PROPOSAL DISERTASI
PELAKSANAAN PENDIDIKAN ISLAM
DALAM MEMBENTUK MANUSIA BERKARAKTER DAN BERADAB
( Survei di Pondok Pesantren
Darussalam Kasomalang Subang Jawa Barat )
Oleh:
H. Ma’mun Zahrudin
NIM 3190210012
PROGRAM DOKTOR PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN )
SUNAN GUNUNG JATI BANDUNG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pesantren adalah lembaga pendidikan
Islam yang bersifat tradisional. Pesantren dibentuk untuk memahami, mempelajari
dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral agama
Islam sebagai pedoman hidup sehari-hari.1 Pondok pesantren merupakan
salah satu subsistem pendidikan yang memiliki karakteristik khusus. Model
pendidikan yang dilaksanakan oleh pesantren secara legal, diakui oleh semangat
Undang Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Khusus pendidikan pesantren, para
santri atau siswa yang belajar di dalamnya dididik untuk menjadi mukmin sejati,
yaitu manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhak mulia, mempunyai
integritas pribadi yang utuh, mandiri dan mempunyai kualitas intelektual. Di
dalam pondok pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat, berorganisasi,
memimpin dan dipimpin, bahkan akhir-akhir ini pesantren dijadikan tempat untuk
menempa santri untuk berwirausaha. Di dalam pesantren, santri hidup terlepas
dari pengawasan orangtua dalam waktu yang lama.
1 Mastuhu, Dinamika Sistem
Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 6.
Pesantren sebagai institusi
pendidikan sekaligus unit sosial, terbentuk dari beberapa unsur yaitu adanya
seorang kyai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning.2 Di antara
kelima unsur tersebut, kyai sebagai pengasuh (leader) menempati posisi sentral. Lazimnya, seorang kyai adalah
pemilik, pengelola dan pengajar kitab kuning sekaligus merangkap imam (pemimpin)
pada setiap acara yang digelar di dalam pesantren.
Pondok pesantren memiliki karakter
yang membedakan dengan institusi pendidikan atau institusi sosial yang lain.
Karakteristik yang membedakan pesantren tersebut antara lain karakter bangunan
yang dimiliki oleh pondok pesantren.3 Pondok pesantren merupakan
kompleks yang di dalamnya terdapat bangunan tempat tinggal pengasuh, masjid,
asrama santri, dan sekolah tempat belajar santri. Hal ini sesuai dengan
pendapat Prasodjo mengenai pola-pola dan unsur-unsur dalam pondok pesantren
yaitu terdiri atas lima pola, yang secara berurutan unsur-unsurnya berkembang
dari sederhana hingga variatif. Pola I terdiri dari bangunan masjid dan kyai;
pola II terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok; pola III terdiri dari masjid,
rumah kyai, pondok dan madrasah; pola IV terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok,
madrasah, tempat keterampilan; pola V
2 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup (Jakarta: LP3ES,
1982), hlm. 44-60.
3 Sukamto, Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren (Jakarta:
LP3ES, 1999), hlm. 1.
terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok, madrasah, tempat
ketrampilan, universitas, gedung perkantoran.4
Menurut Abdurrahman Wahid, pada
umumnya unsur-unsur tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam
membentuk perilaku sosial budaya santri. Peranan kyai dan santri dalam menjaga
tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren, yaitu suatu
gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakter keagamaan
dalam kurun waktu relatif panjang.5
Subkultur yang dibangun komunitas
pesantren senantiasa berada dalam sistem sosial budaya yang lebih besar. Pondok
pesantren membentuk tradisi keagamaan yang bergerak dalam bingkai sosial
kultural masyarakat pluralistik dan bersifat kompleks. Sistem sosial yang lebih
besar cenderung menekan komunitas-komunitas kecil yang sesungguhnya masih dalam
ruang lingkup pengaruhnya. Meskipun tradisi keagamaan pesantren dapat membangun
sebuah subkultur, tetapi pesantren sendiri merupakan bagian tak terpisahkan
dari kultur masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagai
lembaga sosial keagamaan dan pendidikan, lembaga pesantren bergerak secara
dinamis dalam kurun waktu tertentu. Perkembangan pondok pesantren senantiasa
melahirkan unsur-unsur
4 Pada awalnya, unsur-unsur pondok pesantren
sangat sederhana, hanya terdiri atas kyai,
santri dan bangunan rumah kyai yang berfungsi sebagai tempat mengaji
Al-Qur’an. Prasodjo, Sudjoko, Profil Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1982),
hlm. 104-109.
5 Sukamto, Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, hlm.
2.
baru dengan terus menjaga unsur-unsur lama yang telah
terbentuk. Terjadinya akumulasi atas unsur tersebut membuat pondok pesantren
tetap eksis dan berfungsi dalam arus perubahan sosial.6
Terdapat bermacam-macam tipe
pendidikan pesantren yang masing- masing mengikuti kecenderungan yang
berbeda-beda. Secara garis besar, lembaga-lembaga pesantren pada dewasa ini
dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern). Pertama, pesantren salaf yaitu merujuk pada
lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik
sebagai inti pendidikan. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk
memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk
lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.7 Namun
demikian, pesantren salaf sebagai pusat pengkajian pendidikan generasi Islam
dianggap masih kurang memadai dari segi fasilitas sarana dan prasarana.8
Kedua, pesantren khalaf (modern)
yang dicirikan antara lain oleh adaptasi kurikulum pendidikan umum dalam
kurikulum pendidikan yang biasa diajarkan
di pesantren.9 Dalam prakteknya, pesantren khalaf ini tetap
mempertahankan sistem salaf. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, hampir semua pesantren
6 Ibid., hlm. 4.
7 Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren (Jakarta:
Gema Insani Press, 1997), hlm. 83.
8 Nensi Golda Yuli, Sri Haningsih, and Radhika Adi
Krishna, “The Common Room Design of Islamic Boarding School: A Preliminary
Research in Yogyakarta Islamic Boarding School”, International Journal of Engineering & Technology IJET-IJENS
Vol: 11 No: 04
9 Pesantren yang
menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti SMP, SMU dan bahkan
perguruan tinggi dalam lingkungannya. Ibid.,
hlm. 87.
modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah umum
tetap menggunakan sistem salaf di pondoknya. Dalam hal ini, pesantren khalaf
memiliki kelebihan karena mencakup penyelenggaran pendidikan dengan materi
agama dan umum sekaligus. Model penyelenggaraan pembelajaran seperti ini
dimaksudkan agar santri tidak hanya memiliki pemahaman tentang bidang keilmuan
agama, tetapi juga agar santri dapat bersaing setelah lulus.
Pemetaan pesantren dalam dikotomi
salaf dan khalaf sebenarnya telah
ditinggalkan. Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat
Kementerian Agama memetakan pesantren ke dalam pesantren ideal, pesantren
transformatif dan pesantren standar.10 Klasifikasi tersebut
didasarkan pada 27 komponen yang dinilai, antara lain kurikulum, sarana dan
prasarana, rasionalitas tenaga pendidikan dan kependidikan dan lain.lain.
Namun demikian, secara umum, pengklasifikasian
tersebut tidak termasuk pada tujuan akhir dari pada proses pendidikan di
pesantren. Pada umumnya, baik dalam klasifikasi pesantren salaf dan khalaf
maupun pesantren ideal, pesantren transformatif dan pesantren standar santri
sama-sama bertujuan untuk mewujudkan kemandirian santri melalui pendidikan di
dalam pesantren. Orientasi untuk kemandirian santri dalam penyelenggaraan
pendidikan pesantren ini selaras dengan tuntutan Undang-Undang RI No. 20
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyebutkan bahwa “Pendidikan
nasional berfungsi
10 Laporan
Penelitian Pemetaan Kelembagaan Pesantren di Indonesia, ( Jakarta :
Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama
2014.)
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab”.11
Oleh karena itu, dalam kehidupan di
pondok pesantren pola pengasuhan diarahkan untuk membentuk santri mandiri. Hal
tersebut diusahakan dengan berbagai kegiatan yang diikat dengan
peraturan-peraturan yang bermuara pada penciptaan santri mandiri. Oleh karena
itu, di pesantren umumnya terdapat peraturan umum tertulis yang harus dipatuhi
oleh setiap santri dan dilaksanakan secara ketat. Bahkan santri yang melanggar
dapat dikenakan sanksi dikembalikan kepada orangtua (diusir dari pesantren).
Peraturan inilah yang menjadi aturan main dan mengikat bagi semua stekeholder, terutama bagi santri selama
berada dan hidup di lingkungan pesantren. Peraturan yang ada dalam pesantren
pada umumnya mencakup segala aktivitas santri selama 24 jam dari bangun tidur
hingga tidur kembali, serta peraturan lainnya di dalam kegiatan belajar mengajar.
Sejalan dengan uraian di atas,
pesantren dicirikan antra lain: kyai, ustadz, santri dan pengurus pondok
pesantren hidup bersama dalam satu kompleks, berlandaskan nilai-nilai agama
Islam lengkap dengan norma-norma dan
11 Undang-Undang RI
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta:
Grafika, 2008), hlm. 4.
kebiasaan-kebiasaannya sendiri, yang secara eksklusif
berbeda dengan masyarakat yang ada di sekitarnya.12 Kehidupan dalam
pondok pesantren tidak terlepas dari rambu-rambu yang mengatur kegiatan dan
batas-batas perbuatan: halal-haram, wajib-sunnah, baik-buruk dan sebagainya itu
berangkat dari hukum Islam dan semua kegiatan dipandang dan dilaksanakan
sebagai bagian dari ibadah keagamaan, dengan kata lain semua kegiatan dan
aktivitas kehidupan selalu dipandang dengan hukum Islam.
Secara tersirat, inti dari tujuan
pondok pesantren itu adalah untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi
semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap
dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para murid untuk hidup
mandiri kelak setelah keluar dari kehidupan di pesantren. Di dalam pondok
pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat, berorganisasi, memimpin dan
dipimpin dengan dipandu oleh peraturan yang sangat ketat. Bahkan kehidupan di
luar aktivitas akademik yang ada di pesantren dianggap santri cukup membelenggu
santri.13 Hasil penelitian ini juga selaras dengan hasil penelitian
Emmanuel Chinamasa, et, all, yang
mengatakan bahwa alumni pondok pesantren menganggap bahwa pola pendidikan di
pesantren terlalu membelenggu santri.14
12 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan
Hidup, hlm. 50.
13
Sya'roni,
“Ethos Kerja Santri”, KONTIKSTUALITA:
Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan I Vol.21 No. 1, Juni 2006.
14
Emmanuel
Chinamasa, et. All; “Experiences of Day Scholars in Boarding Schools in
Zimbabwe: Implications for
Educational Management, Journal of Education and Practice” www.iiste.org ISSN 2222-1735 (Paper) ISSN 2222-288X
(Online) Vol.5, No.5, 2014.
Secara umum, dalam kehidupan di
pesantren santri dituntut untuk dapat menaati dan meladeni kehidupannya dalam
segala hal. Di samping harus bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan
oleh kyai atau pesantren. Kehidupan yang disiplin yang penuh dengan peraturan
serta berbagai bekal hidup yang diperoleh selama berada dalam lingkungan
pesantren memungkinkan santri untuk dapat hidup mandiri di masyarakat.
Dalam upaya membentuk jiwa
kemandirian santri, penulis meyakini bahwa faktor sumberdaya yang dimiliki
masing-masing perguruan tinggi tidak terkecuali sumberdaya manusia memegang
peranan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan di pesantren. Oleh
karena itu, diperlukan sebuah strategi yang tepat agar potensi yang dimiliki
sumberdaya manusia mampu dieksplor
dengan lebih baik. Dalam hal ini faktor kepemimpinan dan peran pemimpin knowledge management sangat penting.
Pemimpin atau pengasuh selain menjadi
perumus visi, misi dan sasaran pesantren, pemimpin juga berperan dalam
menentukan strategi pencapaiannya dan mengarahkan stakeholder kepada pencapaian tujuan tidak terkecuali dalam hal
pengelolaan pengetahuan. Kepemimpinan pada dasarnya adalah kemampuan seseorang
untuk mempengaruhi dan memotivasi bawahannya agar mau memberikan kontribusi pada pencapaian tujuan
organisasi.15 Dari pengertian ini
15 McShane, SL Von Glinow, MA. Organizational Behavior; Enginering Realistic for The Work Place
Revolution. (Mc Graw Hill. Irwin,2008), hlm, 56.
jelas tergambar bahwa perilaku seluruh anggota organisasi serta
tercapainya tujuan akan sangat ditentukan oleh kemampuan seorang pemimpin.
Kepemimpinan yang ditunjukkan dalam
pola asuh oleh pengasuh pondok pesantren juga berpengaruh pada pembentukan
kemandirian santri. Kajian Ahmad Muflih dkk. tentang pola asuh pimpinan
pesantren dengan mengambil kajian di Pesantren Lirboyo menunjukkan bahwa pola
kempimpinan pesantren yang diterapkan kyai tidak selalu sama. Hal tersebut
ditunjukkan dengan beberapa model kepemimpinan dari generasi ke generasi
berikutnya yang diterapkan oleh kyai. Namun demikian, kesamaan pada pimpinan
pesantren adalah kharisma individu yang ditunjukkan selama memimpin pesantren.16
Sementara itu, menyangkut kemandirian
santri terlihat dalam kehidupan di pondok pesantren yang berhubungan dengan
bagaimana santri mandiri untuk makan, minum, mencuci pakaian, sampai kemandirian
dalam belajar.17 Hal ini disebabkan selama di pondok pesantren para
santri tinggal jauh dari orangtua. Para santri dituntut untuk dapat
menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Kemandirian dalam belajar maupun
bekerja didasarkan pada disiplin terhadap diri sendiri, santri dituntut untuk
lebih aktif, kreatif, dan inovatif.18
16 Ahmad
Muflih, Armanu, Djumahir and Solimun, “Leadership Evolution of Salafiyah Boarding School Leader at
Lirboyo Kediri”, International Journal of
Business and Management Invention ISSN (Online): 2319 – 8028, ISSN (Print):
2319 – 801X www.ijbmi.org Volume
3 Issue 3ǁ
March. 2014ǁ
PP.34-50.
17 Uci Sanusi, “Pendidikan
Kemandirian di Pondok Pesantren (Studi Mengenai Realitas Kemandirian Santri di
Pondok Pesantren Al-Istiqlal Ciganjur dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum
Tasikmalaya)”, Jurnal Pendidikan Agam
Islam-Ta’lim Vol. 10, No.2, 2012.
18 Ibid.
Kemandirian seperti ini kurang nampak
pada peserta didik di lembaga pendidikan formal (sekolah). Pada perjalanan
lembaga pendidikan terdapat masalah yang berhubungan dengan kemandirian peserta
didik. Pertama, munculnya krisis
kemandirian peserta didik, khususnya di lembaga pendidikan formal. Kedua, pendidikan sekolah tidak menjamin
pembentukan kemandirian peserta didik sesuai dengan semangat tujuan pendidikan
nasional.
Perkembangan pribadi dan tingkah laku
santri terutama di dalam pesantren juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Kajian Smith menyimpulkan bahwa lingkungan (pesantren) memberi warna terhadap
perkembangan jiwa individu santri.19 Tumbuh dan berkembangnya
kemandirian seorang santri ditentukan oleh faktor bawaan maupun lingkungan,
sebagaimana perkembangan jiwa manusia itu sendiri. Demikian juga, keberadaan
seorang kyai dan guru di dalam pesantren tidak dapat dilepaskan dari proses
pembentukan kepribadian santri.
Gonzalez menjelaskan bahwa dalam
kehidupan santri, peran seorang pemimpin dapat membentuk opini orang lain.20
Pendapat Gonzalez ini dapat diaplikasikan dalam tataran interaksi antara kyai
dan santri. Kyai sebagai pemimpin pondok dapat terus membentuk opini santri.
Pemimpin pondok yang selalu menekankan pentingnya kemandirian dalam menjalani
hakekat hidup tentunya dapat membekas
pada diri santri
itu sendiri. Mengenai
konsep diri ini,
19Lihat dalam Nasution S., Sejarah
Pendidikan Indonesia (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm.
23.
20 Dalam Amri Jahi, Komunikasi Massa dan Pembangunan (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia,
1993),
hlm. 90.
seringkali konsep diri dibangun oleh orang lain. Gabriel
Marcel, mengemukakan bahwa adanya orang lain dalam memahami diri kita. la
berpendapat bahwa kita akan mengenal diri kita dengan mengenal orang lain
terlebih dahulu.21 Dalam konteks pesantren, yang mempengaruhi konsep
diri santri adalah sang kyai. Oleh karena itu intentitas yang paling produktif
terbangun dari adanya komunikasi yang intens antara santri dengan kyai.
Berkaitan dengan hal ini, jika
dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal, pondok pesantren dipandang mampu
untuk membentuk peserta didik (santri) untuk hidup mandiri. Sistem asrama pada
kehidupan pondok pesantren dan karakteristik kehidupan di dalamnya mendorong
peserta didik agar mampu memenuhi dan menjalani tugas kehidupan sehari-hari
dengan mandiri. Sebagai salah satu lembaga pendidikan, pondok pesantren telah
membuktikan bahwa dirinya telah berhasil mencetak santri-santri yang mandiri,
yaitu dengan tidak selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Selain itu, kecenderungan pola asuh
di pesantren juga menunjukkan perbedaan antara pesantren yang satu dengan yang
lainnya. Pondok Pesantren Darussalam
subang misalnya,
tingkat keterlibatan pengasuh dalam setiap kegiatan santri baik dalam kegiatan
pendidikan formal maupun non formal sangat terlihat. Pertemuan antara pengasuh
dan santri sangat intens. Hal tersebut berbeda dengan di Pondok Pesantren
Pabelan, di mana kehadiran pengasuh di tengah-tengah
21 Jalaludin Rachmat, Metode Penelitian Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1985),
hlm. 126.
proses pendidikan relatife lebih jarang terjadi. Hal
tersebut disebabkan karena dampak dari sistem pendidikan yang telah mapan.
Pengelolaan santri lebih banyak berlangsung dengan bantuan sistem yang teratur.
Kedua pesantren juga memiliki
perbedaan dalam membentuk kemandirian santri. Di Pondok Pesantren Darussalam Subang santri lebih
banyak diarahkan pada pendidikan di Pondok seperti bebicara bahasa
Arab dan Ingris setiap hari, melakukan kegiatan organisasi, olah raga, seni
kaligrafi dan seni musik dan lain-lain. Hal tersebut
tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana lingkungan yang dimiliki oleh
pesantren.
Berdasarkan uraian di atas, pesantren
sebagai salah satu institusi pendidikan yang mampu mencetak santri berkualitas dan berakhlakyang mulia (beradab) serta dapat hidup mandiri. Manusia yang berkarakter dan beradab mulia merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam proses
pendidikan. Berdasarkan UU Sisdiknas, penyelenggaraan pendidikan nasional tidak
hanya bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, akan
tetapi bertujuan pula membentuk peserta didik yang mandiri.
B.
Rumusan masalah
Pesantren sebagai institusi
pendidikan yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia sejak lebih dari
satu abad lamanya telah memberikan sumbangsih dalam kehidupan masyarakat
Indonesia. Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan memiliki kelebihan
dibandingkan dengan institusi pendidikan lainnya. Hal ini disebabkan karena
kehidupan di dalam pesantren memiliki keunikan dibandingkan dengan kehidupan di
luar pesantren, bahkan jika dibandingkan dengan kehidupan di masyarakat
sekitar. Keunikan yang dimiliki oleh pesantren antara lain adalah interaksi
yang cukup intens antara stakeholder (kyai,
ustadz, santri) di dalam proses penyelenggaraan pendidikan.
Selain sebagai institusi pendidikan,
pesantren juga merepresentasikan kehidupan nyata dalam masyarakat. Dengan
keunikan tersebut, santri yang hidup di dalam pesantren tidak hanya mendapatkan
ilmu agama atau ilmu umum, tetapi juga belajar tentang hidup bermasyarakat
sehingga lulusan pesantren lebih mandiri dibandingkan dengan lulusan lembaga
pendidikan non pesantren. Dalam rangkaian kehidupan di pesantren, tidak
terlepas dari peran sentral seorang pimpinan atau kyai. Berdasarkan uraian
tersebut, maka pokok masalah yang menjadi permasalahan penelitian adalah
bagaimana pelaksanaan pendidikan
Islam di Pondok Pesantren Darussalam Subang dalam membentuk manusia yang berkarakter dan beradab ?
Berdasarkan pokok masalah di atas,
dapat dijabarkan rumusan masalah turunan sebagai berikut:
1.
Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Islam diterapkan di Pondok Pesantren Darussalam
Subang didapat membentuk manusia yang berkarakter
dan beradab ?
2.
Faktor-faktor
apa saja yang mendukung dan menghambat pola pelaksanaan
Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darussalam
Subang?
C.
Tujuan dan
Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas,
secara umum penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan, serta
menganalisis pola pelaksanaan
Pendidikan Islam ini juga memiliki tujuan khusus yaitu sebagai
berikut:
1.
Menganalisis
pola pelaksanaan Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darussalam
Subang Jawa Barat.
2.
Menganalisis
faktor pendukung dan penghambat pola pelaksanaan Pendidikan Islam di Pondok
Pesantren Darussalam Subang Jawa Barat
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan dalam bentuk :
1.
Keguanaan Teoritis
a.
Penelitian
ini diharapkan mampu mendukung pengembangan kajian pendidikan Islam pada umumnya dan secara khusus pada ilmu pendidikan Islam.
b.
Sebagai
bahan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya yang berminat meneliti masalah
yang terkait dengan penelitian ini.
2.
Kegunaan praktis
a.
Sebagai
referensi bagi pihak pengambil keputusan agar mampu membuat kebijakan-kebijakan
dan tindakan yang lebih baik, sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai dengan
lebih baik
b.
Sebagai
masukan bagi pengelola pesantren di PP Darussalam
Subang agar lebih memperhatikan berbagai faktor yang dapat
mendorong peningkatan pengelolaan santri.
D.
Tinjauan Pustaka
Berdasarkan hasil penelusuran penulis
terhadap kepustakaan yang terkait dengan judul disertasi ini, ditemukan
beberapa hasil penelitian yang memiliki persamaan dan perbedaan dengan
penelitian penulis, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.
Ahmad Muflih,
Armanu, Djumahir and Solimun, Leadership
Evolution of Salafiyah Boarding School Leader at Lirboyo Kediri.22 Penelitian ini mengkaji tentang model kepemimpinan
kyai di Pondok Pesantren Lirboyo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kyai
memiliki kompetensi yang ditunjukkan oleh intelijen, teladan, otoritas,
karisma, ketulusan, kemampuan, dan penerimaan masyarakat. Di antara banyak
unsur kompetensi tersebut, yang paling disukai adalah kompetensi keilmuan,
karisma dan ketulusan dalam menerima mandat kepemimpinan. Kepemimpinan Model
evolusi KH. Abdul sebagai pendiri generasi pertama adalah untuk menerapkan
kepemimpinan karismatik individu dengan pola monomorfik. Generasi kedua, yaitu
KH. Mahrus Aly dan KH. Marzuki Dahlan, menerapkan kepemimpinan karismatik kolektif
dengan pola polimorphik. Generasi ketiga, yaitu KH. A. Idris Marzuki,
menerapkan kepemimpinan karismatik individu dengan pola polimorfik.
22 Ahmad
Muflih, Armanu, Djumahir and Solimun, “Leadership Evolution of Salafiyah
Boarding School Leader at Lirboyo Kediri”, International
Journal of Business and Management Invention ISSN (Online): 2319 –8028,
2014.
2.
Hasil
penelitian Sya’roni dengan judul “Etos Kerja Santri” dalam Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan.23 Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai- nilai yang mereka tanamkan selama ini belum
menunjukkan hasil yang menggembirakan, sebab ethos yang dimiliki santri masih
rendah. Karena itu diperlukan metode-metode baru yang inovatif dalam menanamkan
nilai-nilai, tidak hanya dengan cara-cara doktriner dan verbal semata. Iklim
pesantren modern yang sangat ketat menerapkan disiplin dan sanksi kepada para
santrinya, tidak selamanya mendatangkan hasil yang positif. Peraturan yang
ketat dan serba melingkup justru menghambat pada santri untuk mengembangkan
potensi kreatifnya. Iklim belajar santri di pesantren pun lebih banyak bersifat
hasil paksaan dari sistem yang ada daripada hasil kesadaran mereka sendiri.
Karena itu harus dibuat iklim yang kondusif yang memungkinkan santri bisa
belajar dengan cara-cara yang menyenangkan bukan dengan keterpaksaan.
3.
Sanusi, dengan judul
“Pendidikan Kemandirian Di Pondok Pesantren (Studi Mengenai Realitas
Kemandirian Santri di Pondok Pesantren Al-Istiqlal Cianjur dan Pondok Pesantren
Bahrul Ulum Tasikmalaya) dalam jurnal Jurnal
Pendidikan Agama Islam-Ta’lim.24 Hasil penelitian Sanusi
menunjukkan bahwa kemandirian santri
yang ditemukan di lapangan dimulai
dari perilaku
23 Sya’roni
dengan judul “Etos Kerja Santri” dalam Jurnal
Penelitian Sosial Keagamaan, KONTIKSTUALITA
Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan I Vol.21 No. 1, Juni 2006.
24 Sanusi, dengan judul
“Pendidikan Kemandirian Di Pondok Pesantren (Studi Mengenai
Realitas
Kemandirian Santri di Pondok Pesantren al-Istiqlal Cianjur dan Pondok Pesantren
Bahrul Ulum Tasikmalaya), Jurnal
Pendidikan Agama Islam -Ta’lim Vol. 10 No. 2 - 2012.
pengelolaan kehidupan yang sederhana, misalnya makan,
mencuci, dan sebagainya. Walaupun sederhana, kalau dilakukan secara berulang
dan dijalani apa adanya, akan membuahkan perilaku kemandirian yang mantap. Ciri
minimal yang akan terbentuk adalah pada urusan sederhana, santri tidak
mengandalkan orang lain. Ini menjadi indikator penting dalam kemandirian.
Kurikulum yang dikembangkan pada kedua pondok pesantren yang diteliti masih
sederhana, tidak terstruktur dengan rapi, dan tidak terdokumentasikan dengan
baik. Kurikulum dan pembelajaran berjalan menurut jadwal hasil inisiatif kyai
dan dewan Ustadz. Penelitian ini tidak pula mengarah pada tipologi kekhasan
pengajian, apakah termasuk pondok pesantren “alat” (nahwu dan sharaf), pondok
pesantren tawhid, atau pondok pesantren lainnya. Pada kedua pondok pesantren
yang diteliti, hampir setiap disiplin ilmu keislaman dikaji, meskipun dalam
porsi yang berbeda. Pemahaman mengenai tipologi kekhasan pengajian lebih baik
diteliti dalam konteks penelitian mengenai kurikulum pondok pesantren. Hal ini
dilakukan untuk kehati-hatian dalam justifikasi tipe.
4.
Abdulloh Hamid dan I Putu
Sudira dalam penelitiannya yang berjudul “Penanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa
SMK Salafiyah Prodi TKJ Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah”.25
Penelitian yang dimuat dalam Jurnal
Vokasi ini menghasilkan temuan sebagai berikut: Nilai-nilai yang ditanamkan di
25 Abdulloh
Hamid dan I Putu Sudira dalam penelitiannya yang berjudul “Penanaman Nilai-
Nilai Karakter Siswa Smk Salafiyah Prodi Tkj Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah, Jurnal
Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni
2013.
SMK Salafiyah
adalah sebagai berikut:
(1)
Nilai dasar: (a) tawassutk
(moderat);
(b) tawazun (seimbang); (c) tasamuḥ (toleran); (d) I‟tidal (adil).
(2) Nilai Personal: (a) keimanan; (b) ketaqwaan; (c)
kemampuan baik; (d) disiplin; (e) kepatuhan; (f) kemandirian; (g) cinta ilmu;
(h) menutup aurat. (3) Nilai sosial: (a) ke-mampuan baik dalam kinerja; (b)
sopan santun; (c) menghormati guru; (d) memuliakan kitab; (e) menyayangi teman;
(f) uswah ḥasanah; (g) taważu’; (h) do’a guru;
(i) berkah;
(j) pisah antara siswa dan
siswi.
Proses penanaman nilai-nilai karakter
di SMK Salafiyah melalui konteks mikro dan konteks makro: (1) konteks mikro
meliputi: (a) integrasi dengan setiap mata pelajaran dan muatan lokal; (b)
budaya sekolah; (c) kegiatan pengembangan diri. (2) konteks makro meliputi: (a)
Keluarga; (b) sekolah; (c) masyarakat.
Dalam konteks makro sinergitas antara
keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan faktor penting dalam penanaman
nilai-nilai pendidikan karakter. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam
penanaman nilai- nilai karakter di SMK Salafiyah meliputi: Faktor Pendukung: a)
Faktor Pendukung Internal: (1) SMK Salafiyah mempunyai SDM tenaga pengajar yang
memadai; (2) siswa SMK Salafiyah mayoritas mondok di pondok pesantren di bawah
naungan Yayasan Salafiyah; (3) memiliki sarana dan prasarana yang memadai. b)
faktor pendukung eksternal: (1) SMK Salafiyah
terletak di Desa Kajen yang mempunyai karakteristik
Islam berbasis pondok pesantren; (2) adanya program-program sekolah yang
mendukung penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah; (3) adanya
sinergitas antara ling- kungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Faktor penghambat dalam penanaman
nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah, a) faktor penghambat internal: (1)
terbatasnya sarana dan prasarana; (2) perbedaan latar belakang; (3) terbatasnya
keuangan sekolah; (4) perbedaan pemahaman dan penafsiran tentang pendidikan
karakter itu sendiri;
(5) belum adanya satu asrama/pondok pesantren bagi
siswa-siswi SMK Salafiyah. b) faktor penghambat eksternal: (1) kurang
optimalnya koordinasi antar sekolah, walimurid lingkungan dan masyarakat; (2)
apatisme masyarakat terhadap pendidikan SMK berbasis pondok pesantren; (3)
paradigma masyarakat bahwa pondok pesantren sudah ketinggalan dengan zaman
sekarang; (4) pengaruh arus deras globalisasi.
5.
Husein
Hasan Basri dengan judul Keragaman Orientasi Pendidikan Di Pesantren.26
Pesantren mengalami perkembangan yang pesat
baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Perkembangan kuantitatif
dapat dilihat dari jumlah lembaga dan santri yang terus meningkat. Secara
kualitatif, pesantren memiliki orientasi pendidikan yang beragam. Bagaimana
pesantren memandang dan mengartikulasikan pendidikan yang diselenggarakan. Dengan mengambil
beberapa ragam dan varian pesantren
26 Husein
Hasan Basri “Keragaman Orientasi Pendidikan Di Pesantren”, Jurnal Dialog Vol. 37, No.2, Des 2014.
sebagai sasaran yang diangkat dari
hasil penelitian tentang topik pesantren yang dilakukan Pusat Penelitian dan
Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan dalam sepuluh tahun terakhir serta
studi yang dilakukan oleh beberapa individu atau lembaga penelitian lain,
menunjukkan keragaman orientasi pendidikan yang dipengaruhi oleh faham
keagamaan dan muatan ideologi pimpinan dan para pengelolanya. Ragam pesantren
salafiyah (tradisional) memperlihatkan adanya dinamisasi pendidikan. Pada ragam
Pondok Modern Gontor dan jaringannya, pembaharuan pendidikan menjadi tema yang
terus diusung sebagaimana yang digariskan sejak pendiriannya. Sedangkan pada
beberapa varian pesantren yang memiliki akar pada Pondok Modern Gontor seperti
al- Mukmin Ngruki, Al-Zaitun, dan Hidayatullah mengorientasikan pendidikannya
pada penyiapan kader Islam. Orientasi pendidikan salafi dapat dilihat pada
pesantren-pesantren yang belakangan disebut sebagai ragam pesantren salafi.
Bahkan ragam pesantren salafi mengkonstruk pendidikannya ke arah kontinuitas
kultur salafi.
Berdasarkan pada hasil penelusuran
terhadap penelitian di atas, pada pokoknya ketiga penelitian tidak memiliki
persamaan dengan topik penelitian yang hendak dilaksanakan penulis. Di mana
dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis terfokus pada pola pelaksanaan pendidikan
yang diterapkan di pesantren oleh pimpinan pesantren dalam membentuk jiwa
mandiri santri. Penelitian yang dilakukan penulis, hanya terfokus bagaimana
pimpinan pesantren menerapkan pola pelaksanaan pendidikan Islam yang berkontribusinya
pada terbentuknya manusia yang berkarakter dan beradab.
Perbedaan dari
penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah metode yang diterapkan yaitu
dengan mendeskripsikan pola pelaksanaan
pendidikan Islam dalam membentuk manusia yang berkarakter dan beradab.
E.
Kerangka Teori
1. Pengertian Pesantren
Pengertian pesantren baik secara
terminologis maupun etimilogis dimaknai berbeda oleh para ahli. Sebelum
membahas tentang historisitas pesntren, terlebih dahulu penulis akan membahas
pengertian pesantren. Kata pesantren merupakan kata yang dibentuk dari kata
dasar santri dengan mendapat penambahan awalan “pe-“ dan akhiran “-an”, yang
berarti tempat tinggal para santri. Profesor Jhons berpendapat bahwa istilah
santri berasal dan bahasa Tamil yang
berarti guru mengaji. Sedang C.C.Berg berpendapat bahwa istilah tersebut
berasal dan kata shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu
buku-buku suci agam Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.27
Kata santri berasal dan kata shastra
yang berarti buku-buku suci, buku- buku agama, atau buku-buku tentang ilmu
pengetahuan. Sementara Geertz
27 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta:
LP3ES, 1990), hlm. 41.
menduga, bahwa pengertian santri mungkin berasal dan
bahasa sangsekerta “shastri”, yang
berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern
memiliki arti yang sempit dan arti yang luas. Dalam arti sempit, ialah seorang
pelajar yang belajar di sekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren,
sedang dalam arti yang lebih luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk
Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh, yang bersembahyang ke masjid
pada hari Jumat, dan sebagainya.
Sedangkan Soegarda Poerbakawatja
menyatakan bahwa tradisi pesantren itu bukan berasal dan sistem pendidikan
Islam di Makkah, melainkan dari Hindu dengan melihat seluruh sistem
pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapat gaji, penghormatan yang besar
terhadap guru dari para murid yang keluar meminta-minta di luar lingkungan
pondok.28 Juga letak pesantren yang didirikan di luar kota dapat
dijadikan alasan untuk membuktikan asal-usul pesantren dari Hindu dan pendapat
serupa dikemukakan juga oleh Van Bruinessen.
Sementara itu, Nurcholish Madjid,29
disebutkan pengertian yaitu pesantren adalah bentuk pendidikan Islam di
Idonesia yang telah berakar sejak berabad-abad silam. Ia menilai, pesantren
mengandung makna ke-Islam-an
28 Soegarda Poerbakawatja, H.A.H., Ensiklopedi Pendidikan (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 123.
29
Nurcholis
Madjid, Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah
Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 13.
sekaligus keaslian (indigenous)
Indonesia. Kata ”Pesantren” mengandung pengertian sebagai tempat para
santri atau murid pesantren. Sedangkan kata “santri” diduga berasal dari
istilah sansekerta “sastri” yang berarti “melek huruf”, namun ada juga yang
mengaitkan kata santri dengan cantrik (bahasa
Jawa) yang berarti seseorang yang mengikuti gurunya kemanapun dia pergi.
Sedangkan Abdurrahman Wahid30 memaknai pesantren
secara teknis, a place where santri (student) live. Adapun
Abdurrahman Mas’oed31 menulis:
The word pesantren stems from “santri”
which means one who seeks Islamic knowledge. Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or
her time to live in and acquire knowledge
“Kata pesantren terbentuk dari kata “santri” yang
berarti seorang yang mencari pengetahuan agama. Biasanya kata pesantren
menunjukkan ke sebuah tempat dimana santri mempersembahkan kebanyakan waktunya
untuk hidup dan tinggal di dalamnya dan mendapatkan ilmu”.
M. Arifin,32 menjelaskan
bahwa pondok pesantren berarti suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh
serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (kompleks) di mana
santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah
yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang kyai
30 Lihat dalam
Nawawi, “Sejarah dan Perkembangan Pesantren”, Jurnal Studi Islam dan Budaya Ibda` Vol. 4 No. 1 Jan-Jun 2006 4-19 P3M STAIN Purwokerto, hlm. 1.
31 Ibid.
32
Dalam
Mujaml Qomar, Pesantren, dari
Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi (Jakarta. Penerbit
Erlangga, 2002), hlm. 2.
dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik serta independen
dalam segala hal.
Dari pengertian-pengertian di atas,
baik secara termonologis maupun etimologis, kita bisa simpulkan betapa
beragamnya pengertian pesantren. Namun secara sederhana dapat dipahami bahwa
pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki kekhasan dalam
berbagai komponen yang ada di dalamnya.
Pesantren adalah lembaga pendidikan
Islam di mana para siswanya tinggal bersama dalam suatu kompleks dan belajar di
bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan
kyai.33 Pesantren sering kali kurang dipahami oleh masyarakat di
luar lingkungannya, meski telah hadir sejak ratusan tahun yang lalu, tidak ada
catatan sejarah mengenai kapan institusi pendidikan Islam ini pertama kali
muncul di Indonesia, kecuali dikenal dalam bentuk awalnya pada sekitar abad
pertengahan. Bentuk-bentuk kelembagaan pesantren yang lebih modern sebagaimana
dikenal sekarang, tumbuh sekitar peralihan abad ke-19.34
Lembaga pendidikan pesantren ini
muncul sebagai tantangan zaman dari desakan masyarakat Islam yang masih
tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan agama. Lembaga tersebut
muncul walaupun
33 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi
Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup, hlm. 50.
34 Ahmad Suedy, dan Hermawan, Sulistyo, Kyai dan Demokrasi Suatu Potret Pandangan
Tentang Pluralisme, Toleransi, Persamaan Negara, Pemilu dan Partai Politik (Jakarta:
P3M, 2001), hlm. 1.
dalam bentuk yang sederhana tetapi ternyata dalam
perkembangannya telah memberikan investasi bernilai luar biasa dalam kehidupan
bermasyarakat, bernegara dan beragama di Indonesia sampai sekarang. Hal ini
bisa dibuktikan dalam kehidupan bersosial budaya, berekonomi, berpolitik,
beragama dan bidang kehidupan lainnya dari kelompok masyarakat Islam
tradisional sekalipun dibandingkan dengan masyarakat Islam modern saat ini.
Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa
pondok pesantren merupakan latar belakang pendidikan yang mampu membentuk pola
pikir dan perilaku santrinya.35 Pesantren berbeda dengan lembaga
pendidikan lainnya. Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga
pendidikan lainnya adalah para santri atau murid tinggal bersama dengan kyai
atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu yang mandiri, sehingga dapat
menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren, seperti:
a.
Adanya hubungan yang akrab
antara santri dan kyai;
b.
Santri taat dan patuh kepada kyainya;
c.
Para santri hidup secara
mandiri dan sederhana;
d.
Adanya semangat
gotong-royong dalam suasana penuh persaudaraan;
e.
Para santri terlatih hidup
berdisiplin dan tirakat
35 Marzuki Wahid, (ed.), Pesantren Masa Depan (Bandung: Pustaka Indah, 1999), hlm. 14.
dan keluarganya, pondok tempat tinggal para santri, dan
ruangan-ruangan belajar.
Dalam perjalanan perkembangannya,
pondok pesantren semakin mengembangkan dirinya untuk menyesuaikan dengan
kemajuan zaman. Sehingga saat ini kita melihat ada bermacam-macam tipe
pendidikan pesantren. Secara garis besar, lembaga-lembaga pesantren pada dewasa
ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar, yaitu :
a.
Pesantren
Salafi, yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai
inti pendidikan di pesantren.
b.
Pesantren
Khalafi, yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah
yang dikembangkannya, atau membuka tipe- tipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren.36
Beberapa pesantren salaf masih
mempertahankan kecenderungan dengan tipe penyajian pelajaran klasik.
Kecenderungan seperti ini tentunya mengalami kendala serius dalam menjaga
kelangsungan pesantren. Beberapa pesantren yang dikenal dengan pesantren modern
tidak lagi menggunakan tipe pelajaran klasik tetapi juga memasukkan pengetahuan
umum agar mampu bersaing di pasar kerja. Dalam tradisi pesantren, pengajaran
kitab-kitab Islam klasik lazimnya memakai metode-metode berikut:
a.
Metode sorogan, yaitu bentuk belajar-mengajar di mana kyai hanya
menghadapi seorang santri atau se-kelompok kecil santri yang masih
36 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup, hlm. 41.
dalam tingkat dasar. Tata caranya adalah seorang santri
menyodorkan sebuah kitab di hadapan kyai, kemudian kyai membacakan beberapa
bagian dari kitab itu, lalu murid mengulangi bacaannya di bawah tuntunan kyai
sampai santri benar-benar dapat membacanya dengan baik. Bagi santri yang telah
menguasai materi pelajarannya akan ditambahkan materi baru, sedangkan yang
belum harus mengulanginya lagi.
b.
Metode wetonan dan bandongan, ialah metode mengajar dengan sistem ceramah. Kyai
membaca kitab di hadapan kelompok santri tingkat lanjutan dalam jumlah besar
pada waktu-waktu tertentu seperti sesudah salat berjemaah subuh atau isya. Di
daerah Jawa Barat metode ini lebih dikenal dengan istilah bandongan. Dalam metode ini kyai biasanya membacakan,
menerjemahkan, lalu men-jelaskan kalimat-kalimat yang sulit dari suatu kitab
dan para santri menyimak bacaan kyai sambil membuat catatan penjelasan di
pinggiran kitabnya. Di daerah luar Jawa metode ini disebut halaqah (Ar.), yakni murid mengelilingi guru yang membahas kitab.
c.
Metode
musyawarah, ialah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk membahas setiap
masalah yang berhubungan dengan pelajaran santri di tingkat tinggi. Metode ini
menekankan keaktifan pada pihak santri, yaitu santri harus aktif mempelajari
dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya. Kyai hanya
menyerahkan dan memberi bimbingan seperlunya.
Lembaga pendidikan pesantren memiliki
ciri khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Secara umum kehidupan di
dunia pesantren akan tergambar dalam kegiatan para kyai dan santri melalui
peran dan fungsinya masing-masing.
Dalam perjalanan sejarah Indonesia
pesantren telah memainkan peranan yang besar dalam usaha memperkuat iman,
meningkatkan ketakwaan, membina akhlak mulia dan mengembangkan swadaya
masyarakat Indonesia dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan
informal, nonformal, dan pendidikan formal yang diselenggarakannya. Secara
informal lembaga pesantren di Indonesia telah berfungsi sebagai keluarga yang
membentuk watak dan kepribadian santri. Pesantren juga telah melaksanakan
pendidikan keterampilan melalui kursus-kursus untuk membekali dan membantu
kemandirian para santri.
Beberapa persyaratan yang harus
dimiliki oleh sebuah pondok pesantren adalah :
a.
Adanya
kyai, sebagai pendiri, pemilik, pengasuh sekaligus pemimpin dan manajernya.
b.
Adanya
santri, yang tinggal di pondok/asrama untuk belajar ilmu agama dan sekaligus
mengabdikannya pada kyai.
c.
Memiliki
masjid, sebagai sarana/tempat ibadah/shalat berjamaah dan sekaligus untuk
belajar ilmu agama.
d.
Adanya pondokan, untuk
tempat tinggal para santri.
e.
Adanya kegiatan mengaji kitab-kitab kuning, yang kurikulumnya ditentukan oleh kyai.
Menurut Zamakhsyari Dhofier, ada tiga
alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama. Pertama, kemasyhuran kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang
Islam menarik santri-santri dari jauh. Untuk dapat menggali ilmu tersebut
secara teratur dan lama, para santri harus meninggalkan kampung halaman dan
menetap. Kedua, hampir semua
pesantren berada di desa-desa di mana hampir tidak ada perumahan yang cukup
untuk menampung santri. Ketiga, ada
sikap timbal balik di mana santri menganggap kyai sebagai bapaknya sendiri dan
kyai menganggap santri titipan Tuhan yang harus dilindungi.37
Masjid merupakan elemen yang tidak
dapat dipisahkan dengan pesantren. Biasanya masjid menjadi tempat beribadah
terutama shalat lima waktu dan beberapa di antaranya berfungsi pula sebagai
tempat pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Kedudukannya sebagai pusat
pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari
sistem pendidikan Islam tradisional.38
Pada masa lalu pengajaran kitab-kitab
Islam klasik merupakan satu- satunya pengajaran formal yang diberikan di
pesantren. Karena tujuan utamanya adalah untuk mendidik calon ulama, maka
meskipun kini
37 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi
Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup, hlm. 46-47.
kebanyakan pesantren telah menggunakan metode pengajaran
modern, pengajaran kitab-kitab Islam klasik (sering disebut juga kitab kuning)
tetap dipertahankan. Di dalam pesantren sendiri terdapat dua kelompok santri,
yaitu:
a.
Santri
mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari jauh dan menetap dalam kelompok
pesantren. Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren tersebut biasanya
merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurusi
kepentingan pesantren sehari-hari.
b.
Santri
kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren,
yang biasanya tidak menetap dalam pesantren.39
Sedangkan kyai merupakan elemen
pembentuk tradisi pesantren yang paling esensial. Di dalam pondok pesantren,
seoranag kyai menjadi penentu kebijakan pesantren, sehingga pertumbuhan dan
corak pesantren bergantung kepada kemampuan kyai. Karenanya dapat dipahami
apabila pasang surut perjalanan pesantren bergantung pada kyai. Oleh karena
itu, apa yang dilakukan pesantren tidak mendasarkan pada strategi tertentu,
melainkan berangkat dari penghayatan dan keberagaman kyai. Apabila kyai
pengasuh pesantren meninggal, kepemimpinan secara otomatis dipegang oleh
anaknya atau keluarganya.
2. Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam suatu organisasi
memiliki peran yang sangat vital. Seorang pemimpin selain menentukan visi,
misi, tujuan dan strategi pencapaian juga bertugas memimpin, mengarahkan,
memotivasi anggota kelompok untuk mencapai tujuan. Menurut Robbins mengatakan
bahwa kepemimpinan adalah proses memimpin sebuah kelompok dan mempengaruhi
suatu kelompok kearah pencapaian tujuan.40 Hal senada dikemukakan
oleh Mc Shane yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses
mempengaruhi orang lain dan menyediakan ruang/lingkungan bagi mereka untuk
mencapai tujuan organisasi atau kelompok. Kedua pakar ini fokus pada
kepemimpinan dalam konteks kelompok/organisasi.41
Selanjutnya Gibson menekankan pada
upaya menggunakan berbagai jenis pengaruh yang bukan paksaan untuk memotivasi
anggota organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dalam hal ini konteks
kepemimpinan yang dikemukakan juga kelompok/organisasi tapi menambahkan unsur
motivasi yang memperjelas bahwa upaya yang dilakukan pemimpin bukan bersifat
paksaan.42 Sedangkan Certo mengemukakan
kepemimpinan
dalam
konteks
40 Stephen Robbins
dan Judge, Timothy,
Perilaku Organisasi
(Organizasional Behavior)
(Jakarta:
Salemba Empat, 2009), hlm. 21.
41
Charles,
L., and Steven L. McShane, Principles of
Management (New York: McGraw-Hill Irwin, 2008), hlm. 56.
42
Gibson,
Ivancevich, Donnely Jr. Organisasi
(Perilaku, Struktur, Proses), Jilid I Edisi Lima, (Jakarta: Erlangga,
2007), hlm. 32.
yang lebih luas yakni bahwa kepemimpinan adalah proses mengarahkan
perilaku orang lain untuk mencapai beberapa tujuan.43
Berdasarkan beberapa pendapat ahli
dapat dikatakan bahwa pendapat mereka pada dasarnya adalah sama yakni
menyangkut unsur proses terkait mempengaruhi, mengarahkan dan memotivasi) dan
mengarah pada suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian kepemimpinan
adalah proses di mana seseorang mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi dan
membuat orang lain memberikan kontribusinya pada pencapaian tujuan organisasi.
Selama ini telah banyak pakar yang
membahas tentang kepemimpinan dalam berbagai pendekatan. Para pakar
mengemukakan pendapatnya sesai dengan perspektif masing-masing. Mc Shane
membagi perspektif kepemimpinan dalam 5 (lima) kategori yakni perspektif
kompetensi (sifat), perspektif perilaku, perspektif kontingensi, perspektif
transformasional dan perspektif implicit leadership.44 Kreitner
membagi pandangan kepemimpinan yang sedikit berbeda tapi juga dalam 5 (lima)
kategori yakni pendekatan sifat, perilaku, situasional, transaksional,
kharismatik dan tambahan.45 Sedangkan Schermerhorn membagi
perspektif kepemimpinan dalam empat kategori yakni teori sifat, teori perilaku,
teori kontingensi dan teori-teori baru.46
43 Certo.C , Certo .T, Modern Management: Concept and Skills, Eleventh Edition (New
Jersey: Perason. Prentice Hall, 2009), hlm. 103.
44 Charles, L., and Steven L.
McShane, Principles of Management, hlm.
57.
45
Kreitner,
R. and Angelo Kinicki, Organizational Behavior, eight years. Edition (New YortK
McGraw-Hill Companies Inc., 2008), hlm. 66.
46 Schermerhorn, Management, seven years ed., (New
York: John Wiley & Sons Inc), hlm.
73.
Bertolak dari beberapa pendapat ahli
tersebut, terlihat bahwa semuanya memasukkan tiga teori utama yakni teori
sifat, teori perilaku dan teori kontingensi sedangkan teori-teori yang lain
seperti transaksional, transformasional, kharismatik, tambahan dan teori-teori
baru sangat dipengaruhi oleh sudut pandang dari masing-masing pakar.
a.
Teori
Sifat
Teori sifat merupakan sebuah
pandangan yang mengatakan bahwa seseorang dianggap, diposisikan dan dipilih
sebagai pemimpin berdasarkan sifat khusus yang dimiliki oleh individu tersebut.
Sifat khusus inilah yang membuat seorang pemimpin berbeda dengan orang lain.
Beberapa pakar perilaku organisasi telah mengemukakan beberapa sifat yang
dimiliki individu yang bisa membuatnya menjadi seorang pemimpin di antaranya
McShane menyebutkan beberapa sifat khusus yang membuat seseorang menjadi
pemimpin adalah47 drive,
motivasi memimpin, integritas, kepercayaan diri, kecerdasan, pengetahuan bisnis
dan kecerdasan emosional. Sifat-sifat khusus tersebut dikemukakan pula oleh
Robbins48 yang berbeda hanya karena dimasukkannya unsur kejujuran
dan ekstraversion.49
hlm. 23.
47 Charles, L., and Steven L.
McShane, Principles of Management, hlm.
58.
48 Stephen Robbins dan Judge,
Timothy, Perilaku Organisasi
(Organizasional Behavior).
49 Ekstraversion, seorang pemimpin harus energik, semangat, suka bergaul,
tegas.
b.
Teori Perilaku
Teori ini meyakini bahwa keefektifan
kepemimpinan dalam mencapai tujuan organisasi sangat ditentukan oleh perilaku
atau cara bertindak dari seorang pemimpin.
1)
Ohio
State University Study
Penelitian yang dilakukan oleh Ohio
State University mengindikasikan bahwa perilaku pimpinan didasarkan pada dua
dimensi yaitu consideration dan initiating structure.50 Pemimpin dengan consideration yang tinggi sangat mempertimbangkan rasa
kemanusiaanya. Pemimpin seperti ini biasanya sensitif akan perasaan orang-orang
di sekitarnya, dan selalu mencoba untuk melakukan hal terbaik bagi bawahannya,
mendengarkan keluhan dan pendapat bawahan, memperlakukan bawahan secara adil,
dan menunjukkan perhatian pada kebutuhan bawahan. Sedangkan pemimpin yang
memiliki initiating structure yang
tinggi memberi perhatian pada persyaratan pekerjaaan, pengendalian yang ketat
atas agenda-agenda kerja dan memacu karyawan untuk memaksimalkan kapasitas kinerja.
2)
Michigan
University study
50 Schermerhorn,
Management, hlm. 74.
pada hubungan antar pribadi dan pemimpin yang
berorientasi tugas (job centered behavior)
menekankan pada aspek teknis dari tugas atau pekerjaan.51
c.
Teori Situasional
Teori situasional pada dasarnya
menjelaskan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada situasi yang
dihadapi, hal ini sekaligus berarti bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan
yang cocok untuk berbagai situasi yang berbeda.
1)
Model Kontingensi Fiedler
Model Fiedler’s menjelaskan gaya
kepemimpinan yang terbaik bergantung pada 3 (tiga) situasional control yaitu : (1) leader-member
relations terkait tingkat kepercayaan dan penghargaan bawahan terhadap
pemimpinnya serta tingkat kesediaan bawahan untuk mengikuti petunjuk dari
atasan; (2) task structure merujuk
pada kejelasan atau ambiguitas dari prosedur-prosedur kerja; dan (3) position power terkait seberapa besar
kekuatan yang dimiliki pemimpin untuk melegitimasi, memberikan reward, bahkan
memaksa para bawahan. Untuk memudahkan pemahaman kita maka model Fiedler akan
diilustrasikan dalam gambar berikut :
51 Certo.C , Certo .T, Modern Management:
Concept and Skills. hlm. 105.

Leader member relation Task
structure Position power
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||
Relationship
motivated leader
Gambar 2.2 Variabel situasional fiedler dan gaya kepemimpinan Sumber
: Organizational Behavior, Schermerhorn R.John et.al.2010
Kombinasi dari tiga variabel kontrol
situasi akan berdampak pada gaya kepemimpinan seperti apa yang paling sesuai. Pertama, seorang supervisor yang
berpengalaman dan terlatih dengan baik yang berada pada suatu perusahaan akan
sangat didukung oleh para bawahannya dan memiliki wewenang penuh untuk merekrut
dan memecat bawahannya. Pemimpin ini akan memiliki control situasi yang tinggi dan akan bekerja pada situasi I, II dan
III (tingkat kontrol situasi pada situasi II,
III tentunya akan sedikit lebih rendah daripada situasi I). Sebaliknya,
pemimpin yang memiliki control situasi
rendah biasanya tidak disukai oleh bawahannya. Fiedler’s beranggapan bahwa
pemimpin tersebut harus berperilaku directive untuk menjaga
kebersamaan kelompok kerja.
2)
Path
Goal Theory
Path goal theory merupakan teori
kepemimpinan yang menjelaskan bagaimana perilaku pemimpin yang akan
mempengaruhi bagaimana persepsi karyawan tentang harapan (path) antara usaha mereka yang mereka lakukan dengan tujuan (goals). Path goal theory menekankan pada empat perilaku utama dari pemimpin
yakni :
a)
Supportive leadership, memberi
perhatian pada kebutuhan para bawahan, memperlihatkan perhatian terhadap
kesejahteraan mereka dan menciptakan suasana bersahabat dalam unit kerja mereka.
b)
Directive leadership, memberitahukan
kepada para bawahan apa yang diharapkan pemimpin dari mereka, memberi pedoman
yang spesifik, meminta bawahan untuk mengikuti peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur,
mengatur waktu dan mengkoordinasi pekerjaan mereka.
c)
Partisipative leadership, melakukan
konsultasi dengan para bawahan dan memperhatikan opini dan pendapat mereka.
d)
Achievement oriented leadership, menetapkan
tujuan-tujuan yang menantang, mencari perbaikan dalam kinerja, menekankan kepada
keunggulan dalam kinerja dan memperlihatkan kepercayaan bahwa para
bawahan akan mencapai standar tinggi.52
Seperti teori situasional yang lain, path goal theory juga mengatakan bahwa
pemimpin akan sukses jika mereka mampu menyesuaikan perilaku mereka dengan
situasi yang mereka hadapi. Misalnya kepemimpinan direktif akan cocok jika
karyawan kurang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang pekerjaan, serta
jika pekerjaan tidak terstruktur dan kompleks.
3)
Teori Situasional Hersey and
Blanchard
Teori situasional Hersey and Blanchard ini menjelaskan
bahwa keefektifan seorang pemimpin akan ditentukan oleh tingkat kesiapan dari
para pengikut/bawahan. Tingkat kesiapan yang dimaksudkan dalam hal ini merujuk
pada sejauh mana seseorang mempunyai kemampuan dan kesediaan untuk
menyelesaikan tugas tertentu.
Pada pendekatan kepemimpinan
situasional ini, pemimpin perlu mengembangkan kemampuan dirinya dalam
mendiagnosa situasi untuk kemudian memilih dan menerapkan gaya kepemimpinan
yang dibutuhkan. Pemimpin yang baik akan memilih gaya kepemimpinan yang sesuai
dengan permintaan lingkungan dan karakteristik individu dari para bawahan.
hlm. 27.
52 Stephen Robbins dan Judge, Timothy, Perilaku
Organisasi (Organizational Behavior).
d.
Teori Transaksional dan
Teori Transformasional
Dalam pandangan teori transaksional,
yaitu terjadinya pertukaran di antara karyawan dan pimpinan artinya pimpinan
akan memberikan sesuatu sesuai dengan apa yang karyawan berikan pada
pemimpinnya. Kepemimpinan transaksional dicirikan oleh gaya kepemimpinan yang
memotivasi para pengikut mereka menuju sasaran yang telah ditetapkan dengan
memperjelas persyaratan peran/tugas. Beberapa perilaku kepemimpinan
transaksional menurut Avolio adalah:53
1)
Management by Exception, biasa
disebut correction transactional di mana
para bawahan diberi penghargaan ataupun hukuman untuk suatu tindakan yang
dilakukan dan untuk kondisi-kondisi tertentu intervensi pemimpin sangat
dibutuhkan karena kemampuan karyawan yang sangat kurang.
2)
Contingent reward, atau constructive transactional yakni
pemimpin memberi penghargaan kepada para pengikut tergantung keberhasilan
anggota pada tingkat yang telah ditetapkan.
3)
Nontransactional passive behavior, pemimpin
yang menunggu masalah meningkat baru mengambil tindakan, menghindari
pengambilan keputusan, dan tidak pernah ada ketika dibutuhkan.
53 Avolio, B.J. Bass, B.M., Transformational Leadership and Organizational Culture (PAQ Spring,
2002), hlm. 201.
Kepemimpinan transformasional, pada
dasarnya adalah pemimpin yang memotivasi para pengikutnya untuk melakukan lebih
daripada apa yang diharapkan dengan cara merentangkan kemampuan mereka dan
meningkatkan kepercayaan diri mereka. Para pemimpin transformasional akan
membawa organisasi mereka ke arah masa depan yang mungkin berakibat pada proses
dan tingkat prestasi yang secara nyata berbeda. Empat komponen perilaku
pemimpin transformasional adalah :
1)
Idealized influence, adalah
seorang pemimpin yang bertindak sebagai role
model. Pemimpin ini menunjukkan ketekunan dalam pencapaian sasaran,
menunjukkan etika dan moral yang tinggi dalam berperilaku, mementingkan
kepentingan umum, mau berbagi sukses dan perhatian, Hasilnya pemimpin menjadi
dihormati.
2)
Individualized consideration, adalah
perilaku pemimpin yang memiliki perhatian kepada para pengikutnya, membangun
hubungan tenggang rasa dan saling menghargai, mengidentifikasi kebutuhan para
karyawannya. Pemimpin ini juga memberikan tantangan, kesempatan belajar dan memberikan
pendelegasian guna meningkatkan keterampilan dan kepercayaan.
3)
Inspirational motivation, adalah
perilaku kepemimpinan transformasional yang mampu memotivasi dan memberikan
inspirasi para pengikutnya agar mencapai kemungkinan-kemungkinan yang
tidak terbayangkan. Pemimpin menetapkan harapan yang
tinggi dan menantang pengikutnya mencapai standar yang tinggi dan mampu
mengkomunikasikan visinya dengan baik. Pemimpin menggunakan simbol-simbol dan
metafora untuk memotivasi mereka. Pemimpin ini jika bicara selalu antusias, ia
seorang yang optimis. Para karyawan dibantu menemukan makna mendalam dalam
bekerja sehingga mereka mau mengikutinya secara suka rela.
4)
Intellectual stimulation, adalah
perilaku kepemimpin transformasional yang mendorong para pengikut untuk
menggunakan imajinasi mereka dan memikirkan kembali permasalahan dengan cara
dan metode yang baru, mendorong pembelajaran, dan mendorong para pengikut untuk
menciptakan solusi dari berbagai masalah. Hasilnya adalah para pengikut
diharapkan menjadi lebih kreatif.54
Kebanyakan pemimpin memperlihatkan
gaya transaksional dan transformasional sekaligus, walaupun mereka melakukannya
dengan kadar yang berbeda.55 Dengan pemahaman ini maka penelitian
ini dimensi kepemimpinan yang dipilih adalah gabungan antara transaksional dan
transformasional. Begitu pula menurut Luthans kepemimpinan yang efektif
54 Ibid., hlm. 202.
55 Ibid.
adalah gabungan antara transaksional dan transformasional.56
Dimensi yang digunakan untuk mengukur kepemimpinan adalah:
idealized influenced,
individual consideration, inspirational motivation, intellectual stimulation,
management by exception, contingent reward dan nontransactional passive
behavior.
“pengaruh yang ideal, pertimbangna pribadi, motivasi
yang inspiratif, perangsangan yang cerdik, manajemen dengan pengecualian,
hadiah kesatuan dan perbuatan yang tidak transaksional”.
e.
Pandangan Implisit
Implicit
leadership perspective pada dasarnya menyatakan bahwa kepemimpinan
tergantung pada persepsi dari para pengikutnya terhadap perilaku aktual dan
karakteristik dari orang-orang yang menyebut dirinya pemimpin. Distrosi
persepsi tentang pentingnya keberadaan kepemimpinan dalam organisasi meliputi attribution error, stereotyping dan need for situational control.
1)
Attributing Control
Setiap orang memiliki keinginan untuk
memberikan atribusi pada setiap kejadian yang dialami agar mereka mampu
mengontrol kejadian yang sama di masa yang akan datang. Kesalahan mendasar dari
pengatribusian seringkali disebabkan karena sebagian besar orang cenderung
memberi atribut pada orang lain dengan hanya melihat motivasi dan kemampuan
mereka secara individu daripada
56 Fred Luthans, Perilaku Organisasi,
Edisi Sepuluh terj. Vivin Andhika
Yuwono (t.k.:t.p.,2005) hlm. 107.
mempertimbangkan faktor situasi yang ada. Dalam konteks
kepemimpinan karyawan percaya bahwa setiap kejadian disebabkan karena motivasi
dan kemampuan dari pemimpin bukan karena faktor lingkungan.
2)
Stereotyping Leadership
Streotype sangat dipengaruhi oleh
harapan tentang bagaimana pemimpin yang efektif seharusnya bertindak, sehingga
seringkali karyawan menilai kefektifan seorang pemimpin hanya berdasarkan
penampilan dan tindakan mereka bukan berdasarkan hasil nyata dari tindakan
mereka tersebut.
3)
Need
for Situational Control
Harapan yang tinggi terhadap seorang
pemimpin selalu dimiliki oleh setiap orang di mana mereka berharap bahwa
pemimpin akan melakukan hal yang berbeda. Keyakinan ini disebabkan karena
kepemimpinan merupakan cara mudah untuk menyederhanakan setiap kejadian dalam
organisasi di mana kegagalan dan kesuksesan organisasi akan lebih mudah
dijelaskan dengan melihat kemampuan pemimpin daripada menganalisis faktor
lingkungan, dan juga karena adanya kecenderungan yang kuat bahwa
kejadian-kejadian yang terjadi dalam
kehidupan lebih disebabkan oleh individu bukan karena kehendak
lingkungan.57
f.
Teori Kharismatik
Teori kharismatik melihat pemimpin
sebagai simbol, komunikasi nonverbal, visi, kemampuan menginspirasi,
kepercayaan diri dan kemampuan persuasif yang luar biasa yang dapat
mempengaruhi para pengikutnya. Pemimpin kharismatik dapat mempengaruhi
pengikutnya ketika mereka mampu menyampaikan visi yang menarik,
mengkomunikasikan harapan dan kinerja yang tinggi dan mengemukakan keyakinan
bahwa pengikutnya mampu mewujudkan harapan tersebut. Kondisi ini semakin
meningkatkan keyakinan dan harga diri dari pengikutnya.58
g.
Pandangan Tambahan
1)
Leader
Member Exchange
Teori ini fokus pada hubungan yang
baik antara leader dan follower di mana dikatakan bahwa
keefektifan pemimpin akan tercapai ketika terdapat pertukaran positif antara leader dan follower, baik dalam batasan ingroup
exchange yang ditandai adanya hubungan partnership maupun outgroup exchange yang ditandai oleh
adanya interaksi otoritas formal.
57 Charles, L., and Steven L.
McShane, Principles of Management, hlm.
62.
58 Kreitner, R. and Angelo
Kinicki, Organizational Behavior hlm.
68.
2)
Kepemimpinan Subtitusi
Pendekatan substitutes leadership mengatakan bahwa kadangkala hirarki
kepemimpinan tidak memiliki dampak yang berarti bagi suatu pekerjaan terlebih
apabila variabel-variabel individu, pekerjaan dan organisasi telah memiliki
kompetensi tinggi sehingga dapat dijadikan pengganti sebuah kepemimpinan.
3)
Servant Leadership
Kepemimpinan ini menyiratkan bahwa
para pemimpin sebenarnya memimpin dengan melayani orang lain, para karyawan,
pelanggan dan masyarakat dengan karakteristik meliputi mendengarkan, empati,
memulihkan, kesadaran, persuasi, konseptualisasi, memandang ke depan, tanggung
jawab, komitmen terhadap pertumbuhan orang lain, dan membangun masyarakat.59
4)
Enterpreneur Leadership
59 Ibid.
2.
Pola Asuh
sebagai Karakteristik Unik Kepemimpinan di Pesantren
Pola pengasuhan adalah bentuk
perlakuan atau tindakan pengasuh untuk memelihara, melindungi, mendampingi,
mengajar dan membimbing anak selama masa perkembangan. Pengasuhan berasal dari
kata asuh yang mempunyai makna menjaga, merawat dan mendidik anak yang masih
kecil.60 Sedangkan menurut Santrock pola asuh adalah suatu gaya pola
orangtua dalam mencurahkan kasih sayang yang cukup besar kepada anak-anaknya.61
Pengasuhan anak adalah
salah satu bagian
penting dalam proses sosialisasi.
Pengasuhan anak dalam suatu masyarakat berarti suatu cara dalam
mempersiapkan seseorang menjadi anggota masyarakat. Artinya mempersiapkan
orang itu untuk dapat bertingkah laku sesuai dengan dan berpedoman pada kebudayaan yang didu-kungnya. Dengan demikian pengasuhan anak yang merupakan
bagian dari sosialisasi pada dasarnya berfungsi
untuk mempertahankan kebudayan dalam suatu masyarakat tertentu.
Sejak kecil anak mulai belajar dari
orangtua tentang norma-norma dan dilatih untuk berbuat sesuai dengan norma
tersebut, maka langsung maupun tidak langsung ia sebenarnya belajar
mengendalikan diri, ia belajar mengikuti aturan-aturan atau norma yang berlaku,
dan belajar mengakui adanya sejumlah hak
dan kewajiban yang ada di
balik aturan dan
norma tersebut.
hlm. 34.
60 Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustadzadzadzaka, 1984),
61 Santrock, J. W., Life-span Development: Perkembangan Masa
Hidup, Edisi 5,
Jilid 2
(Jakarta: Erlangga, 2002),
hlm. 37.
Akhirnya ia belajar pula mengenai adanya sanksi-sanksi bagi yang
melanggar aturan dan norma itu.
Pemberian disiplin dalam arti
mengajarkan aturan-aturan yang bertujuan supaya seseorang dapat menyesuaikan
diri dalam lingkungannya sehingga menghasilkan sikap yang baik. Dengan demikian
cara atau bentuk disiplin yang diberikan banyak tergantung pada sipemberi
disiplin, yaitu orangtua atau tokoh otoritas lainnya. Orangtua mempunyai
pengaruh penting serta wakil lingkungan sosial yang terkecil. Cara pemberian
disiplin berbeda- beda dan sudah barang tentu memberikan hasil yang berbeda,
termasuk prestasi yang diraihnya.
Penanaman nilai-nilai yang diberikan
tentunya tidak bisa dilakukan dalam sekejab, hal ini memerlukan suatu proses
yaitu dengan sosialisasi. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu
proses di mana warga masyarakat dididik untuk mengenal, memahami, mentaati,
menghargai dan menghayati norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat.62 Sosialisasi merupakan suatu proses di mana seseorang
menyerap nilai dan norma yang ditanamkan. Adapun proses sosialisasi, yaitu:
a.
Proses
sosialisasi adalah proses belajar, yaitu proses akomodasi dengan mana individu
menahan, mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau
kebudayaan masyarakatnya.
62 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
1990), hlm. 142.
b.
Dalam
proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide- ide,
pola-pola, nilai-nilai, dan tingkah laku menurut standart di mana ia hidup.
c.
Semua sifat
dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan
dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dan diri pribadinya.”63
Melalui proses sosialisasi seseorang
akan mengenal nilai dan norma, dan kemudian mengidentifikasikan dirinya menjadi
suatu pribadi. Sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang menghayati
atau mendarahdagingkan (internalize) nilai-nilai
dan norma-norma kelompok di mana la hidup
sehingga timbullah diri yang unik.64 Dalam sosialisasi,
kepribadian seseorang akan terbentuk. Kepribadian adalah keseluruhan perilaku
dari seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi
dengan serangkaian situasi. Kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: warisan biologis, lingkungan
fisik, kebudayaan, pengalaman kelompok dan pengalaman unik.
Kepribadian menyatakan cara
berperilaku dan bertindak yang khas dari seseorang setiap harinya, yang
merupakan hasil perpaduan dari kecenderungan perilaku seseorang dan situasi
perilaku yang dihadapi seseorang. Dengan kata lain, kepribadian adalah merupakan keseluruhan
63 Vembriarto, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Grasindo,
1993), hlm. 12.
64 Horton, Paul B. dan Chester
L. Hunt. Sosiologi (Jakarta:
Erlangga, 1991), hlm. 100.
faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang
mendasari perilaku individu.65 Kepribadian seseorang yang terbentuk
tersebut merupakan wujud dari bentukan nilai yang telah tersosialisasi dan
terinternalisasi dalam diri seseorang. Dengan demikian nilai merupakan salah
satu hal utama yang menjadi tujuan sosialisasi.
Tetapi pada prinsipnya cara
pengasuhan anak ini setidak-tidaknya mengandung sifat: (a). Pengajaran (Instructing); (b). Pengganjaran (Rewarding); (c). Pembujukan (Inciting).66
a.
Pengajaran (instructing)
Dalam pengajaran dikenal berbagai
macam metode pengajaran misalnya metode ceramah, diskusi, kerja kelompok,
latihan siap, drill dan lain sebagainya, dan seorang pengajar hendaknya tidak
hanya menggunakan satu metode namun dua, tiga atau bahkan empat metode dalam
suatu proses pengajaran, ini dilakukan agar siswa merasa senang dalam belajar
sehingga perhatiannya tercurah pada pelajaran.
Penerapan suatu metode ke dalam
situasai pengajaran haruslah mempertimbangkan dan memperhatikan berbagai
kemungkinan yang dapat mempertinggi mutu dan efektivitas suatu metode, karena
kalau tidak, bukan saja akan berakibat proses pengajaran menjadi terhambat akan
tetapi lebih jauh lagi yaitu tidak tercapainya tujuan pengajaran yang
65 Ibid., hlm. 90.
66
Sunarti, dkk,
Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Ibukota
Jakarta (Jakarta: Depdikbud, 1989), hlm. 1-3.
telah ditetapkan. Adapun hal-hal yang harus di
perhatikan dalam pemilihan suatu metode adalah: tujuan yang hendak dicapai,
kemampuan guru, nak didik, situasi dan kondisi, fasilitas yang tersedia, waktu
yang tersedia, kekurangan dan kelebihan suatu
metode.67
Menurut Tayar Yusuf dan Syaiful
Anwar, agar proses pengajaran berjalan baik dan mengenai sasaran yang dituju
maka harus memperhatikan prinsip-prinsip metodologi mengajar, yaitu:
1)
Apersepsi
Dalam istilah pendidikan apersepsi
mengandung arti penyadaran atau keinsyafan (consiousness),
maksudnya guru memberikan rangsangan perhatian dan kesadaran kepada anak didik
agar dapat memperhatikan pelajaran yang akan diberikan itu secara
sungguh-sungguh.
2)
Motivasi
Motivasi merupakan gejala jiwa yang
dapat mendorong manusia untuk bertindak sesuatu keinginan dan kebutuhan atau
motif- motif. Disini peran guru ialah bagaimana membangkitkan motivasi anak
didik agar mau belajar sungguh-sungguh.
3)
Perhatian
Perhatian adalah pengertian segala
tenaga dan jiwa dengan penuh konsentrasi yang tertuju pada suatu obyek. Jika
sesesorang
67 Tayor Yusuf & Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 7-10.
besar perhatiannya terhadap suatu obyek, maka ia akan mengenal dan
mengetahui obyek itu secara jelas dan sempurna
4)
Individualitas
Maksudnya adalah bahwa guru dalam
mengajar harus memperhatikan sifat pembawaan dan kemampuan masing-masing
individu anak didik karena masing-masing di antara mereka selain mempunyai
kesamaan juga mempunyai perbedaan
5)
Aktivitas
Maksudnya bahwa aktivitas mengajar
adalah merupakan aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan belajar
sebaik- baiknya, dan menghubungkannya dengan anak didik, sehingga terjadilah
suatu proses belajar yang mengaktifkan anak didik. Jadi tugas guru dalam
mengajar hanyalah mengatur, mengarahkan dan membimbing anak didiknya agar ia
dapat belajar dan mengembangkan
kemampuan atau kegiatannya secara aktif.
6)
Korelasi dan konsentrasi
Maksudnya bahwa pengajaran disajikan
secara berhubungan antara satu bidang studi dengan bidang studi yang lain
secara terkait dan integral, sehingga dengan demikian pengertian dan pemahaman
anak didik terhadap obyek pelajaran menjadi utuh atau bulat dan dalam arti
tidak terpecah-pecah atau terpotong-potong secara amat jauh.
7)
Peragaan atau media
pengajaran atau visualisasi
Maksudnya bahwa dalam pengajaran
diharuskan bagi setiap guru untuk menggunakan alat peraga sebagai alat bantu
agar pengetahuan, pengertian dan tanggapan yang masuk ke dalam jiwa melalui indra
dapat menjadi jelas dan bertahan kuat dalam ingatan.68
Perbedaan satu metode dengan metode
yang lain dapat dilihat dari masing-masing metode tersebut mengadakan seleksi
(pemilihan), gradasi (pentahapan), presentasi (penyajian) dan repetisi
(pengulangan)69 yang semuanya itu termasuk unsur-unsur metode.70
Jadi suatu metode baru dapat dikatakan metode kalau ia mengandung arti tidak
hanya bagaimana (how) mengajar, tapi
juga apa (what) yang diajarkan dan
kapan (when) ia mengajar. Ini berarti
bahwa metode baru tidak cukup hanya berisi petunjuk-petunjuk tentang bagaimana
sesuatu harus diajarkan dengan tehnik baru tapi juga harus disertai materi
serta sarana penunjang lainnya yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
terpisahkan.71
Metode pada dasarnya adalah cara atau
alat untuk memudahkan tercapainya tujuan pembelajasan. Oleh karena itu, dalam
penggunaannya metode disesuaikan dengan unsur-unsur lainnya. Pada suatu metode,
tidak dapat dikategorikan satu metode lebih bagus dari yang lain. Hal ini
68 Ibid., hlm. 95-114.
69 Mulyanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing Sebuah Tinjauan dari
Segi Metodologi
(Jakarta:
Bulan Bintang, 1976), hlm. 41.
70
Umar
Asasudin Sokah, Problematika Pengajaran
Bahasa Arab dan Inggris Suatu Tinjauan dari Segi Metodologis (Jogjakarta:
Nur Cahaya, 1982), hlm. 6.
71 Mulyanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing, hlm 42.
disebabkan karena setiap metode itu memiliki kekurangan
dan kelebihan masing-masing, lagi pula metode yang kurang baik di tangan guru
yang baik bisa menjadi metode yang baik dan metode yang baik dapat gagal di
tangan guru yang tidak menguasai teknik pelaksanaan.
b. Pengganjaran (rewarding)
Menurut Hurlock pengganjaran dalam
pola pengasuhan dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu hukuman dan penghargaan.
Hukuman yaitu menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan,
perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Sementara,
penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk setiap hasil yang baik. Penghargaan tidak harus
dalam bentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau
tepukan dipunggung.72 Di dalam cara pengasuhan anak dengan
pengganjaran (rewarding) sering
terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh anak.
Pemahaman Galtung tentang kekerasan
lebih ditentukan pada segi akibat atau pengaruhnya pada manusia. Galtung tidak
membedakan violent acts (tindakan-tindakan yang keras, keras sebagai sifat)
dengan acts of violence (tindakan-tindakan
kekerasan).73 Galtung juga menguraikan enam dimensi penting dari
kekerasan, yaitu sebagai berikut:
72 Elizabeth Hurlock, Perkembangan Anak (Jakarta: Erlangga,
1999), hlm. 86-90.
73
Marsana
Windhu, Kekuasaan dan Kekerasan Menurut
Johan Galtung Yogyakarta: Kanisius. 1992.
hlm. 65.
1)
Kekerasan
fisik dan psikologis. Dalam kekerasan fisik, tubuh manusia disakiti secara
jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. Sedangkan kekerasan psikologis adalah
tekanan yang dimaksudkan meredusir kemampuan mental atau otak.
2)
Pengaruh
positif dan negatif. Sistem orientasi imbalan (reward oriented) yang sebenarnya terdapat “pengendalian”, tidak
bebas, kurang terbuka, dan cenderung manipulatif, meskipun memberikan
kenikmatan dan euphoria.
3)
Ada obyek
atau tidak. Dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman kekerasan fisik dan
psikologis, meskipun tidak memakan korban tetapi membatasi tindakan manusia.
4)
Ada subyek
atau tidak. Kekerasan disebut langsung atau personal jika ada pelakunya, dan
bila tidak ada pelakunya disebut struktural atau tidak langsung. Kekerasan
tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu (strukturnya jelek) dan
menampakkan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang
hidup tidak sama.
5)
Disengaja
atau tidak. Bertitik berat pada akibat dan bukan tujuan pemahaman, yang hanya
menekankan unsur sengaja tentu tidak cukup untuk melihat, mengatasi kekerasan
struktural yang bekerja secara halus dan tidak disengaja. Dari sudut korban,
sengaja atau tidak, kekerasan tetap kekerasan.
6)
Yang tampak
dan tersembunyi. Kekerasan yang tampak, nyata (manifest), baik yang personal maupun struktural, dapat dilihat
meski secara tidak langsung. Sedangkan kekerasan tersembunyi adalah sesuatu
yang memang tidak kelihatan (latent), tetapi
bisa dengan mudah meledak. Kekerasan tersembunyi akan terjadi jika situasi
menjadi begitu tidak stabil sehingga tingkat realisasi aktual dapat menurun
dengan mudah. Kekerasan tersembunyi yang struktural terjadi jika suatu struktur
egaliter dapat dengan mudah diubah menjadi feodal, atau evolusi hasil dukungan
militer yang hirarkis dapat berubah lagi menjadi struktur hirarkis setelah
tantangan utama terlewati.
Galtung membedakan kekerasan menjadi
dua jenis, yakni kekerasan personal dan kekerasan struktural. Sifat kekerasan
personal adalah dinamis, mudah diamati, memperlihatkan fluktuasi yang hebat
yang dapat menimbulkan perubahan. Sifat kekeraan struktural adalah statis,
memerlihatkan stabilitas tertentu dari tidak tampak.74
74 Ibid., hlm. 73.
hal yang berbahaya dan salah, sementara kekerasan struktural semakin
nyata menampilkan diri.
c.
Pembujukan (Inciting)
Pembujukan dilakukan agar anak mau
mengikuti ajakan atau perintah pengasuh dengan kata-kata yang lebih halus,
menarik hati dan terkesan tidak menyuruh. Sehingga anak menurut dengan
pengasuh. Masing-masing lembaga pelayanan anak seperti panti asuhan dan pondok
pesantren memiliki pola pengasuhan yang berbeda-beda. Secara umum, panti asuhan
memiliki dua sistem pengasuhan dalam mendidik anak-anak asuhnya, yaitu sistem
pengasuhan tradisional dan sistem pengasuhan ibu asuh. Kedua sistem pengasuhan
tersebut memiliki perbedaan pada rasio anak dengan pengasuh, stabilitas dan
kontinyuitas interaksi pengasuh dengan anak serta demokratisasi pola asuh
pengasuh. Di dalam UU Perlindungan Anak juga diatur tentang pola pengasuhan
lembaga pelayanan anak ini, yaitu tidak boleh mengasuh anak yang berbeda agama
karena ada konsekuensi hukumnya.
3.
Kemandirian Santri
Salah satu tujuan penting pendidikan
adalah untuk kemandirian anak didik.75 Jiwa mandiri merupakan salah
satu aspek penting yang diperlukan dalam mengantarkan anak kepada perkembangan berikutnya. Menurut
hlm. 43.
75 Isjoni Ishak, Pendidikan Sebagai
Investasi Masa Depan (Jakarta: Yayasan Obor, 2006),
Walgito,76 menyatakan bahwa perkembangan
sifat mandiri adalah satu hal penting dalam perkembangan anak remaja yang
dipengaruhi oleh pembentukan kepercayaan diri. Kepercayaan diri ini selanjutnya
merupakan dasar bagi perkembangan sikap yang lain seperti halnya sikap kreatif
dan tanggung jawab.
Berdasarkan pendapat dari beberapa
tokoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang yang berkepribadian diri
kuat mempunyai beberapa ciri, yaitu: (1) mempunyai keinginan untuk berprestasi,
(2) mempunyai keinginan untuk bebas dan mandiri, (3) mempunyai keinginan untuk
berafiliasi, (4) mampu berempati dengan baik, dan (5) mempunyai rasa tanggung
jawab. Sedangkan seseorang yang berkepribadian diri lemah mempunyai ciri-ciri
yang berlawanan atau kualitas yang lebih rendah dari ciri- ciri yang tersebut
di atas.
Sementara itu, menurut Desmita, kemandirian atau mandiri adalah kecakapan yang berkembang sepanjang rentang kehidupan individu.77 Kemandirian yang diartikan sebagai suatu kondisi di mana seorang tidak tergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan adanya sikap kepercayan diri.78 Sujanto mengatakan bahwa kemandirian merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perbedaan yang benar dan
76 Bimo Walgito, Pengantar
Psikologi Umum. Edisi ketiga (Yogyakarta: Andi, 2002), hlm.
12.
77 Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya,
2010),
hlm. 190.
78 Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta:
Rajawali Press, 1996), hlm. 105.
yang salah, yang boleh dan yang dilarang, yang
dianjurkan dan yang dicegah, yang baik dan yang buruk, dan individu harus
menjauhi segala hal yang negatif dan mencoba membina diri untuk selalu
mengembangkan hal-hal yang positif.79
Kemandirian merupakan kemampuan untuk melakukan dan mempertanggung jawabkan tindakan yang
dilakukannya serta untuk menjalin hubungan
yang suportif dengan orang lain (Steinberg, 2002). Menurut Shaffer
(2002), kemandirian sebagai kemampuan untuk membuat keputusan dan
menjadikan dirinya sumber
kekuatan emosi diri sehingga tidak
bergantung kepada orang lain. Beberapa ahli menyatakan bahwa untuk mencapai
kemandirian berarti membebaskan diri dari ikatan orangtua agar dapat
mengembangkan identitas dirinya. Kemandirian beararti kemampuan untuk bertindak
berdasarkan pertimbangan sendiri dan untuk bertanggung jawab atas tindakan tersebut, kemampuan
untuk membuat keputusan dan mengatur hidupnya sendiri tanpa ketergantungan berlebihan dengan orangtua,
serta kemampuan untuk tetap menjaga hubungan yang suportif dengan orang
lain.80
Menurut Steinberg, mengemukakan bahwa aspek-aspek kemandirian
meliputi: 81
79 Sujanto, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Aksara Baru, 1982), hlm. 290.
80 Steinberg, L. Adolescenee, Sixth edition (New York:
McGraw-Hill, 2002), hlm. 201.
81 Ibid, hlm 202.
a.
Kemandirian Emosi (Emotional
Autonomy)
Aspek emosional mengarah pada
kemampuan remaja untuk mulai melepaskan diri secara emosi dengan orangtua dan
mengalihkannya pada hubungan dengan teman sebaya. Tetapi bukan memutuskan
hubungan dengan orangtua. Remaja yang mandiri secara emosional tidak
membebankan pikiran orangtua meski dalam masalah. Remaja yang mandiri secara
emosional tidak melihat orangtua mereka sebagai orang yang tahu atau menguasai
segalanya. Remaja yang mandiri secara emosi dapat melihat serta berinteraksi
dengan orangtua mereka sebagai orang- orang yang dapat mereka ajak untuk
bertukar pikiran.
b.
Kemandirian Perilaku (Behavioral
Autonomy)
Aspek kemandirian perilaku merupakan kemampuan remaja untuk
mandiri dalam membuat keputusannya sendiri dengan mempertimbangkan berbagai
sudut pandang. Mereka mengatahui kepada siapa harus meminta nasehat dalam
situasi yang berbeda-beda. Remaja mandiri tidak mudah dipengaruhi dan mampu
mempertimbangkan terlebih dahulu nasehat yang diterima. Remaja yang mandiri
secara perilaku akan terlihat lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang
lebih baik. Mereka yang mandiri secara perilaku tidak akan menunjukkan perilaku
yang buruk atau semena-mena yang dapat menjatuhkan harga diri mereka.
c.
Kemandirian Nilai (Value Autonomy)
Remaja yang mandiri dalam nilai akan
mampu berpikir lebih abstrak mengenai masalah yang terkait dengan isu moral,
politik, dan agama untuk menyatakan benar atau salah berdasarkan keyakinan-
keyakinan yang dimilikinya. Remaja dapat memberi penilaian benar atau salah
berdasarkan keyakinannya dan tidak dipengaruhi aturan yang ada pada masyarakat.
Remaja yang mandiri dalam nilai akan lebih berprinsip. Prinsip yang terkait
dengan hak seseorang dalam kebebasan untuk berpendapat atau persamaan sosial.
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
kemandirian dengan demikian meliputi unsur-unsur sebagai berikut: pertama, emosi, yaitu kemampuan
mengontrol emosi dan tidak tergantungnya emosi dari orangtua; kedua, yaitu ekonomi, yaitu kemampuan
mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua; ketiga, intelektual, yaitu kemampuan
untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi; dan keempat, sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan
orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
Menurut Nasrun menyebutkan bahwa
sikap mandiri dari seseorang ditandai dengan adanya perilaku:82
82 Nasrun H., Teknik Penelitian
Hasil Belajar (Jakarta: Bina Bangsa, 1992), hlm. 25.
a.
Mengerjakan
sendiri tugas-tugas rutinnya, yang ditunjukkan dengan kegiatan yang dilakukan
dengan kehendaknya sendiri dan bukan karena orang lain dan tidak tergantung
pada orang lain.
b.
Aktif dan
bersemangat, yaitu ditunjukkan dengan adanya usaha untuk mengejar prestasi
maupun kegiatan yang dilakukan tekun merencanakan serta mewujudkan harapan-harapannya
c.
Inisiatif, yaitu memiliki
kemampuan berfikir dan bertindak secara kreatif
d.
Bertanggung
jawab, yang ditunjukkan dengan adanya disiplin dalam belajar, melaksanakan
tugas dengan baik dan penuh pertimbangan
e.
Kontrol
diri yang kuat, yaitu ditunjukkan dengan adanya mengendalikan tindakan,
mengatasi masalah, dan mampu mempengaruhi lingkungan atas usaha sendiri.
Schult
menyebutkan ciri-ciri kemandirian adalah sebagai berikut:
a.
Mereka bebas memilih langkah
tindakan mereka sendiri
b.
Mereka
secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikap
yang mereka anut terhadap nasib mereka.
c.
Mereka tidak di tentukan
oleh kekuatan-kekuatan di luar diri mereka.
d.
Mereka telah menemukan arti
kehidupan yang cocok dengan diri mereka.
e.
Mereka secara sadar
mengontrol kehidupan mereka.
f.
Mereka mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, nilai-nilai
pengalaman atau nilai sikap.
g.
Mereka telah mengatasi
perhatian terhadap diri.83
Sebagaimana aspek-aspek psikologis
lainnya, kemandirian juga bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat
pada diri individu sejak lahir. Perkembanganya juga dipengaruhi oleh berbagai
stimulasi yang datang dari lingkunganya, selain potensi yang telah dimiliki
sejak lahir sebagai keturunan dari orangtuanya.
Ada sejumlah faktor yang sering
disebut sebagai korelat bagi perkembangan kemandirian, yaitu sebagai berikut:84
a.
Gen atau keturunan orangtua
Orangtua yang memiliki sifat
kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki sifat kemandirian
juga. Namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang
berpendapat bahwa sesungguhnya bukan karena sifat kemandirian orangtuanya itu
menurun kepada anaknya, melainkan sifat orangtuanya muncul berdasarkan cara
orangtua mendidik anaknya. Hal ini juga dikuatkan oleh pendapat M. Ali dan
Asrori, yang menegaskan bahwa
kemandirian sebagai aspek psikologis berkembang tidak dalam kevakuman
atau diturunkan oleh orangtuanya, maka intervensi positif
melalui ikhtiar
83 Schult, Psikologi
Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat (Yogyakarta: Kannisus, 1991),
hlm. 159.
84 Mohammad Ali & Mohammad
Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan
Peserta Didik
(Jakarta:
Bumi Aksara, 2006), hlm. 118.
pengembangan atau pendidikan sangat diperlukan bagi kelancaran
perkembangan kemandirian peserta didik.85
b.
Pola asuh orangtua
Cara orangtua mengasuh atau mendidik
anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anaknya. Orangtua yang terlalu
banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan” kepada anak tanpa disertai
dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak.
c.
Sistem pendidikan di sekolah
Proses pendidikan di sekolah yang
tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan
indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat kemandirian anak. Demikian juga,
proses pendidikan yang menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman juga
dapat menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya proses pendidikan
yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif
akan memperlancar kemandirian anak.
d.
Sistem kehidupan di masyarakat
Sistem kehidupan masyarakat yang
terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial kurang menghargai
manifestasi potensi anak dalam
85 Ali, M & Asrori, M., Psikologi Remaja
(Perkembangan Peserta Didik) (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 33.
kegiatan produktif dapat menghambat perkembangan
kemandirian anak. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai
ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlalu
hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian anak.
Sementara itu, menurut Hurlock faktor-faktor yang
mempengaruhi kemandirian adalah:
a.
Pola asuh
orangtua, orangtua dengan pola asuh yang demokratis sangat merangsang
kemandirian anak. Di mana peran orangtua sebagai pembimbing yang memperhatikan
terhadap kebutuhan anak terutama dalam hal studi dan pergaulannya di lingkungan
atau di sekolah.
b.
Jenis
kelamin, anak yang berkembang dengan pola tingkah laku maskulin, lebih mandiri
dari pada anak yang mengembangkan tingkah laku yang feminin.
c.
Urutan
posisi anak, anak pertama yang diharapkan untuk menjadi contoh teladan bagi
adiknya, lebih berpeluang untuk mandiri. Sementara anak bungsu yang mendapat
perhatian berlebihan dari orangtua dan kakak- kakaknya, berpeluang kecil untuk
bisa mandiri.86
Sementara itu, Desmita menekankan bahwa kemandirian
sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman dan pendidikan. Oleh karena itu,
86 Hurluck, E. B, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan
(Jakarta:
Erlangga, 2008), hlm. 11.
pendidikan di sekolah perlu melakukan upaya pengembangan kemandirian
peserta didik, di antaranya:
a.
Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, yang
memungkinkan anak merasa dihargai,
b.
Mendorong
anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dalam berbagai
kegiatan sekolah,
c.
Memberi
kebebasan kepada anak untuk mengekplorasi lingkungan, mendorong rasa ingin tahu mereka,
d.
Penerimaan
positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan lainnya,
e.
Menjalin hubungan yang
harmonis dan akrab dengan anak.
Upaya untuk mewujudkan santri mandiri
sangat bergantung pada bagaimana pesantren dan orang-orang yang bertanggung di
dalam pesantren mengelola lembaga ini. Pengasuh pesantren (kyai), Ustadz,
kepala sekolah dan para pengampu asrama berperan penting dalam mewujudkan
santri mandiri. Di antara stakeholder yang
memiliki peran sentral dalam membentuk santri yang mandiri di dalam pesantren
adalah pola pengasuhan yang diterapkan di dalam pesantren. Dalam hal ini,
pengasuh (kyai) pesantren merupakan satu-satunya tokoh sentral.
Berdasarkan kajian teori di atas,
kemandirian seseorang tidak hanya dibentuk oleh dorongan pribadi. Kemandirian
dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam diri seseorang maupun dari luar dirinya.
Salah satu faktor di luar
diri yang membentuk individu menjadi mandiri adalah
pendidikan. Salah satu institusi pendidikan yang dapat berperan besar dalam
membentuk individu mandiri adalah pondok pesantren. Dikaitkan dengan pondok
pesantren, lingkungan sosial pondok pesantren, peranan dan konsep kyai mengenai
hidup, dan sarana yang dimiliki oleh pondok pesantren dapat mendorong santri
untuk berperilaku mandiri. Sebagai sebuah contoh, dalam pemenuhan kebutuhan
pangan, santri melakukan proses masak sendiri, mencari bahan sendiri, mengolah
penganan makanan sendiri; dalam pemenuhan kerapian berpenampilan, mereka
mencuci dan mensetrika sendiri; merapikan tempat tidur sendiri; pembelajaran
mandiri (seperti dalam penerapan metode sorogan); dan perilaku lainnya.
Hal ini semakin menunjukkan sebuah
asumsi bahwa pondok pesantren khususnya pondok pesantren tradisional masih
tetap mempertahankan penerapan pendidikan yang berbasis pada kemandirian diri.
Pada pemaparan di atas terdapat sebuah penjelasan bahwa pondok pesantren lebih
memberikan kesempatan kepada santri untuk hidup mandiri. Pondok pesantren
memiliki karakter yang dapat mendorong santri untuk hidup mandiri dengan
indikator minimal dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan di pondok.
Kehidupan mandiri ini diciptakan
melalui berbagai kebiasaan dan aturan yang ketat di dalam pesantren. Peraturan
yang ketat sepanjang 24 jam harus dilalui oleh santri di dalam pondok
pesantren. Kehidupan disiplin dalam mengikuti peraturan selama hidup di dalam
pesantren memudahkan
pembentukan kemandirian santri. Hal ini terkait dengan pola asuh
oleh pimpinan pesantren selama di dalam pesantren.
F.
Metode
Penelitian
1.
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggabungkan
paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dengan demikian,
penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kombinasi (mixedmethods). Metode penelitian kombinasi adalah metode penelitian
yang menggabungkan antara metode kuantitatif dan kualitatif.87
Penelitian kombinasi tidak dilakukan secara bersama-sama antara kuantitatif dan
kualitatif namun, penggunaannya berbeda dengan maksud untuk saling melengkapi
satu dengan yang lainnya. Menurut Sugiyono kedua metode tersebut dapat
digabungkan tetapi digunakan secara bergantian.88
Menurut Moleong dalam Sugiyono,
penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi
dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.89
87 Sugiyono,
Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B (Bandung: Alfabeta,
2012), hlm. 397.
88 Ibid., hlm. 400.
89 Ibid., hlm 11.
Pada pendekatan kualitatif,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai pertanyaan peneltian bukan hanya
mencakup: apa, siapa, di mana, kapan, bagaimana, tetapi yang terpenting harus
mencakup pertanyaan mengapa. Pertanyaan mengapa, menuntut jawaban mengenai
hakekat yang ada dalam hubungan di antara gejala-gejala atau konsep, sedangkan
pertanyaan apa, siapa, di mana dan kapan, menuntut jawaban mengenai identitas,
dan pertanyaan bagaimana, menuntut jawaban mengenai proses-prosesnya.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan
gambaran yang utuh tentang fenomena penelitian, maka penulis menggunakan jenis
penelitian studi kasus. Menurut Creswell,90 studi kasus adalah:
“…a problem to be studied, which will reveal
an in-depth understanding of a “case” or bounded system, which involves
understanding an event, activity, process, or one or more individuals”.
“Sebuah permasalahan untuk dipelajari yang akan
menyatakan kedalaman dari sebuah kasus atau sistem yang terbatas yang meliputi
pemahaman sebuah peristiwa, aktifitas, atau proses seorang atau lebih”.
Selanjutnya, Creswell menjelaskan
bahwa suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian studi kasus apabila
proses penelitiannya dilakukan secara mendalam dan menyeluruh terhadap kasus
yang diteliti, serta mengikuti struktur studi kasus seperti yang dikemukakan
oleh Lincoln dan Guba, yaitu: permasalahan, konteks, isu, dan pelajaran yang dapat
diambil.
Berdasarkan
uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa penelitian studi
90 John W. Creswell, Desain Penelitian (Jakarta: KIK Press, 2002), hlm. 61.
kasus deskriptif ini berusaha mengamati dan meneliti
suatu keadaan dalam suatu organisasi sesuai apa adanya (natural), lalu hasil
dari peneltian tersebut berusaha menggambarkan objek penelitian berdasarkan
fakta dan data serta kejadian berusaha menghubungkan kejadian-kejadian atau
objek penelitian sekaligus menganalisanya berdasarkan konsep-konsep yang telah
dikembangkan sebelumnya sehingga memudahkan peneliti dalam memecahkan masalah.
2.
Informan Penelitian
Penentuan informan dalam penelitian
ini yaitu menggunakan teknik purposive
sampling, yaitu cara penentuan informan yang ditetapkan secara sengaja atas
dasar kriteria atau pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini, pemilihan
informan didasarkan kriteria dengan urutan sebagai berikut:
a.
Pengasuh
Pondok Pesantren Darussalam
b.
Dewan
Guru
c.
Pengurus Pondok
d.
Santri
3.
Metode
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini terdiri atas : 1) Teknik Observasi, 2) Teknik
Wawancara, 3) Teknik Dokumentasi, dan 4) Angket.
a.
Teknik
Observasi
Menurut Alwasilah, observasi adalah
penelitian atau pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk
perolehan data yang dikontrol validitas dan reliabilitasnya.91
Sementara Faisal (1990) seperti dikutip Sugiyono,92
mengklarifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang
secara terang-terangan dan tersamar (overt
observation and covert observation), dan observasi yang tak berstuktur (unstructured observation). Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan observasi terus terang dan tersamar (overt observation and covert observation).
Hal-hal yang menjadi objek observasi antara lain kegiatan pimpinan pesantren
dan santri dalam konteks penciptaan kemandirian santri; lingkungan pondok
pesantren; dan lain-lain.
b.
Teknik
Wawancara
Menurut Moleong,93
wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara digunakan sebagai
teknik pengumpulan data
hlm. 56.
91 Satori Djam'an., Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:
Alfabeta, 2012), hlm. 104.
92 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&B, hlm. 310.
93 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2014),
apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk
menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.94 Untuk
mendapatkan data yang lebih baik dan terukur maka, wawancara yang digunakan
peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah wawancara mendalam (indepth interview) dan wawancara
terstruktur. Menurut Nasehudin dan Gozali,95 menyebutkan bahwa
wawancara mendalam adalah teknik wawancara yang didasari oleh rasa skeptis yang
tinggi, sehingga wawancara mendalam banyak diwarnai oleh Probing (penyelidikan).
Adapun informan yang diwawancarai dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1)
Pengasuh Pesantren
2)
Wakil Pengasuh
3)
Kepala Sekolah/Madrasah di
lingkungan Pesantren
4)
Second
Opinion dari pengamat pesantren
c.
Teknik
Dokumentasi
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang.96 Pengumpulan data dan dokumen dalam
94 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&B, hlm. 316.
95
Nasehudin,
Toto Syatori dan Gozali, Nanang, Metode
Penelitian Kuantitatif (Bandung: CV. Pustaka), hlm. 217.
96 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&B, hlm. 326.
penelitian ini yaitu berupa data profil dan struktur
organisasi pesantren yang menjadi lokasi penelitian; data jumlah santri;
peraturan pesantren; aktivitas santri; dan lain-lain.
d.
Angket.
Angket adalah seperangkat pertanyaan
tertulis yang diberikan kepada subjek penelitian untuk dijawab sesuai dengan
keadaan subjek yang sebenarnya. Yang dapat dijaring dengan menggunakan
kuesioner adalah hala-hala mengenai diri responden, dengan asumsi bahwa
respondenlah yang paling mengetahui tentang dirinya dan pengalamannya sendiri,
bahwa apa yang dinyatakan oleh responden kepada peneliti adalah benar, bahwa
penafsiran subjek terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah
sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti. Justru anggapan-anggapan inilah
yang menjadi kelemahan dari metode angket. Karena dalam kenyataan responden
dapat memberikan keterangan-keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang
sebenarnya.
Cara penggunaan kuesioner yang
lebih efektif adalah apabila pengisian jawabannya dapat dilakukan secara
berkelompok pada suatu tempat tertentu. Dalam keadaan seperti ini peneliti
dapat memberi petunjuk secara langsung bagaimana cara memberi jawaban tanpa
mempengaruhi isi jawaban yang harus diberikan. Disamping itu peniliti juga
mempunyai peluang untuk memberi keterangan atas pertanyaan yang belum jelas
maksudnya. Dengan demikian pengisian juesioner secara klasikal memungkinkan
peneliti memperoleh kembali kuesioner secara lengkapdalam waktu yang singkat,
Sedangkan kesalahan-kesalahan teknis dalam menjawab dapat ditekan hingga
sekecil mungkin.
Cara ketiga penggunaan
kuesioner sebagai teknik pengumpulan dat adalah dengan memberlakukan sebagai
pedoman waancara baik dalam tatap muka maupun melaui telepon. Kuesioner tidak
diserahkan pada responden, melainkan tetap dipegang peneliti, yang
membacakan pertanyaan kepada responden, jawaban respinden dicatat oleh
peneliti. Dengan cara ini dapat dijamin bahwa sumua jawaban dapat dikoleksi pad
waktu tanya jawab langsung. Seorang peneliti berpengalaman dapat mengubah
kata-kata dalam pertanyaan tanpa mengubah maksudnya agar setiap pertanyaan
mudah difahami dan dapat dijwab oleh responden. Dalam wawancara tatap muka,
pemeliti berkesempatan untuk mencatat kejadian-kejadian khusus pad
waktu dilakukannya wawancara. Hal ini bermanfaat pada waktu
dilaksanakannya analisis dan interpretasi data yang lebih terkumpul.
4.
Analisis Data
Analisis data adalah proses
pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian
dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
seperti yang disarankan oleh data.97 Dari uraian tersebut, maka
analisis data yaitu usaha untuk mengorganisasikan data. Data terkumpul yang
terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto dokumen
berupa laporan, biografi, artikel dan sebagainya. Selain dilihat dari segi
tujuan penelitian bahwa analisis data dilakukan dalam suatu proses yang berarti
bahwa pelaksanaannya sudah dimulai sejak pengumpulan data dilakukan
dan dikerjakan secara intensif. Analisis
data dan penafsirannya
97 Lexy J. Moleong, Metodologi
Penelitian Kualitatif, hlm. 56.
segera mungkin dilaksanakan jangan sampai data yang ada menjadi
tidak terpakai atau lupa memberikan makna dari data tersebut.
Menurut Miles dan Huberman langkah
analisis data dalam penelitian kualitatif deskriptif terdiri dari reduksi data,
penyajian data dan pengambilan kesimpulan.98 Adapun tahap-tahap
teknik analisis data yang digunakan meliputi:
a.
Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses
menyeleksi, memfokuskan, menyederhanakan dan mengubah data kasar yang diperoleh
dari lapangan. Data kasar yang dimaksud di sini adalah keterangan-keterangan
atau informasi yang diuraikan informan tetapi tidak relevan dengan fokus
masalah penelitian sehingga perlu direduksi.
b.
Penyajian Data
Penyajian data merupakan sekumpulan
informasi yang telah tersusun dari hasil reduksi data. Hasil reduksi data
kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah dibaca atau
dipahami. Untuk lebih menjelaskan uraian maka dapat dibuat gambaran berupa
diagram interaktif tentang fenomena yang terjadi.
98 Miles, B. Matthew dan Huberman., A.Michael, Analisis Data Kualitatif (Jakarta: UI-
PRESS, 2005), hlm. 113.
c.
Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan
melihat hasil reduksi data dan tetap mengacu pada rumusan masalah serta tujuan
yang hendak dicapai.
G.
Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam disertasi ini dibagi ke
dalam beberapa bagian bab dan sub-bab sebagai berikut:
BAB I: Pendahuluan yang berisi bagian
gambaran latar belakang penelitian yang menggambarkan tentang kondisi das sein dan das solen dalam kehidupan pesantren dan realitas pengasuhan yang
ada di dalam pesantren. Selanjutnya adalah rumusan masalah yang terdiri atas
rumusan masalah pokok dan turunan, dilanjutkan dengan pemaparan tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, dan tinjauan pusataka yang menguraikan kajian
yang terkait dengan topik penelitian. Kerangka teori sebagai acuan dalam
penelitian juga diuraikan secara memadai. Terakhir adalah metode penelitian dan
selanjutnya sistematika pembahasan.
BAB II: Profil lokasi penelitian.
Pada bab ini dibahas tentang gambaran umum Kabupaten Subang yang meliputi Setting
Sosial Kabupaten Subang dan Setting Budaya Kabupaten Subang. Selanjutnya diuraikan mengenai profil
pondok pesantren Darussalam
Kasomalang Subang Jawabarat.
BAB III: Pesantren dan
Penyelenggaraan Pendidikan. Bab ini membahas tentang sepak terjang pesantren.
Institusi pendidikan alternatif. Model pembelajaran di pesantren dan pendidikan
formal. Selanjutnya dibahas tentang pesantren sebagai pusat pendidikan Islam,
Pesantren sebagai ruang sosial. Selanjutnya, dibahas tentang pendidikan sebagai modal sosial
santri.
BAB IV: Hasil penelitian dan
pembahasan. Pada bagian ini diuraikan hasil penelitian yang meliputi pola asuh
pimpinan pesantren Pesantren Darussalam
Kasolanag Subang Jawa Barat. Dilanjutkan dengan
membahas faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pola asuh pimpinan pesantren
pada Pesantren Darusslama Kasomalang
Subang jawa Barat. Pembahasan dilakukan terhadap
karakteristik sosial Pondok Pesantren Darussalama, pola asuh di Pondok Pesantren Darussalam, dan terakhir
alternatif dan treatmen dalam pola pengasuhan.
BAB V : Penutup yang berisi
kesimpulan dan saran dari penulis yang didasarkan pada hasil penelitian dan
pembahasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar