang lahir dari saqifah yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka adalah satu keharusan bagi mereka meninggalkan ahlul bait dan memusuhi imam Ali beserta anak-anaknya. Sebagaimana telah kami sebutkan, mereka menghapus sunnah Nabi dan menggantinya dengan ijtihad mereka sendiri. Hal itu disebabkan oleh terpecahnya umat islam menjadi dua kelompok langsung setelah wafatnya Rasulullah. Maka assalafushalih, para pengikut mereka dan yang sependapat dengan mereka mewakili ahlussunnah waljama’ah dan mereka adalah mayoritas besar umat Islam. Sedangkan Ali dan pendukungnya adalah minoritas kecil yang tidak ikut berbaiat dan tidak mengakui para khalifah tersebut. Mereka kemudia menjadi orang-orang yang terbuang, dibenci dan dipanggil dengan sebutan rawafidh (orang-orang yang menolak). Karena ahlussunnah waljama’ah adalah orang-orang yang mengendalikan perjalanan umat dari masa kemasa maka semua penguasa bani umayyah dan bani ‘abbas adalah pendukung dan pengikut madrasah khilafah yang dibentuk oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Mu’awiyah dan Yazid.
Ketika urusan khilafah gagal dan hilang kewibawaannya lalu pindah ke tangan para budak (mamalik)  dan orang non arab (‘Ajam) dan terdengar kodifikasi sunnah Nabi, saat itulah muncul hadits-hadits yang dulu dihapus dan disembunyikan oleh para pendahulu yang kemudian mereka tidak mampu untuk menghilangkan dan mendustakannya lagi. Hadits-hadits tersebut terus menjadi teka-teki yang membingungkan bagi mereka karena bertentangan dengan  realita yang mereka percayai.
Sebagian mereka berusaha untuk mensinkronkan hadits-hadits tersebut dengan keyakinan mereka. Lalu mereka berpura-pura untuk mencintai ahlul bait. Anda dapat melihat sendiri ketika mereka menyebutkan nama imam Ali mereka akan sebut:  radhiyallah ‘anhu dan karromallahu wajhah agar nampak di pandangan orang bahwa mereka bukanlah musuh keluarga Nabi.
Maka tidak bisa bagi seorang muslim manapun sampai orang munafik sekalipun untuk menampakkan permusuhannya pada keluarga Nabi, karena musuh keluarga Nabi berarti musuh Rasulullah dan sebagaimana diketahui bersama hal itu bisa mengeluarkan mereka dari Islam.
Yang dapat dipahami dari ini semua adalah mereka sebenarnya adalah musuh keluarga Nabi. Yang kami maksud dengan mereka di sini adalah assalafashalih yang menamakan diri mereka atau diberi nama oleh pendukungnya sebagai ahlussunnah waljama’ah. Buktinya adalah anda mendapati mereka semua mengikuti mazhab yang 4 yang dibuat oleh penguasa (sebagaimana kami akan jelaskan sebentar lagi) dan mereka tidak memiliki sedikitpun hukum agama yang merujuk kepada fiqih ahlul bait atau pada salah seorang imam dua belas. Kenyataan mengatakan bahwa justru syi’ah imamiyah adalah ahlussunnah muhammadiyah (pengikut sunnah Nabi) karena dalam semua hukum fiqih mereka terikat dengan imam-imam ahlul bait yang mewarisi sunnah yang benar dari kakek mereka, Rasulullah SAW dan mereka tidak memasukan pendapat, ijtihad, dan perkataan para khalifah kedalamnya.
Pengkut syi’ah sajalah yang sepanjang masa tulus beribadah berdasarkan nash dan menolak ijtihad melawan nash, mereka juga percaya dengan kekhilafahan Ali dan putra-putranya karena Nabi SAW telah menetapkan hal itu. Orang Syi’ah menyebut mereka sebagai khulafaurrasul meskipun tidak ada seorangpun yang menjadi brtul-betul menjadi khalifah Ali. Mereka menolak dan tidak mengakui para penguasa yang bergantian memegang khilafah dari awal sampai akhir karena dasar kekhalifahan tersebut adalah kesalahan--mudah mudahan Allah melindungi kita dari keburukannya  sebagai bentuk penolakan pada Allah dan rasulNya. Semua orang yang datang setelahnya menjadi beban bagi kesalahan tersebut. Tidak ada seorang khalifahpun yang berkuasa melainkan karena penunjukan dari pendahulunya atau melalui peperangan dan penaklukan. Oleh karena itu ahlusunnah wal jama’ah terpaksa mengakui kepemimpinan orang yang baik maupun zalim karena mereka menerima kekhalifahan semua penguasa meskipun penguasa yang fasiq.
Hanya pengikut syi’ah imamiyah saja yang mewajibkan kemaksuman imam. Imamah Kubra dan kepemimpinan umat tidak sah kecuali bagi imam yang maksum. Tidak ada seorangpun dalam umat ini manusia yang maksum kecuali orang-orang yang Allah telah hilangkan kotoran dari mereka dan Allah sucikan mereka (ahlul bait)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar