Minggu, 06 Oktober 2019


KONSEP INTEGRASI ILMU DAN AGAMA

IWAN HERMAWAN (3190210015)
SHALAHUDIN ISMAIL (3190210024)
YAYAT HIDAYATULLOH (3190210030

A. Pendahuluan
Antara ilmu dan agama sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat mendasar yang perlu dipertimbangkan sebelum berbicara tentang korelasi antara ilmu dan agama. Yang pertama adalah mind-set dasar keduanya yang berbeda. Kepercayaan dan kepasrahan pada kehendak otoritas lain, terutama otoritas Tuhan. Jadi dalam dunia keilmuan ketidakpercayaan (sebelum terbukti) adalah keutamaan. Sedangkan dalam keagamaan, kepercayaanlah yang utama. Kedua, ilmu bersikap terbuka terhadap hal-hal baru asalkan bersifat masuk akal dan memiliki bukti. Agama sedikit berbalik dari keilmuan, meski umumnya manusia diharuskan menggunakan akal dalam memahami wahyu yang ada, tapi dalam kenyataannya agama cenderung bersikap defensif terhadap pemahaman baru. Ketiga, bahasa-bahasa agama lebih cenderung berupa bahasa mitos, penuh metafora ataupun retorika, sementara bahasa keilmuan adalah bahasa faktual, lugas, dan literal. Setelah mengetahui perbedaan mendasar antara ilmu dan agama, kini dapat diketahui “kemungkinan” titik temu diantara keduanya. Pertama, kesadaran kritis dan sikap realistis yang dibentuk oleh ilmu sangatlah berguna untuk mengupas sisi ilusoris agama, bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk menemukan hal yang lebih esensial dari agama. Kedua, kemampuan logis dan kehati-hatian kita dalam mengambil keputusan yang dipupuk di dunia ilmiah, menjadikan kita mampu menilai secara kritis bentuk tafsir baru yang kini mulai hiruk pikuk dan membingungkan. Ketiga, lewat temuan-temuan baru dari ilmu, dapat merangsang agama untuk selalu tanggap memikirkan ulang keyakinannya sacara baru, agar terhindar dari stagnasi dan pengaratan. Keempat, temuan terbaru IPTEK dapat memberi peluang agama untuk makin mewujudkan idelisme-idealismenya secara konkret, yang menyangkut kemanusiaan secara umum.
Di saat ilmu diharapkan mampu menjawab semua tantangan perkembangan zaman, yang terjadi malah dikotomisasi ilmu. Adalah suatu ketimpangan ketika ilmu agama disendirikan dan dipisahkan dari ilmu umum yang pada kenyataannya mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan karena eksistensinya yang saling komplementif. Pada dasarnya Islam tidak mengenal adanya dikotomi ilmu. Hal ini didasarkan atas universalitas Islam sendiri yang ajarannya mencakup semua aspek kehidupan dan ini sejalan dengan fungsi alQur’an sebagai rahmat bagi semesta alam. Terjadinya pemikiran yang dikotomistik antara ilmu dan agama, dapat menimbulkan banyak masalah, yaitu kemanusiaan, lingkungan hingga struktur keilmuan.
Ilmu dan agama menurut banyak kalangan sulit untuk disatukan, bahkan ada yang berpendapat bahwa keduanya saling bertentangan. Walaupun keduanya berbicara tentang realitas, masing-masing mempunyai dasar sudut pandang yang berbeda. Ian R. Barbour mengusulkan empat tipologi untuk memetakan pendekatan yang dipakai dalam hubungan antara ilmu (sainss) dan agama, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi.
Sementara itu, proses integrasi ilmu dalam penyelenggaraan pendidikan secara filosofis dapat dilakukan dengan bermacam model. Menurut Abuddin Nata, upaya integrasi ilmu dalam penyelenggraaan pendidikan dapat dilakukan dengan tiga model islamisasi pengetahuan, yaitu model purifikasi, modernisasi Islam, dan Neo-modernisme.
Metode yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan ilmu dan agama adalah: 1) menjadikan Al-Quran dan hadits sebagai sumber ilmu pengetahuan, 2) memperluas materi kajian agama Islam dan menghindari dikotomi ilmu, 3)  menumbuhkan pribadi yang berkarakter ulul albab, 4) menelusuri ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang Sainss, 5) mengembangkan kurikulum pendidikan.

B. Pendekatan Integrasi Ilmu dan Agama
Untuk mengintegrasikan antara ilmu dan agama, terdapat 4 (empat) pendekatan yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Konflik
Menurut tipologi ini antara ilmu dengan agama bertentangan, misalnya teori evolusi. Menurut agama islam menusia berasal dari keturunan Nabi Adam A.S, pandanagn tersebut sangat berbanding terbalik dengan Teori Darwin. Para pengikut Teori Darwin bersikukuh dan tetap pada pendiriannya tanpa mau menghiraukan yang lainnya bahwa manusia berasal dari keturunan Nabi Adam A.S. Pengikut kedua teori tersebut dapat menunjukan bahwa ilmu dan agama sangat bertentangan.
2. Independensi
Pandangan alternatif ini menyatakan bahwa ilmu dan agama adalah dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang mereka mempertahankan “jarak aman” satu sama lain. Menurut pandangan ini, semestinya idak perlu ada konflik karena ilmu dan agama berada pada domain yang berbeda. Selain itu, pernyataan ilmu (sainss) dan pernyataan agama memiliki bahasa yang tidak bisa dipertentangan, karena pernyataan masing-masing melayani fungsi yang berbeda dalam hidup manusia dan berusaha menjawab persoalaan yang berbeda pula. Ilmu (sainss) biasanya menelusuri cara kerja benda-benda dan berurusan dengan fakta objektif, sedangkan agama berurusan dengan nilai dan makna yang tinggi, misalnya ketuhanan dan keimanan.
3. Dialog
Salah satu bentuk dialog adalah membandingkan kedua bidang ini yang dapat menunjukkan kemiripan dan perbedaan. Misalnya model konseptual dan analogi dapat digunakan untuk menggambarkan hak-hal yang tidak dapat diamati secara langsung misalnya Tuhan atau sub-atom. Dialog juga terjadi ketika sainss menyentuh persoalan yang berada diluar wilayah kajiannya (seperti mengapa alam semesta ini serba teratur dan dapat dipahami?).
4. Integrasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia integrasi adalah pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Kemitraan yang lebih sistematis dan eksensif antara sainss dengan agama dapat terjadi dikalangan yang mencari titik temu diantara keduanya.

C. Model-model Integrasi Ilmu dan Agama
Menurut Abudin Natta dalam bukunya yang berjudul Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, menyebutkan ada 4 (empat) model yang bisa dilakukan untuk mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum, yaitu:

1. Purifikasi
Purifikasi bermakna pembersihan atau penyucian. Dengan kata lain, proses Islamisasi berusaha menyelenggarakan pendidikan agar sesuai dengan nilai dan norma Islam secara kaffah, lawan dari berislam yang parsial. Kemudian pula komitmen dalam menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan.

2. Modernisasi Islam
Modernisasi berarti proses perubahan menurut fitrah atau sunnatullah. Model ini berangkat dari kepedulian terhadap keterbelakangan umat Islam yang disebabkan oleh sempitnya pola pikir dalam memahami agamanya, sehingga sistem pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan agama Islam tertinggal jauh dari bangsa non-muslim. Islamisasi disini cenderung mengembangkan pesan Islam dalam proses perubahan sosial, perkembangan IPTEK, adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dan proses modernisasi.

3. Neo-modernisme
Model ini berusaha memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Hadits dengan mempertimbangkan khazanah intelektual Muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan iptek.

D. Metode-metode Integrasi Ilmu dan Agama
Terdapat banyak sekali metode yang bisa mengintegrasikan ilmu dan agama, antara lain:

1. Menjadikan Al-Quran dan Hadits Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan
Menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai sumber ilmu pengetahuan dapat diposisikan sebagai sumber ayat-ayat qauliyyah sedangkan hasil penelitian, observasi, eksperimen dan penalaran-penalaran yang logis diletakkan sebagai sumber ayat-ayat kauniyyah. Ilmu  hukum misalnya, sebagai rumpun ilmu sosial maka dikembangkan dengan mencari penjelasan-penjelasan Al-Quran dan Hadits tentang hukum untuk disajikan sebagai ayat qauliyyah, sedangkan hasil-hasil penelitian melalui observasi, eksperimen, dan penalaran logis dijadikan sebagai ayat-ayat yang kauniyyah.

2. Memperluas Materi Kajian Agama Islam Dan Menghindari Dikotomi Ilmu
Sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri bahwa semua lembaga pendidikan Islam, baik di tingkat ibtidaiyah hingga sampai ke perguruan tinggi, juga yang terjadi di pondok pesantren, ketika orang menyebut pelajaran Agama, maka yang muncul adalah pelajaran tauhid, pelajaran fiqih, pelajaran akhlak, dan tasawuf, pelajaran Al-Quran dan Hadits, pelajaran tarikh dan bahasa arab. Demikian pula jika kita meninjau ke perguruan tinggi Agama Islam, maka yang datang dalam pikiran kita adalah adanya Fakultas Syari'ah, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab. Penyebutan hal yang demikian sesungguhnya bukanlah dikatakan keliru. Namun, persoalannya adalah bahwa selama ini telah dipahami bahwa ajaran Islam itu bersifat Universal. Oleh karenanya jika kajian Islam hanya sebatas persoalan iman, fikih dan akhlak, maka akan timbul pertanyaan dimana sesunggunhnya letak ke Universalan ajaran Islam itu.

3. Menumbuhkan Pribadi Yang Berkarakter Ulul Albab
Istilah Ulul Albab adalah merupakan bahasa Al-Quran, maka untuk memahaminya kita membutuhkan kajian-kajian yang mendalam terhadap nash-nash yang berbicara tentang Ulul Albab tersebut, baik dari segi makna lughawi maupun kandungan kesan dan pesan makna yang terdapat didalamnnya.

4. Menelusuri Ayat-Ayat Al-Quran Yang Berbicara Tentang Sainss
Menelusuri ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang sainss adalah merupakan bentuk langkah yang sangat vital untuk terintegrasinya sainss dan Islam. Seterusnya bahwa kebenaran Al-Quran itu merupakan relevan dengan ilmu pengetahuan (sainss) yang saat ini sangat pesat berkembang. Sebagai contoh ayat Al-Quran yang berbicara tentang Sainss dapat disimak dari surah an-Nahl ayat 66 disebutkan yang artinya: "Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya".

5. Mengembangkan Kurikulum Pendidikan
Dari hasil kajian berbagai disiplin ilmu dan pendekatan, tampaknya ada kesamaan pandangan bahwa segala macam krisis itu berpangkal dari krisis akhlak dan moral, krisis spiritual. Anehnya, krisis ini menurut sebahagian pihak disebabkan karena keterpurukan dan kegagalan pendidikan Agama (Tim Penyusun, 2004). Padahal, itu hanyalah bentuk mengkambing hitamkan Agama, bukankah permasalahan semestinya ditangani secara bersama. Mengutip apa yang ditawarkan oleh Ahmad Barizi, untuk mengintegrasikan sainss dan Islam dalam kurikulum pendidikan di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) yakni, sebuah tawaran kurikulum, Kurikulum Berbasis Integrasi Sainss dan Islam (KBISI).

E. Konsep Wahyu Memandu Ilmu
Konsep “Wahyu Memandu Ilmu” (di singkat WMI) dianut oleh UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung sejak tahun 2008. Konsep ini lahir dari suatu proses intelektual yang cukup panjang. Proses tersebut kurang lebih dimulai sejak tahun 2002 hingga tahun 2007. Baru  pada tahun 2008, konsep WMI mulai disisipkan dalam visi UIN SGD Bandung. Ada sejumlah pemikir yang secara intens menekuni proses intelektual ini, yaitu Ahmad Tafsir, Nanat Fatah Natsir, dan Juhaya S. Praja (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) serta Herman Soewardi (Universitas Padjajaran Bandung).
1. Metaforis
Pendekatan pertama adalah pendekatan metaforis. Pendekatan metaforis terhadap WMI adalah suatu proses, cara, usaha, metode dan perbuatan dengan menggunakan kata atau kelompok kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan penggambaran berdasarkan persamaan atau perbandingan atas sesuatu, dalam hal ini roda yang bertujuan mencapai pengertian tertentu tentang wahyu memandu ilmu. Karena metafora tersebut dilambangkan melalui roda maka disebut Metafora Roda Wahyu Memandu Ilmu (MR-WMI).
2. Filosofis
Pendekatan filosofis terhadap WMI adalah suatu proses, cara, usaha, metode dan perbuatan berdasarkan filsafat dengan tujuan mencapai pengertian wahyu memandu ilmu secara sistematis, kritis, reflektif dan radikal. Pendekatan ini disebut dengan Filsafat Wahyu Memandu Ilmu (F-WMI).
3. Piramida Sufistik
Pendekatan sufistik berpegang pada prinsip “semua jalan menuju Tuhan”. Alam tidak tunggal, tidak semata-mata inderawi atau rohani. Alam tersusun dari suatu struktur; thabiat (inderawi), Kursi, ‘Arasy, Lauh Mahfudz, Qalam, Shifat, dan Dzat. Di balik alam fisik terdapat alam yang lebih luas yaitu alam al-mitsal, di atasnya terdapat (ruhani) alam al-jabarut. Jadi, hal utama dari pandangan dunia sufistik adalah tauhid; sebagai sumber, penyebab, penyerta proses dan tempat kembali. Dari kepercayaan tentang Tuhan ini muncul hierarki realitas yang juga akan berujung pada sebab immaterial dari segala yang terjadi dalam semesta alam fisik, yakni Tuhan itu sendiri.
4. Sainstifik
Pendekatan sainstifik digunakan untuk menjelaskan pergeseran posisi Ilmu Agama (Islam) sebagai salah satu rumpun ilmu menjadi “payung ilmu” yang konsepnya telah diuraikan dalam filsafat wahyu memandu ilmu. Pasal 10 UU No. 12 Tahun 2012 tentang Rumpun Ilmu menunjukkan bahwa ilmu-ilmu yang ada dibagi ke dalam enam rumpun ilmu, di mana ilmu agama adalah salah satunya.

F. Kesimpulan
Ketika membicarakan tentang integrasi antara ilmu dan agama maka kata yang sangat berkaitan erat adalah “Islamisasi” atau pengislaman, dimana objek pengislamannya adalah manusia. Sedangkan apabila pengislaman pada ilmu pengetahuan, menghendaki adanya hubungan timbal balik antara realitas dan aspek kewahyuan, dalam hal ini setiap umat Islam dalam memahami nilai-nilai kewahyuan harus memanfaatkan ilmu pengetahuan, bila tidak memanfaatkannya maka umat Islam akan tertinggal dari umat-umat beragama lainnya. Karena realitasnya, ilmu pengetahuanlah yang membuat peradaban umat manusia berkembang. Agama pun ikut berperan serta dalam membantu ilmu pengetahuan (sainss) agar tetap bersikap manusiawi, dan selalu menyadari persoalan-persoalan konkret yang mesti dihadapi. Agama bisa selalu mengingatkan bahwa ilmu bukanlah satu-satunya jalan menuju kebenaran dan makna terdalam dari kehidupan.
Untuk itu praktik pendidikan Islam harus mengembangkan integrasi ilmu untuk menjadikan pendidikan lebih menyeluruh (integral holistik). Karena pada hakikatnya, Islam tidak pernah mengenalkan istilah dualisme-dikotomik keilmuan seperti itu. Dua macam keilmuan; umum dan agama, ditempatkan pada posisi dan porsi yang berimbang sebagaimana fiman Allah SWT dalam Q.S. Al-Qashash : 77.
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ  ٧٧
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. 28 : 77)
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو النُّعْمَانِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يُذْهَبَ بِأَصْحَابِهِ عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَتَى يُفْتَقَرُ إِلَيْهِ أَوْ يُفْتَقَرُ إِلَى مَا عِنْدَهُ إِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ أَقْوَامًا يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ يَدْعُونَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَقَدْ نَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ
“Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Harb dan Abu An Nu'man dari Hamad bin Zaid dari Ayub dari Abu Qilabah ia berkata; Ibnu Mas'ud pernah berkata; “Hendaklah kalian mempelajari ilmu sebelum dicabut. Dan, dicabutnya ilmu dengan cara meninggalnya ulama. Hendaklah kalian menjadikan ilmu Sebagai perbekalan, sebab salah seorang diantara kalian tidak pernah tahu, kapan ia membutuhkannya. Sesungguhnya kalian akan menemui satu komunitas yang mengklaim diri mereka mengajak kalian kepada Al Qur`an, padahal mereka telah meletakkan Al Qur`an di belakang punggung mereka (meninggalkan Al Qur`an). Karena itu, bekalilah kalian semua dengan ilmu. Tinggalkanlah bid'ah, bersilat lidah dan sikap sering mengada-adadan melampui batas hingga masalah menjadi rumit. Dan, berpegang teguhlah kepada sunnah dan atsar". (H.R. Ad-Darimi No. 143).
Selain itu ada ungkapan yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i Rahimahullah yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam Muqaddimah kitab Al-Majmu, yaitu:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الْأَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa ingin merengkuh (mencapai kepentingan) dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa ingin merengkuh akhirat, maka dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin merengkuh dua-duanya, maka dengan ilmu.”

Daftar Pustaka
Fiteriani, Ida. “Analisis Model Integrasi Ilmu dan Agama dalam Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah Dasar Islam Bandar Lampung” Vol 1, No 2 (2014). https://doi.org/10.24042/terampil.v1i2.1314.
Gofur, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Insan Media Group, 2010.
Hamdan Husein Batubara. “Metode dan Model Integrasi Sains dan Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam,” 2016. https://doi.org/10.13140/rg.2.2.24112.66563.
Mujib, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.
Nata, Abuddin. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.
Natsir, Nanat Fatah. Pengembangan Pendidikan Tinggi dalam Perspektif Wahyu Memandu Ilmu. Bandung: Gunung Djati Press, 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar