Jumat, 18 Oktober 2019

TANGGUNG JAWAB ILMUAN

Ilmu menghasilkan teknologi yang diterapkan pada masyarakat. Teknologi dan ilmu pengetahuan dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamatan bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia.

Dihadapkan dengan masalah moral ekses ilmu dan teknologi yang besifat merusak, para ilmuwan dapat dipilahkan menjadi dua golongan pendapat yaitu: (i) golongan yang berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologi. (ii) golongan yang berpendapat ilmu netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan dalam penggunaanya harus berlandaskan nilai-nilai moral.

Golongan yang kedua ini mendasarkan pendapatnya pada tigal yakni (i) ilmu secra faktual telah dipergunakan secara destraktif  oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi keilmuan yang terjadi pada Bom Atom (ii) ilmu telah bekembang dengan pesat dan makin esoteric hingga kaum iluwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bilai terjadi penyalahgunaan (iii) ilmu telah berkembangan sedemikan rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik pembuatan sosial.

Fungsi ilmuawan tidak berhenti pada penelaah dan keilmuwan secar individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan masyarakat (Suriasumantri, 1984). 

Dengan kata lain penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial. Impilkasi penting dari tanggung jawab sosial seorang ilmuwan, alah bahwa setiap pencarian dan penemuan kebenaran secara ilmiah harus disertai dengan landasan etis yang kukuh.
Lebih lanjut menurut Suriasumantri (1984), proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi etika, merupakan kategori moral yang menjadi dasar sikap etis seorang ilmuwan. Ilmuwan bukan saja berfungsi sebagai penganalisis materi kebenaran tersebut, tetapi juga harus menjadi prototipe moral yang baik. Aspek etika dari hakikat keilmuwan ini kurang mendapat perhatian dari para ilmuwanitu sendiri.

Tanggung jawab ilmuwan tidaklah ringan. Dapatkah seorang ilmuwan memikul tanggung jawab sedemikian itu, jika batas moral yang berlaku tidak bersifat universal?. Etika tidak dapat memberikan aturan universal yang konkret untuk setiap masa, kebudayaan, dan situasi (Peursen dkk 1990).

Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan teknologi adalah segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain disamping kebenaran keilmuwan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki.

Ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar untung dan rugi baikm dan buruknya, sehingga penyelesaianya yang objektif dapat dimungkinkan.

Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat memengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogianya mereka sadari. Dalam hal ini, berbeda dengan saat menghadapi masyarkat, ilmuwan yang elitis dan esoterik, dia harus berbicara  dengan bahasa yang dapat dicerna oleh orang awam. Untuk itu ilmuwan bukan saja mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun nuga intergritas kepribadiannya.

Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat. Inilah yang menyebabkan dia mempunyai tanggung jawab sosial.

Dibidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi hanya memberi informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil didepan bagaimana caranya bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.

Seorang ilmuwan secara moral tidak akan memberikan hasil penelitian atau penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakannya bangsa sendiri.
Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan manusia atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan. Untuk itulah tanggung jawab ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapatlah dihipotesiskan, jika ilmuwan telah dapat memnuhi tanggung jawab sosialnya, maka ilmu pengetahuan itu akan berkembang pesat, ilmu pengetahuan itu akan dapat memberi manfaat besar bagi kehidupan manusia, dan ilmu pengetahuan itu tidak akan menimbulkan konflik di masyarakatya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar