Oleh
H. Ma'mun Zahrudin
Sahabat, betapa banyak sekali fenomena dimana ide ide universal Islam, yang penuh dengan pintu pintu keselamatan, kebahagiaan, keberkahan, ternyata dibelokkan menjadi sesuatu yang beringas, menakutkan, bahkan menjadi sesuatu yang menjijikan di masyarakat.
Konsep Konsep seperti syahadat, jihad, syariat Islam, taslim, bay’at dan lain sebagainya, dianggap sebagai sesuatu yang "berbahaya" bagi umat Islam itu sendiri.
Padahal secara aslinya, konsep konsep tersebut sangat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Banyak sekali logika-logika dibuat secara rasional-empirik untuk meyakinkan, bahwa konsepsi Islam sangatlah berbahaya, padahal sesungguhnya itu hanyalah pemutar balikan belaka.
Dalam benak kita, tidak ada konsepsi Tuhan yang salah, yang salah adalah “manusianya” yang salah dalam menafsir ayat Tuhan.
Betapa banyak sekali yang kita lihat, sejarah Islam yang dibelokkan, sehingga keluar dari "track" yang sebenarnya. Betapa banyak frame berpikir yang salah terhadap Islam, dijadikan sebagai model sampel, padahal itu sangatlah tidak tepat.
Betapa banyak gerakan “buatan” yang sengaja disodorkan ke gelanggang masyarakat, hanya sekedar untuk merasionalkan bahwa konsepsi Islam adalah buruk.
Betapa banyak sejarah keislaman konteks keindonesiaan, yang dibalik menjadi sesuatu yang menyeramkan bahkan menjadi bias. Yang bersejarah jadi tidak bersejarah, yang seharusnya tidak menyejarah malah jadi sejarah.
Pembolakbalikkan kebenaran menjadi santapan bahkan “ngerinya” adalah “dibela” oleh sebagian yang mengaku intelektual Islam itu sendiri.
Banyak sekali kepentingan politik, yang tidak menginginkan konsepsi Islam ini tegak di masyarakat. Menjadi buruk, menjadi kuno, Seperti ada kepentingan untuk "dipadamkan" supaya tidak "mengendap" dalam sanubari masyarakat.
Konsepsi Islam yang begitu besar, universal bahkan mendunia, malah disudutkan menjadi konsep yang "kuno", "tertinggal" bahkan "menjijikan" bahkan “mendekatpun” menjadi semacam traumatic.
Kita sebagai bagian kecil dari akademisi merasa "resah". Setidaknya walau merasa banyak kekurangan, tapi kita merasa ada semacam "konspirasi" dalam menutup konsepsi Islam yang sebenarnya.
Bahkan yang aneh adalah, agen agen dari "pemadam cahaya Allah itu" adalah akademisi akademisi Islam itu sendiri, yang merasa "pongah" dengan konsepsi "kelirunya".
يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).
Ide ide "pemadaman" logika keberagamaan malah disponsori oleh akademisi Islam sendiri yang nyata nyata seharusnya berbuat sesuai track, malah menjadi agen "pembusukkan" konsepsi Islam yang universal itu sendiri.
Berkaca dari Dialog Ibrahim, baik dengan Azar (bapaknya) maupun dengan Namrudz, dimana Ibrahim sebenarnya mematahkan opini public, yang "melenceng" tentang "ketuhanan" (Asy-Syuara 69-86). Ibrahim berhasil mematahkan opini public yang "salah" selama berabad abad (al-Baqarah ayat 258), sehingga akhirnya, kekalahan logika rasional rezim Namrudz, menghukumnya dengan "hukuman mati" yaitu "hukuman bakar" hidup hidup.
Banyak sekali pelajaran pelajaran dari dua orang uswah kita, yaitu Kangjeng Nabi Muhammad Saw dan Kangjeng Nabi Ibrahim As. yang sangat menginspirasi bagi kita.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia
Nabi Muhammad, saat di Medinah, tidak melulu sibuk dalam membuat "pasukan" perang, tetapi sibuk juga dengan membuat opini opini public, yang "membalikkan logika" masyarakat Mekkah, sehingga akhirnya menjadi lemah bahkan terasa seperti "rumah laba laba".
Sahabat,... khususnya yang akademisi, marilah berjuang untuk perbaiki kekeliruan di masyarakat. Tampakanlah konsepsi Islam yang sebenarnya, konsepsi sejarah Islam yang sebenarnya. Jangan diam dan takut untuk ungkap kebenaran, sekalipun itu pahit.
Para akademisi, akan berdosa jika hanya diam ketika kebenaran ditutup, mengetahui bahwa kebenaran disembunyikan, namun tidak empati, sangat berdosa jika duduk manis, sebatas mengajar kemudian pulang ke rumah tanpa “rasa berdosa”.
Berjuanglah wahai akademis, berikan "counter attack" terhadap masyarakat, bahwa Islam itu sangat menghormati kemanusiaan, sangat baik, sangat mulya, sangat mendambakan masyarakat dan negara yang bertauhid.
Jangan sampai kalian diam!, merasa "nyaman" dengan "bangku kursi" universitas, dengan bangga menggunakan baju baju toga, selfi ketika mewisuda atau mengisi seminar, tanpa merasa berdosa ketika ada konsepsi Islam, yang ditindas, dibelok arahkan, digiring menjadi konsepsi yang "menjijikkan".
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah: 15)
Bangkitlah untuk sampaikan ide ide Islam yang sungguh memulyakan, beranilah untuk meluruskan kesalahpahaman tentang konsepsi Islam, "counter attacklah" ide ide yang berusaha menutupi kebenaran Islam.
Konsepsi Ilmiah, bukan sekedar berlaku dalam epistimologi kampus, tapi juga gunakan untuk "melawan, meluruskan" konsepsi yang salah terhadap Islam.
Gunakan penamu, gunakan jurnalmu, gunakan media ilmiahmu, untuk menjadikan Islam itu lebih mulia, dan membersihkan konsepsi Islam yang salah.
Jangan sampai kalian diam, bersikap apatis, bersikap acuh, ketika epistimologi Islam ditutupi, di "dzalimi" dibelokkan menjadi sesuatu yang "jijik" karena ketika kalian diam maka kefasikan adalah predikat yang akan menempel pada diri kalian.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah: 159)
Mari sebisa mungkin, mengenalkan Islam yang sebenarnya, mengenalkan sejarah Islam yang sebenarnya, mengenalkan sejarah Islam Indonesia yang sejujurnya.
Itulah "jihad" kalian sebagai akademisi.
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar